Filosofi dan Model Permainan Timnas Indonesia di Tangan John Herdman - Kompas
KOMPAS.com - Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengutarakan secara mendalam konsep permainan yang ingin ia terapkan bersama skuad Garuda.
John Herdman mengidentifikasi beberapa hal krusial yang ingin ia terapkan ke skuad Garuda.
Filosofi permainan yang ia pakemkan tersebut juga melihat berbagai faktor setelah mempelajari secara seksama para pemain dan ekosistem sepak bola nasional.
Baca juga: Persib Tertahan, Kakang Rudianto Kena Kritik, Igor Tolic Pasang Badan
Hal tersebut ia utarakan saat KOMPAS.com bertanya mengenai model permainan, periodisasi taktis, dan filosofi seorang John Herdman.
Klub Eropa Beri Selamat Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup, Ada Juventus dan Man United
"Saya pikir ada konsep tentang 'whyness' (mengapa), 'howness' (bagaimana), dan 'whatness' (apa). 'Whyness' adalah memahami manusianya," ujar Herdman dalam wawancara eksklusif bersama KOMPAS.com di Jakarta pada Jumat (16/10/2026).
"'Whatness' adalah memahami model permainan dan keahlian teknisnya. 'Howness' adalah periodisasi taktis serta periodisasi fisiknya."
"Saya pikir pelatih harus hidup di titik temu ideal tersebut."
Baca juga: Kata John Herdman Soal Suksesi dan Pencarian Bakat bagi Timnas indonesia
Bangun Identitas Permainan Sendiri
Herdman mengatakan bahwa dirinya tak terpaku kepada gaya pelatih lain dalam menentukan identitas permainan.
Ia telah menetapkan bahwa dirinya tak ingin lagi jadi pelatih peniru.
"Saya mengambil keputusan pada usia 32 atau 33 tahun bahwa saya tidak akan lagi menjadi pelatih peniru," ujarnya menambahkan.
Baca juga: Maresca Ingin Man City Redam Suara Sumbang dengan Kemenangan
"Sepanjang karier, saya telah meniru, mengamati, dan belajar dari orang ini, belajar dari orang itu, mengambil dari sana dan sini, lalu mencoba membawa konsep saya sendiri.

Lihat Foto
Ia mengutarakan bahwa ada satu titik di mana dirinya menutup buku itu dan berkata bahwa ini saatnya menciptakan identitas dan gaya sendiri.
"Gaya itu selalu—baik di tim wanita maupun pria—tim yang agresif, dinamis, dan langsung (direct) atau ADD + A, yaitu adaptabel (adaptable), selalu mampu beradaptasi di dalam laga maupun antarpertandingan," ujarnya.
"Jadi Anda terus berkembang. Tidak diragukan lagi Anda berkembang."
Baca juga: Herdman Ungkap Penyebab Dean Zandbergen Sulit Bela Timnas Indonesia
"Ada elemen yang Anda lihat dalam sepak bola di mana Anda berpikir, dengan profil para pemain ini, kita bisa menambahkan sedikit elemen ini. Namun konsep ADD + A itu telah menjadi fondasi kerja saya."
Ia kemudian menjelaskan lebih lanjut soal prinsip lebih luas dalam permainannya.
"Ini adalah menyerang dengan bola dan menyerang tanpa bola. Tidak ada istilah bertahan. Ini hanya konsep bahwa kami selalu berusaha menjadi agresif, selalu memasang jebakan, selalu berusaha menekan, bahkan ketika tidak menguasai bola, kami menyerang dengan atau tanpanya," tuturnya.
Baca juga: Inter Harus Tunjukkan Nyali, Uang Tak Bisa Beli Gelar Liga Champions
"Anda mencoba menanamkan pola pikir proaktif pada para pemain."
Tantangan Menerapkan Gaya Bermain Skuad Garuda
Herdman juga mengatakan salah satu tantangan menerapkan gaya bermain skuad Garuda adalah kondisi di Jakarta yang terhitung memberikan tantangan bagi pemain-pemain berbasis di Eropa.
Namun, ia dan staf kepelatihannya terus berupaya mencari jalan keluar dari problem tersebut.
Baca juga: Pembelaan Elegan Kapten Persib Marc Klok untuk Kakang Rudianto
Oleh karena itu, ia mengutarakan bahwa dirinya bersama Cesar Meylan, kepala performa tim, sedang melihat semua data dari laga-laga Timnas di mana skuad Garuda mengalami penurunan performa sekitar menit ke-25 yang menjadi tantangan untuk menjaga intensitas tinggi, gaya agresif, dinamis, dan direct selama 90 menit lebih.
"Namun seperti yang saya katakan, sebagai prinsip inti, saya pikir apa yang kami inginkan untuk Indonesia adalah berkembang keluar dari gaya bertahan untuk melakukan serangan balik," uajrnya.
Baca juga: Saat Pemain Arema FC Buka Mata Mahasiswa soal Peluang Karier di Sepak Bola...
"Kami ingin bisa bergerak ke tingkat proaktivitas lebih tinggi, tetapi proaktivitas itu bukan tiki-taka, bukan gaya permainan Spanyol, karena pemain yang dibesarkan di Belanda, serta pemain yang lahir dan besar di Indonesia, tidak dibesarkan dalam budaya tersebut."
"Mereka memiliki gaya mereka sendiri. Jadi bagi saya, sebagian besar dari ini adalah mencoba memahami seperti apa para pemain ini, apa yang saya lihat sebagai pemahaman taktis tinggi pada pemain yang dibentuk di Eropa, dan kebebasan berekspresi tinggi pada pemain yang dibentuk di Indonesia."
Berbeda Apabila Melawan Jepang atau Korea
Namun, Herdman juga mengatakan ketika Timnas bertarung melawan Jepang atau Korea Selatan, cara berpikir ini menjadi berbeda.
Baca juga: Denmark Open 2026: Jonatan Christie Siap Hadapi Alwi Farhan di 16 Besar
Ia dan tim kepelatihan bakal mengembangkan tim menjadi sebuah gaya permainan baru.
"Ketika berada dalam situasi di mana kami secara kualitatif kalah, caranya hampir seperti menciptakan situasi chaos (kekacauan). Hampir seperti gaya permainan perang gerilya. Ini harus berbeda," ujarnya.
"Jika Anda bukan seekor singa, Anda tidak bisa melawan singa dengan cara singa."
"Anda harus menemukan gaya yang berbeda." Jadi bagi kami, satu hal yang saya janjikan kepada para pemain adalah kami tidak akan bertahan di garis kotak penalti sendiri selama 90 menit sambil berharap mendapatkan situasi bola mati."
Baca juga: Kevin Diks: Semua Berada di Satu Jalur Bersama John Herdman
Ia mengatakan bahwa tim bisa bermain dinamis dan direct tetapi pada prinsipnya, identitas permainan akan berubah tergantung tingkatan lawan yang harus dihadapi di tingkat internasional, serta kondisi di sekitar laga.
"Jika kita, katakanlah akan masuk ke grup kualifikasi Piala Dunia di mana semua tim berada di peringkat antara 90 dan 130, dan rata-rata realitas kualitatifnya hanya berselisih sekitar 5 atau 10 juta dolar antar tim, saya pikir itu berbeda," tuturnya menambahkan.
"Anda bisa menciptakan identitas stabil dan sangat jelas, tetapi ketika Anda berpindah dari pertandingan melawan Jepang, lalu ke Qatar, kemudian Thailand, ada tiga gaya permainan berbeda, karena apa yang bisa Anda lakukan melawan Thailand sangat berbeda."
"Jadi inilah sepak bola internasional."
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
