Audisi Umum PB Djarum 2026 - Hendrawan Jelaskan Proses saat Karantina, Bagaimana jika Ada yang Sakit? - Semua Halaman - Bolasport

BOLASPORT.COM - Sebanyak 36 pebulu tangkis muda meraih Super Tiket setelah melewati rangkaian seleksi yang digelar pada 9-13 September di GOR Jati, Kudus.
Setelah diumumkan, peserta yang terpilih langsung memasuki asrama PB Djarum untuk menjalani proses karantina selama dua minggu.
Ketua pencari bakat tim putri pada Audisi Umum PB Djarum 2026, Hendrawan, menjelaskan tahap yang akan dilalui selama karantina.
"Awalnya selama 2 minggu hal yang basic dulu. Dalam dua minggu itu akan ada penilaian-penilaian dari fisiknya karena disini (Audisi) kami melihat dari sisi menang-kalahnya," kata Hendrawan kepada media, termasuk BolaSport.com di GOR Jati, Kudus, Minggu (13/9/2026).
"Selainjutnya dari faktor sikap, karakter di lapangan seperti apa. Dari penilaian sosial terhadap lawan dinilai juga karena sekarang mereka disiapkan untuk game 15."
"Game 15 itu diperlukan fokus yang bagus. Dari situ akan kami lihat juga. Kalau dari saya karena saya juga baru. Tahun kemarin saya tidak ikut banyak soal karantina. Tetapi, saya tahun ini akan ikut. Dari saya sendiri belajar. Mau melihat dari karakter para pemain."
"Berjalannya waktu, setelah dua minggu baru mau lebih detail lagi, lebih tahu karena jumlah orang akan lebih sedikit."
"Dari situ, pribadinya kami akan menilai karena tidak bisa kali ini hanya menilai dari bagus atau bisa bermain saja. Game 15 pasti akan lebih cepat, harus lebih tangguh karena tidak mudah."
"Penentu kemenangan Indonesia pada Thomas Cup 2002 itu, menjelaskan bahwa dalam karantina, saya juga akan menilai dari sisi cedera, medical check-up."
"Dan ini juga tentunya sebelum ini pemain yang kami terima, bagus saja tetapi ternyata setelah dia masuk disini, tahu-tahu ada rasa sakit dan ternyata ada cedera. Saat ini, prosesnya akan lebih selektif sehingga lebih banyak menilainya."
Menurut Hendrawan, tahap-tahap yang dilakukan selama karantina adalah penilaian secara umum.
"Selanjutnya ada di fisik, pemeriksaan kesehatan umum karena tidak banyak orang yang mengikuti karantina. Jadi, lebih selektif dan detail lagi. Kurang lebih rencananya selama sebulan."
"Kalau di tengah proses karantina ada yang sakit apakah mempengaruhi penilaian. Kalau sakit, tentu akan kami lihat. Dari pelatih yang melatih, saya tanya sampai karantina tidak ada yang sakit."
"Mungkin ada, tetapi mereka takut karena apa saya kurang tahu. Tetapi, kami ada batasnya. Kalau sakit masih dalam batas wajar. Contohnya kemarin ada yang cerita, lari terus dia jatuh, lecet, dan keluar darah."
"Disuruh istirahat tetap aja anak itu mau berjalan. Akhirnya anak tersebut lari dalam keadaan berdarah. Penilaian seperti itu, karakter seperti itu yang mungkin akhirnya akan menjadi nilai tambahan karena tidak mau kalah."
"Menurut saya, itu penilaian non-teknis yang menjadi nilai plus karena kita tahu tunggal putri dari dulu tidak mudah untuk mencari seperti tunggal putra."
"Kalau dari karakter seperti ini kami tidak menilai, mereka akhirnya tidak sampai kemana-mana. Tentu juga dalam hal ini masa karantina mereka masih sangat muda. Bukan tidak mungkin ada yang terlewat atau salah penilaian."
"Pada akhirnya suatu saat kami evaluasi. Ada yang kami ambil tidak berprestasi itu akan yang kami ambil dari audisi."
"Ikut karantina dalam usia yang masih muda seperti kertas yang masih putih. Pada akhirnya yang paling penting adalah hasil akhirnya. Menurut saya lebih penting kualitasnya."
"Mungkin jumlah tidak terlalu banyak, tetapi kualitas. Bicara persentase terkait keberhasilan dan kegagalan peserta yang lolos audisi. Seberapa besar mereka bisa berhasil atau gagal terkait teknis dan non-teknisnya."
Mantan pelatih legenda tunggal putra Malaysia, Lee Chong Wei, itu mengungkapkan faktor non-teknis di pelatnas.
"Saat saya bicara dengan pengurus bisa diartikan PB Djarum selalu mengantar pemain paling banyak. Tetapi pada kenyataannya, hasil akhirnya yang berprestasi," ucap Hendrawan.
"Dalam beberapa tahun terakhir Gregoria, Putri KW sedang mencari jalan. Dari PB Djarum belum ada yang mencapai 20 besar dan 10 besar dunia."
"Tetapi, memang kendalanya yang diungkapkan pelatih pemain Djarum adalah kurang kuat secara mental, gampang menyerah dan saya dengar ada faktor non-teknis. Kalau sudah masuk pelatnas pasti punya skill kalau tidak, tidak mungkin sampai disini."
"Setelah sampai di pelatnas ada perjalanan turun-naik dan saat sampai perjalanan di puncak dia tinggal satu langkah lagi, tidak mudah menyerah. Kami ingin mencari pemain yang tidak mau kalah karena ada data yang kami miliki juga."
Sebelum kembali ke PB Djarum, Hendrawan pernah melatih Maria Kristin Yulianti, Adriyanti Firdasari, Maria Fransiska, dan Maria Febe di pelatnas.
"Setelah itu, saya teruskan melatih Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso, Tommy Sugiarto. Setelah itu, saya ke Malaysia untuk melatih pemain pratama, lama-lama naik melatih pemain utama," aku Hendrawan.
"Awalnya saya melatih pemain ganda dan saya sekarang kmbali ke klub ini, saya sendiri butuh proses adaptasi karena memang berbeda. Saya di Djarum lebih seperti koordinator. Jadi, saya tidak turun langsung 100 persen."
"Saya diskusi lagi bersama pelatih lalu dilanjutkan ke pemain karena kenginan saya adalah bagaimana saya mau menggabungkan latihan level dunia itu bisa dikenalkan atau dicapai di klub."
"Kami ingin pemain dan pelatih mengetahui atau bisa merasakan dulu untuk mencapai level dunia itu latihannya seperti ini."
Baca Juga: Audisi Umum PB Djarum 2026 - 36 Pebulu Tangkis Muda Raih Super Tiket dan akan Masuk Tahap Karantina