Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Piala Dunia Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial Timnas Argentina

    Petisi Larang Argentina Tampil di Piala Dunia Diklaim Tembus 23 Juta Tanda Tangan, Usai Final Kontroversial Kontra Spanyol - Jawa Pos

    4 min read

     

    Petisi Argentina Out diklaim mengumpulkan 23 juta tanda tangan usai Piala Dunia 2026, tetapi tidak berdampak pada keputusan FIFA. (Bein Sports)

    JawaPos.com - Sebuah petisi daring yang menyerukan agar Argentina dilarang tampil di Piala Dunia secara permanen diklaim mengumpulkan lebih dari 23 juta tanda tangan usai Piala Dunia 2026. Namun, petisi tersebut tidak memiliki dampak hukum maupun pengaruh terhadap status Argentina di kompetisi FIFA.

    Sebuah petisi daring yang menyerukan agar Argentina dilarang tampil di Piala Dunia secara permanen diklaim berhasil mengumpulkan lebih dari 23 juta tanda tangan hanya dalam waktu kurang dari sepekan.

    Petisi bertajuk "Argentina Out" itu disebut memperoleh 23.316.108 tanda tangan dari 170 negara. Angka tersebut jauh melampaui target awal lima juta tanda tangan dan menjadikannya salah satu petisi daring paling banyak dibagikan dalam sejarah.

    Gerakan tersebut muncul di tengah panasnya suasana Piala Dunia 2026. Para penggagas menuduh FIFA dan perangkat pertandingan bersikap tidak adil terhadap Argentina dan kapten mereka, Lionel Messi. Tuduhan tersebut sebelumnya telah dibantah FIFA.

    Melansir TalkSport, isi petisi tersebut berbunyi:

    "Mengapa tim-tim lain harus bermain di turnamen jika pemenangnya sudah diketahui sebelumnya?"

    "Singkirkan Argentina dari Piala Dunia dan berikan kesempatan yang adil kepada semua orang."

    Ironisnya, Argentina justru gagal mempertahankan gelar setelah kalah 0-1 dari Spanyol pada partai final. Lionel Messi meninggalkan lapangan dengan air mata, mengakhiri turnamen yang emosional bersama tim nasional.

    Setelah kompetisi berakhir dan berbagai kontroversi mereda, petisi tersebut resmi ditutup. Halaman resminya kini hanya menampilkan pesan singkat:

    "FIFA mengabaikan kami tetapi Spanyol memberikan hasil. Terima kasih, Spanyol."

    Hampir Pecahkan Rekor Dunia

    Dengan jumlah lebih dari 23 juta tanda tangan, petisi tersebut nyaris memecahkan Rekor Dunia Guinness sebagai petisi terbesar yang pernah dibuat.

    Rekor tersebut masih dipegang gerakan Jubilee 2000 yang berhasil mengumpulkan 24.319.181 tanda tangan dari 166 negara dalam kampanye penghapusan utang negara-negara miskin sebelum diserahkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2000.

    Meski demikian, besarnya jumlah dukungan tidak memberikan konsekuensi apa pun terhadap keikutsertaan Argentina di ajang internasional.

    FIFA tidak pernah menanggapi tuntutan tersebut, dan petisi daring semacam ini tidak memiliki kekuatan hukum maupun kewenangan untuk memengaruhi status sebuah negara dalam kompetisi resmi.

    Artinya, Argentina tetap akan tampil pada Piala Dunia 2030 sebagai salah satu tuan rumah turnamen yang menggunakan format baru dengan 64 peserta.

    Muncul Petisi Tandingan dari Argentina

    Di sisi lain, para pendukung Argentina juga membuat petisi tandingan setelah kekalahan di final.

    Lebih dari 80.000 orang dilaporkan menandatangani petisi yang meminta agar pertandingan final diulang karena dianggap diwarnai keputusan wasit yang tidak adil.

    Petisi tersebut dibuat oleh Gisela Sanchez melalui platform Change.org dan menuduh wasit memengaruhi hasil pertandingan.

    Dalam petisinya tertulis:

    "Final baru-baru ini antara Argentina dan Spanyol ternoda oleh kinerja wasit yang kontroversial dan korup yang, menurut bukti video, disuap untuk memengaruhi hasil pertandingan."

    "Ini adalah kekecewaan besar bagi para pemain, pelatih, dan, yang terpenting, bagi para penggemar yang mendambakan pertandingan yang ditentukan oleh bakat dan dedikasi di lapangan, bukan oleh keputusan wasit yang curang."

    "Jika kita membiarkan korupsi tidak terdeteksi di panggung global ini, kita memberikan contoh buruk bagi generasi atlet dan penggemar di masa depan."

    "Oleh karena itu, kami meminta FIFA untuk meninjau insiden-insiden ini dengan serius dan transparan, serta mempertimbangkan untuk mengulang pertandingan final, kali ini tanpa pengaruh wasit yang korup."

    Namun, seperti halnya petisi yang menyerukan larangan terhadap Argentina, tuntutan tersebut juga tidak disertai bukti yang telah diverifikasi dan tidak memiliki dampak hukum maupun olahraga.

    Hasil final tetap sah. Spanyol resmi menjadi juara dunia, sementara Argentina dipastikan tetap menjadi peserta Piala Dunia edisi berikutnya.

    Komentar
    Additional JS