Gianni Infantino Buka Pintu Dialog Reformasi Tata Kelola FIFA - Kompas
KOMPAS.com - Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan kesediaannya untuk membuka ruang diskusi terkait reformasi tata kelola Federasi Sepak Bola Internasional.
Hal ini menjadi langkah responsif dari FIFA terhadap dinamika kelembagaan yang belakangan ini terus disorot.
Sebagai langkah awal, Gianni Infantino melempar gagasan untuk mengadakan sesi konsultasi lintas sektoral yang melibatkan jajaran konfederasi, berbagai asosiasi anggota, hingga para pemangku kepentingan.
Dialog ini ditujukan untuk menelaah setiap potensi pembaruan regulasi di internal organisasi.
Spanyol Hapus Sosok Trump dari Foto Selebrasi Juara Piala Dunia 2026
Melalui sebuah surat yang ditujukan kepada 211 presiden asosiasi anggota serta dewan pimpinan, Gianni Infantino menegaskan komitmennya untuk mengakomodasi segala bentuk aspirasi sebelum mengambil kesimpulan.
Baca juga: Bangladesh Bisa Repotkan Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026
“Saya tidak ingin mendahului pembahasan tersebut. Mereka yang mendukung model tertentu harus memiliki kesempatan untuk menyampaikan argumennya secara jelas,” tulis Infantino dikutip dari Antara.
Lebih lanjut, pimpinan federasi sepak bola dunia ini juga menyarankan perlunya evaluasi eksternal yang bersifat independen terhadap struktur tata kelola organisasi, khususnya yang berkaitan dengan penetapan kebijakan strategis.
Evaluasi eksternal tersebut diharapkan mampu membuahkan rekomendasi yang konstruktif guna membenahi alur pengambilan keputusan.
Baca juga: Bill Gates Kucurkan Rp 17,6 Triliun, demi Bikin AI Lebih Merakyat
“Pertama, saya akan meminta Dewan apakah mereka ingin menugaskan peninjauan eksternal independen terhadap kerangka tata kelola FIFA saat ini untuk inisiatif strategis utama dan merekomendasikan perbaikan yang diperlukan,” lanjutnya.
Rencana dialog mendatang akan menitikberatkan pada perdebatan mengenai pihak mana yang paling berhak memegang kendali atas keputusan strategis.
Topik krusial yang turut dibahas mencakup bagaimana porsi pembagian peran dan kewenangan yang paling ideal antara posisi Presiden FIFA, Biro, Dewan, dan Kongres.
Dinamika Proses Pengambilan Keputusan
Baca juga: Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia Bidik Start Sempurna
Pembahasan mengenai prosedur penetapan kebijakan juga menjadi sorotan tajam.
Salah satu wacana yang mengemuka ke permukaan adalah perlunya persetujuan mutlak dari jajaran Biro untuk mengesahkan setiap keputusan strategis.
Di sisi lain, terdapat pula aspirasi yang menghendaki agar masalah krusial semacam itu langsung dibawa ke forum Kongres sehingga dapat melibatkan seluruh asosiasi anggota secara merata.
Baca juga: Enam Kali Reshuffle dalam Dua Tahun, Apa yang Sebenarnya Dicari Prabowo?
Segala bentuk masukan dari para anggota yang masuk sebelum penyelenggaraan rapat Dewan pada 15 Oktober mendatang berpeluang besar untuk dikaji secara mendalam dalam forum tersebut.
Aspirasi susulan juga tetap akan dipertimbangkan dengan tenggat waktu yang akan ditetapkan kemudian.
Nantinya, apabila proses dialog ini berhasil membuahkan usulan amandemen terhadap statuta organisasi, perubahan tersebut mutlak harus disahkan oleh Kongres.
Buntut Polemik Saham Hak Komersial Piala Dunia
Dorongan reformasi ini sejatinya mengemuka pasca-munculnya gelombang penolakan terhadap rencana penjualan 20 persen saham hak komersial turnamen, termasuk hak komersial Piala Dunia, kepada pihak investor swasta.
Gagasan tersebut pada akhirnya resmi dibatalkan pada bulan Juli lalu usai diterpa penolakan keras dan rentetan ancaman boikot.
Baca juga: Timnas Indonesia Fokus ke Laga Pertama FIFA ASEAN Cup 2026
Sang petinggi federasi pun memberikan klarifikasi bahwa rencana awal tersebut murni untuk menjajaki peluang mendapatkan pendanaan ekstra bagi pengembangan olahraga sepak bola melalui pelepasan saham minoritas pada entitas komersial.
“Itu tetap merupakan sebuah proposal, bukan keputusan, dan selalu bergantung pada persetujuan yang diperlukan dari Dewan dan Asosiasi Anggota. Proposal tersebut kini telah ditarik dan tidak akan dilanjutkan,” tulisnya.
Akibat mencuatnya polemik ini, sejumlah konfederasi besar seperti UFA (UEFA), Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), hingga CONCACAF sempat menyuarakan tuntutan adanya perombakan di pucuk kepemimpinan.
Baca juga: Menko Airlangga Ajak Pelaku Usaha ASEAN-Kanada Manfaatkan Implementasi ICA-CEPA secara Maksimal
Meski begitu, sang petahana tetap dijadwalkan bakal kembali bersaing dalam bursa pencalonan presiden pada bulan Maret 2027 mendatang di Rabat.
Di tengah maraknya perdebatan internal ini, ia menjamin bahwa posisi dan pandangan setiap asosiasi anggota terkait usulan maupun isu tata kelola tidak akan berdampak negatif pada perlakuan yang mereka terima dari federasi.
“Tidak ada asosiasi yang perlakuannya akan bergantung pada posisi mereka terhadap proposal atau persoalan kelembagaan apa pun,” tulisnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.