Saat 135 Nama Korban Tragedi Kanjuruhan Kembali Hadir di Tengah Gemuruh Stadion... - Kompas,
KOMPAS.com – Di tengah riuh laga pekan keempat Super League 2026-2027 antara Arema FC melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC, Sabtu (10/10/2026) sore kemarin, sebuah pemandangan berbeda muncul dari Tribun 10 Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang.
Sebanyak 135 syal putih dibentangkan secara serentak oleh Aremania. Masing-masing memuat satu nama korban meninggal dunia dalam Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022 lalu.
Di hadapan mereka, sebuah spanduk hitam dengan tulisan putih menyampaikan pesan yang tidak kalah kuat.
"Mereka tidak pernah pulang tapi mereka akan selamanya dikenang"
Persib Bandung Epic Comeback! Libas Wakil Thailand Port FC 3-1 di ASEAN Club Championship
Baca juga: Hasil Arema Vs Bhayangkara FC 2-2, Kedua Tim Harus Puas Berbagi Poin
Selama sekitar lima menit memasuki babak kedua laga, para suporter tersebut mengangkat syal mengikuti satu komando melalui pengeras suara.
Setiap nama yang terangkat menjadi pengingat bahwa di balik angka 135, ada nyawa, keluarga, dan kisah yang tidak boleh dilupakan.
Koreo itu kemudian kembali dilakukan diatas tribune, usai laga Arema FC vs Bhayangkara FC yang berakhir dengan skor 2-2.
Baca juga: Rating Justin Hubner dan Ole Romeny Saat Fortuna Sittard Tahan Twente
Aksi itu dilakukan bersamaan dengan menyanyikan anthem yang menjadi tradisi klub bersama pemain, tim pelatih, ofisial dan manajemen Arema FC di tengah lapangan.
Lagu Malang Tanah Kejayaan mengiringi momen tersebut, sementara spanduk penghormatan tetap terbentang di tribune.
Berawal dari Forum Kecil Seusai Peringatan 1 Oktober
Bagi Aremania yang tergabung dalam Curva10Sud, aksi itu bukan sekadar pertunjukan di tengah pertandingan. Ada pesan tentang kehilangan, ingatan, dan harapan agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
Baca juga: League Cup 2026-2027, Arema FC Targetkan Prestasi Maksimal
Pentolan Aremania Curva10Sud, Khaidar, menjelaskan bahwa koreografi tersebut telah dipersiapkan setelah peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan.
"Untuk koreo kemarin sudah direncanakan karena masih dalam bulan Oktober yang kita peringati sebagai tragedi Kanjuruhan. Kebetulan lawannya juga Bhayangkara FC, jadi ada keterkaitannya dengan lawan," ujar suporter asal Kota Malang itu kepada Kompas.com
Gagasan itu muncul melalui diskusi sederhana antaranggota komunitas. Mereka ingin menghadirkan bentuk penghormatan yang berbeda dari spanduk pengingat yang selama ini rutin dipasang di pagar stadion.
Baca juga: KPU Solo Sebut Ijazah Gibran Sudah Diverifikasi, tapi Tidak Sampai Singapura
"Ide ini dari teman-teman sendiri setelah peringatan 1 Oktober lalu, kita bikin forum kecil untuk membuat pergerakan saat laga home di pekan keempat. Akhirnya ya kita bikin koreo membawa spanduk nama-nama dari 135 korban meninggal tragedi Kanjuruhan," kata Khaidar.

Lihat Foto
Seluruh kebutuhan koreografi dibiayai secara mandiri menggunakan uang kas komunitas dan proses pembuatannya pun dikerjakan bersama.
"Untuk persiapan kita bareng-bareng. Nge-print-nya kan pakai kain lembaran panjang, lalu di potongin jadi 135 buah," imbuhnya.
Baca juga: Wall Street Menguat Ditopang Saham Teknologi, Dow Jones Naik 400 Poin
Curva10Sud sendiri menjadi ruang berkumpul Aremania dari berbagai wilayah yang selama ini memberikan dukungan dari Tribune 10, ketika Arema FC menjalani laga kandang.
Bukan Sekadar Mengenang, tetapi Menolak Lupa
Empat tahun berlalu sejak malam kelam 1 Oktober 2022. Tragedi yang terjadi usai laga pekan ke-13 Liga 1 2022-2023 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya itu merenggut 135 nyawa dan menyebabkan ratusan orang luka-luka.
Peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam dalam sejarah sepak bola Indonesia. Penggunaan gas air mata oleh aparat keamanan menjadi salah satu faktor utama yang memicu kepanikan dan desak-desakan penonton saat berusaha menyelamatkan diri.
Hingga kini, upaya keluarga korban dan berbagai kelompok masyarakat untuk memperjuangkan keadilan masih terus berlangsung.
Baca juga: Kata Presiden FIFA tentang Sepak Bola Indonesia Usai Tragedi Kanjuruhan
"Ya untuk harapan perihal tersangka atau keputusan hukumnya bagaimana sekarang kita sudah memikirkan itu tapi harapan saat ini bagi kami semoga tragedi Kanjuruhan tidak pernah dilupakan selalu dikenang dan digaungkan serta menjadi tragedi terakhir di sepak bola," tutur Khaidar.
Menghormati Mereka yang Belum Siap Kembali ke Kanjuruhan
Tragedi Kanjuruhan turut mengubah hubungan sebagian Aremania dengan sepak bola. Ada yang memilih kembali mendukung langsung dari tribune, tetapi tidak sedikit yang masih membutuhkan waktu untuk menghadapi kenangan traumatis tersebut.
Curva10Sud memilih tetap mendampingi klub kebanggaannya Arema FC, termasuk ketika harus menjalani pertandingan kandang di luar Malang.
Baca juga: Bandara Riyadh Arab Saudi Diserang, 12 Orang Tewas dan 309 Terluka
"Kalau dari komunitas kita tidak pernah menepi dan tetap mendukung tim. Setelah tragedi pun saat harus menjalani laga usiran ke Bali dan Blitar kita selalu datang mendukung," kata Aremania asal Kota Malang itu.

Lihat Foto
Meski demikian, keputusan untuk kembali ke stadion tidak pernah menjadi kewajiban bagi seluruh anggota.
"Sedangkan untuk teman-teman lain kita juga tidak memaksakan, karena anggota kita sendiri ada banyak yang belum siap untuk kembali mendukung tim ke tribune dan kita tidak memaksa," sambungnya.
Baca juga: [POPULER GLOBAL] AS Sanksi ICC Usai Nobel Perdamaian | Penyebab Eksekusi Christa Pike Gagal
Khaidar mengungkapkan bahwa hampir seluruh anggota komunitasnya berada di Tribune 10 ketika tragedi terjadi. Mereka bersyukur tidak ada anggota komunitas yang menjadi korban meninggal dunia.
"Alhamdulilah tidak ada satu korban pun dari teman-teman kita," katanya lagi
Kanjuruhan Kembali Bergemuruh, Kenangan Tetap Dijaga
Kini, sudah dua musim Arema FC kembali bermain di Stadion Kanjuruhan. Hal ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi sebagian Aremania.
Baca juga: Dampak Penutupan TPA Piyungan, Pengangkut Sampah Swasta Kurangi Pelanggan hingga Beralih Profesi
Setelah beberapa musim harus menempuh perjalanan ke luar kota untuk mendukung tim, mereka kini bisa kembali menyaksikan langsung klub berjuluk Singo Edan itu di rumah sendiri.
"Ya dengan kembalinya bermain di Kanjuruhan itu adalah momen yang bahagia, karena sebelumnya klub harus main di luar Malang dan sekarang sudah tidak perlu jauh-jauh lagi," ujar Khaidar.
Selain itu di musim baru ini, ajang Super League 2026-2027 juga menyambut positif pelonggaran pembatasan atas kehadiran suporter tamu dalam laga tandang.
Baca juga: Unik, Restoran di Sentul Bogor Ini Tawarkan Pengalaman Makan di Tengah Sungai Saat Kemarau
"Setuju saja, ya memang sebagai suporter hidupnya kalau tidak nonton bola mau gimana. Untuk komunitas ini rencana away di musim ini terdekat pekan ke-5 dan 6 karena waktunya berdekatan," pungkasnya.
Setelah menjalani pekan ini Arema FC akan menjalani dua laga tandang berturut-turut ke Bekasi.
Pada pekan kelima, Arema FC akan melawan Garudayaksa FC disusul duel lawan Persija Jakarta pada pekan berikutnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
