Singgung Timnas Indonesia, Pakar AS Peringatkan Malaysia soal Penunjukan Hajime Moriyasu - Semua Halaman - Superball
Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:44 WIB
Pelatih timnas Jepang, Hajime Moriyasu (kanan), saat hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (15/11/2024). (MUHAMMAD ALIF AZIZ MARDIANSYAH/BOLASPORT.COM)
SUPERBALL.ID - Pakar sepak bola asal Amerika Serikat memperingatkan bahwa penunjukan Hajime Moriyasu sebagai pelatih tim nasional tidak akan memperbaiki sepak bola Malaysia.
Peringatan tersebut muncul setelah adanya laporan yang mengaitkan Hajime Moriyasu dengan posisi pelatih Timnas Malaysia.
Rumor tersebut terus mencuat meski Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) membantah adanya pendekatan dengan sang pelatih.
Rumor ini tidak lepas dari fakta bahwa Moriyasu akan segera mengakhiri masa jabatannya sebagai pelatih Timnas Jepang.
Baca Juga: Madam Pang Buka Suara soal Keputusan Pilih Brunei Jadi Pesaing Calon Lawan Timnas Indonesia
Piala Asia 2027 di Arab Saudi pada awal tahun depan dipastikan akan menjadi turnamen terakhir Moriyasu bersama tim Samurai Biru.
Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) bahkan telah mengumumkan Go Oiwa sebagai pengganti Moriyasu setelah turnamen tersebut.
Menanggapi penunjukan Moriyasu, Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Dr. Taufiq Johari mengaku akan mengadakan diskusi dengan FAM.
"Hal ini masih dalam tahap pembahasan," kata Taufiq, dikutip SuperBall.id dari New Straits Times.
"Kami akan mengadakan diskusi dengan FAM dan semua pemangku kepentingan yang terlibat karena hal terpenting adalah memastikan bahwa hal ini memberikan hasil terbaik bagi negara."
"Kami akan melakukan penilaian menyeluruh berdasarkan kinerja, proses kerja, dan sebagainya, sebelum mengambil keputusan dan mengumumkannya," tambahnya.
Di sisi lain, pakar sepak bola asal Amerika Serikat Tom Byer memperingatkan Malaysia agar tidak bergantung pada penunjukan pelatih ternama.
Menurutnya, pengembangan pemain muda jangka panjang adalah kunci untuk membangun tim nasional yang lebih kuat.
Byer mengatakan bahwa pelatih baru mungkin akan membawa hasil jangka pendek sembari menyinggung Timnas Indonesia.
Namun, pria yang dikenal karena kiprahnya di sepak bola akar rumput itu menilai pelatih baru tidak akan mengatasi masalah struktural yang lebih dalam.
Baca Juga: Ditolak 6 Negara, Kronologi Calon Lawan Timnas Indonesia Pilih Brunei Jadi Pengganti Bahrain
"Ketika Malaysia, Indonesia, dan negara-negara lain akhirnya menyadari bahwa mengganti pelatih tim nasional mungkin mengubah hasil turnamen, tetapi menerapkan strategi pengembangan pemain muda yang tulus dapat mengubah seluruh generasi pemain, mereka akan berada di jalur yang benar," tulis Byer di X.
Byer juga mempertanyakan apakah mempekerjakan pelatih Jepang akan berhasil dengan adanya perbedaan bahasa.
"Percaya bahwa masalahnya hanyalah kepelatihan, dan bahwa mendatangkan pelatih Jepang untuk bekerja dengan pemain lokal dan keturunan melalui banyak penerjemah adalah solusinya, menunjukkan kesalahpahaman mendasar tentang apa yang dibutuhkan untuk mencapai kinerja tinggi dalam sepak bola."
"Pada titik ini, banyak strategi yang diterapkan di seluruh Asia Tenggara dan sekitarnya untuk meningkatkan sepak bola semakin sulit untuk dianggap serius."
"Ada alasan mengapa tidak ada negara yang pernah memenangkan Piala Dunia dengan pelatih kepala asing, budaya sepak bola itu penting," tulis Byer.
Menurut Byer, identitas sepak bola yang dibentuk oleh budaya, kepercayaan, dan nilai-nilai suatu bangsa adalah fondasi kesuksesan berkelanjutan.
"Identitas sepak bola suatu bangsa, yang dibentuk oleh budaya, kepercayaan, nilai-nilai, dan pendekatannya dalam mengembangkan pemain, adalah salah satu fondasi terpenting dari kesuksesan yang berkelanjutan."
"Negara-negara sepak bola terkuat akan terus menjadi negara-negara yang mengembangkan identitas dan gaya bermain domestik yang jelas, yang berakar pada atribut budaya mereka sendiri daripada diimpor dari tempat lain."
"Anda dapat mengimpor pelatih, filosofi, atau sistem taktik. Tetapi Anda tidak dapat mengimpor budaya sepak bola dalam semalam."
"Hal itu harus dibangun dari dalam, dimulai dari pengembangan kaum muda dan dipertahankan lintas generasi," tulis Byer.