Como Tak Gentar Dihukum UEFA usai Gelontorkan Rp7 Triliun, Mirwan Suwarso: Kalau Mau Denda, Denda Saja - Semua Halaman - Bolasport
.com
Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers
Rabu, 12 Agustus 2026 | 14:20 WIB
BOLASPORT.COM - Presiden Como 1907 asal Indonesia, Mirwan Suwarso, memberikan tanggapan santai terkait topik soal ancaman sanksi Financial Fair Play (FFP) dari UEFA. Sikap tersebut diambil setelah klub menggelontorkan dana fantastis untuk memboyong pemain dalam tiga musim terakhir.
Como 1907 menjadi fenomena baru yang mencuri perhatian publik sepak bola Italia maupun Eropa.
Pasalnya, sepak terjang klub yang disokong Djarum Group ini dinilai sangat luar biasa.
Setelah berhasil mengamankan tiket promosi ke Serie A pada musim 2024-2025, performa mereka terus meroket.
Puncaknya, Como 1907 sukses mengamankan tiket ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam sejarah klub pada musim 2026-2027.
Kesuksesan di lapangan tak lepas dari langkah agresif manajemen dalam memperkuat kedalaman skuad.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, Como telah membelanjakan dana sebesar 342 juta euro (sekitar Rp7,03 triliun) khusus untuk mendatangkan pemain baru sejak kembali ke kasta tertinggi Liga Italia.
Angka raksasa tersebut bahkan belum mencakup pengeluaran gaji pemain, renovasi fasilitas latihan di Mozzate, serta proyek modernisasi Stadion Giuseppe Sinigaglia senilai 64 juta euro agar memenuhi standar UEFA.
Pada musim perdana mereka kembali ke Serie A atau periode 2024-2025, I Lariani menginvestasikan 110 juta euro sebagai fondasi awal.
Baca Juga: Bicara Peluang Juara Liga Italia Masih Terlalu Dini, Como Pilih Tetap Membumi
Sejumlah pembelian mahal dilakukan, seperti Maxence Caqueret dari Lyon (15 juta euro), Anastasios Douvikas dari Celta Vigo (14 juta euro), dan Assane Diao dari Real Betis (12 juta euro).
Pada periode yang sama, Como juga jeli mendaratkan pemain murah yang kini menjadi tulang punggung tim, seperti Nico Paz (6 juta euro), Marc-Oliver Kempf (2,5 juta euro), dan Jean Butez (2,1 juta euro).
Kendati begitu, tak semua rekrutan berbuah manis.
Nama-nama seperti Alberto Dossena (9,5 juta euro), Yannik Engelhardt (8 juta euro), Fellipe Jack (5 juta euro), hingga Andrea Belotti (4 juta euro) gagal memberikan dampak untuk tim.
Agresi transfer Como berlanjut pada musim 2025-2026 dengan gelontoran dana mencapai 105 juta euro.
Salah satu investasi terbesarnya adalah Jesus Rodriguez dari Real Betis seharga 22,5 juta euro, yang kemudian tampil impresif lewat torehan 2 gol dan 9 assist dalam 31 pertandingan di Liga Italia.
Selain Rodriguez, Como juga memboyong Nicolas Kuhn seharga 19 juta euro meski performanya belum secerah Nico Paz dkk.
Rekrutan paling sukses pada musim tersebut adalah Martin Baturina dari Dinamo Zagreb seharga 18 juta euro.
Baca Juga: Tepis Rumor Beli Penyerang Buangan Juventus, Como Tegaskan Hanya Kagum
Baturina menjelma menjadi pilar penting di lini tengah dan mulai diburu klub-klub raksasa Eropa.
Memasuki bursa transfer musim panas ini, Como bahkan memecahkan rekor belanja terbesar sepanjang sejarah klub dengan mengeluarkan dana hingga 127 juta euro.
Salah satu pilar mahal yang mereka datangkan adalah Trevoh Chalobah dari Chelsea dengan nilai transfer mencapai 30 juta euro.
Pengeluaran yang tergolong masif bagi klub semenjana membuat keuangan Como mulai masuk dalam radar pengawasan UEFA terkait potensi pelanggaran regulasi FFP.
Klub asal Lombardia tersebut berisiko terkena sanksi apabila terbukti mencatatkan beban pengeluaran yang jauh melebihi ambang batas pendapatan resmi klub.
Menanggapi ancaman regulasi finansial tersebut, Mirwan Suwarso mengaku sudah memprediksinya sejak awal.
Ia tidak gentar dan menyatakan siap menerima konsekuensi berupa denda jika UEFA menilai klubnya melakukan pelanggaran.
Mirwan menilai aktivitas transfer dilakukan dengan perencanaan matang dan senantiasa memegang prinsip berkelanjutan dari klub.
"Saya tidak perlu UEFA untuk memberi tahu saya tentang hal itu," ujar Mirwan dikutip dari La Gazzetta dello Sport.
"Jika mereka harus mendenda kami, denda saja."
"Itu adalah bagian dari rintangan yang harus kami atasi dan konsekuensi normal dari proses ini," tutur pria kelahiran Taman itu menambahkan.