Sosial Media
Live Skor Bola - Flashscore
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Atik Jauhari Berita Bulu Tangkis Bulu Tangkis indonesia Bulu Tangkis Olimpiade Featured Juara Lintas Peristiwa Olimpiade Spesial

    Aktor di Balik Sejarah Ganda Putra Raih Emas Pertama di Olimpiade Meninggal Dunia, Atik Jauhari Berpulang - Semua Halaman - Bolasport

    4 min read

     

    BOLASPORT.COM - Mantan pemain dan pelatih Pelatnas PBSI, Atik Jauhari, meninggal dunia pada usia 77 tahun pada Minggu (8/11/2026).

    Atik Jauhari wafat pada pukul 02.49 WIB di Rumah Sakit Mayapada, Tangerang Kota karena sakit yang dideritanya.

    Jenazahnya kemudian akan dikebumikan di pemakaman keluarga di Cipondoh, Kota Tangerang pada Minggu siang, berangkat dari rumah duka, Jalan Sukabakti VI No. 29, Kota Tangerang.

    Hingga akhir hayatnya, Atik Jauhari meninggalkan seorang istri, Hj. Neng Titi dan empat anak, serta lima cucu.

    Berpulangnya Atik Jauhari telah dikonfirmasi oleh Ketua Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI) Hariyanto Arbi.

    "Betul, Kak Atik Jauhari wafat Minggu (8/11) pagi ini. Kami keluarga besar KBI ikut berduka cita dan merasa kehilangan dengan berpulangnya salah satu pahlawan bulutangkis nasional tersebut," kata Hariyanto Arbi.

    "Saya turut berduka cita yang mendalam atas wafatnya Kak Atik. Kak Atik adalah pelatih bertangan dingin yang bekerja dalam senyap, ulet, tekun, dan memiliki instink tajam untuk melihat potensi masing-masing pemain dan kemudian bisa menyatukan menjadi pasangan ganda yang berprestasi."

    "Berkat polesan Kak Atik, saya akhirnya bisa berprestasi di level dunia," kenang Candra Wijaya, salah satu pemain didikan Atik Jauhari.

    Atas dedikasi dan prestasi Atik Jauhari di pentas bulutangkis, Candra Wijaya lewat Daihatsu Yonex-Sunrises Candra Wijaya International Badminton Centre memberikan penghargaan sebagai Pelatih Terbaik 2023 versi DYSCWIBC.

    Prestasi Atik Jauhari sebagai pemain bulutangkis memang tidaklah meroket. Dalam catatan kariernya, tidak banyak prestasi fenomenal. Baik itu di level nasional maupun internasional.

    Baca Juga: Motivasi Jonatan Christie Donasikan Seluruh Bonus Asian Games dari Pemerintah untuk Bencana Karhutla

    Salah satu prestasi yang bisa disebut, di antaranya bersama Christian Hadinata, Atik menjadi juara Kejuaraan Nasional 1971 di Yogyakarta.

    Adapun prestasi internasionalnya bisa dicatat dengan menjuarai Belgia International 1973 pada sektor tunggal putra dan ganda putra bersama Tatat Budiman.

    Sebagai pelatih, tokoh kelahiran Bandung, 14 Agustus 1949 ini layak dicatat dengan tinta emas. Setelah gantung raket, dalam usia 25 tahun sudah Atik menjadi pelatih tim nasional di pelatnas.

    Dia memoles pemain dari era Liem Swie King, Bobby Ertanto hingga munculnya ganda-ganda tangguh Indonesia di tahun 1990-an.

    Atik memang memiliki pengalaman panjang sebagai juru latih. Atik pada awalnya melatih di Pelatnas PBSI 1974-1999, kemudian dia memutuskan pindah untuk menukangi Swedia pada 1999-2004. Setelah lima tahun, dia kembali lagi ke Tanah Air pada tahun 2004.

    Hanya bertahan dua tahun, pada 2006 dia kembali mengembara dengan menjadi pelatih bulutangkis di Thailand hingga 2008.

    Selanjutnya pada 2009-2010, Atik pindah melatih ke India. Dengan kiprah tersebut telah menjadikan Atik sebagai pelatih yang disegani di level internasional.

    Sebagai pelatih Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur, Atik juga bertangan dingin bersama Christian Hadinata yang dipercaya untuk menukangi sektor ganda putra.

    Saat itu, di pelatnas di antaranya diperkuat Eddy Hartono, Gunawan, Ricky Soebagdja, Rexy Mainaky, Imay Hendra, Bagus Setiadi, Denny Kantono, Antonius Budi Ariantho, Rudy Wijaya, Tony Gunawan, Candra Wijaya hingga Sigit Budiarto.

    Potensi para pemain ganda ini pun berkembang pesat. Bukan semata-mata karena kualitas dan kemampuan individunya bagus, tetapi juga berkat kejelian, racikan dan polesan duet pelatih, Atik Jauhari dan Christian Hadinata.

    Berkat sentuhan kedua mentor ini, prestasi para pemain ganda ini mampu meroket dan kelak menguasai panggung bulu tangkis dunia.

    Sebagai contoh, Ricky/Rexy begitu mendominasi pentas bulutangkis dunia di tahun 1996-an. Itu semua berkat sentuhan magis Atik dan Christian.

    Ricky/Rexy kemudian menjadi ganda putra Indonesia pertama dalam sejarah berhasil merebut medali emas Olimpiade Atlanta 1996, juga karena polesan Atik dan Christian.

    Begitu pula dengan Candra Wijaya bareng Sigit Budiarto dan Tony Gunawan. Candra/Sigit diantarkan Atik dan Christian menjadi juara dunia 1997 di Glasgow.

    Lalu, Candra yang diduetkan dengan Tony dan sukses meraih gelar juara All England 1999 juga berkat kejelian Atik dalam memasangkan pemain.

    Ketika tim putra Indonesia mendominasi bulutangkis dunia dengan memboyong Piala Thomas 1994 di Jakarta, 1996 dan 1998 di Hong Kong, juga berkat kepiawaian Atik sebagai juru latih.

    Menurut Atik dalam sebuah kesempatan, dengan banyaknya pelatih Indonesia yang melatih di luar negeri, hal itu semakin menancapkan citra Indonesia sebagai penguasa bulutangkis dunia.

    Atik pun mengibaratkan Indonesia itu seperti kekuatan Brazil di sepakbola.

    Komentar
    Additional JS