Peran Orangtua di Balik Kesuksesan Rodri Jadi Pemain Terbaik Piala Dunia 2026 - Kompas
KOMPAS.com - Keberhasilan tim nasional Spanyol menjuarai ajang Piala Dunia 2026 tak lepas dari performa gemilang sang kapten.
Menjadi penggerak utama serangan sekaligus pertahanan tim, gelandang andalan Spanyol, Rodrigo Hernández Cascante, sukses dianugerahi penghargaan Golden Ball sebagai pemain terbaik sepanjang turnamen bergengsi tersebut.
Namun, di balik rentetan pencapaian yang luar biasa, terdapat peran penting dari kedua orangtuanya, yakni sang ayah, Antonio Hernández, dan sang ibu, Elena.
Baca juga: Di Balik Momen Gemas Lamine Yamal dan Sang Adik, Ini Peran Keluarga bagi Mental Anak
Rahasia kesuksesan Rodrigo Hernández Cascante
Tumbuh besar di pinggiran kota Madrid, peraih Ballon d'Or 2024 kelahiran 22 Juni 1996 ini, dibesarkan bersama dua saudara laki-lakinya dalam sebuah keluarga yang menjunjung tinggi pencapaian akademis.
Kisah Haru Cucurella, Berjuang Dampingi Putra yang Mengidap Autisme
Keluarga ini tidak hanya mendukung ambisi olahraganya yang dimulai dari klub Rayo Majadahonda hingga masuk ke akademi bergengsi Atlético Madrid, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kerendahan hati dan komitmen untuk terus belajar.
Pelajaran berharga dari sang ayah untuk menjadi tangguh
Perjalanan karier Rodri tidak selalu berjalan mulus, mengutip BBN Times, Minggu (26/7/2026). Pada usia 17 tahun, ia nyaris meninggalkan dunia sepak bola sepenuhnya.
Saat itu, ia dilepas oleh akademi Atlético Madrid pada tahun 2013 karena dinilai kurang tangguh secara fisik, dan harus bersusah payah saat beradaptasi di akademi Villarreal.
Baca juga: Kisah Haru Bek Timnas Spanyol Marc Cucurella Besarkan Anak dengan Autisme

Lihat Foto
"Saya ingat menelepon ayah saya sambil menangis, merasa seolah semuanya sudah berakhir," ungkap Rodri mengenang masa-masa terberatnya.
"Ayah memberi tahu saya bahwa jika kami sudah sejauh ini, kami tidak boleh menyerah sekarang. Percakapan itu mengubah mentalitas saya sepenuhnya," lanjut dia.
Selain memberikan dorongan semangat, Antonio yang berprofesi sebagai insinyur turut membawa kedisiplinan dan pemikiran analitis ke dalam keluarga.
Baca juga: Jensen Huang, Dulu Tukang Cuci Piring, Kini CEO Perusahaan Bernilai Rp 83.000T
Karakteristik ini perlahan menurun pada gaya bermain Rodri yang sangat terstruktur saat membaca taktik pertandingan. Sang ayah juga mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari penilaian orang lain.
Pelajaran berharga ini terbukti ketika Rodri membeli mobil pertamanya, sebuah Opel Corsa, dari hasil menabung.
Saat rekan-rekan setimnya menertawakan kendaraan sederhananya tersebut, ia memilih untuk tidak memedulikannya.
Baca juga: Erling Haaland Punya Mindset Saya Tidak Lelah, Benarkah Bisa Meningkatkan Performa?
Kehadiran ibu sebagai pendukung emosional

Lihat Foto
Jika sang ayah berfokus pada kedisiplinan dan ketangguhan, Elena hadir sebagai sosok penyeimbang yang memberikan dukungan emosional.
Kehadiran ibunya memastikan lingkungan rumah selalu terasa hangat dan stabil, sembari terus memupuk rasa saling menghargai di dalam diri putranya.
Baca juga: Kisah Unik Veda Ega dan Mario Aji di Spanyol: Tinggal Bareng hingga Pengalaman Kena Tilang
Bukti nyata dari dedikasi keluarga ini terlihat sangat jelas saat ajang penganugerahan di Théâtre du Châtelet, Paris, pada akhir bulan Oktober 2024.
Walaupun Rodri harus menggunakan kruk akibat cedera parah pada ligamen lutut anteriornya, sang ibu tetap setia mendampinginya berjalan di atas karpet merah.
Pemandangan manis dari keluarga yang bersatu di panggung tertinggi sepak bola tersebut seakan membayar lunas segala pengorbanan mereka, terlebih ketika Rodri secara khusus berterima kasih kepada keluarganya dalam pidato kemenangannya.
Baca juga: Terpikat Filosofi Xabi Alonso, Morgan Rogers Tak Sabar Duet dengan Palmer
Perjanjian wajib menempuh pendidikan tinggi
Satu hal menarik yang membedakan Rodri dari pesepak bola elite lainnya adalah kesepakatannya dengan sang orangtua sejak masih remaja.
Antonio dan Elena menegaskan bahwa jika putranya ingin mengejar mimpinya di lapangan hijau, ia juga wajib menempuh pendidikan di universitas.
Tanpa banyak perdebatan, ia menyanggupi ekspektasi tersebut. Saat pindah ke Villarreal, ia langsung mendaftar di Universidad Jaume I untuk mempelajari Ilmu Administrasi Bisnis.
Baca juga: Belajar soal Pertumbuhan Tinggi Anak dari Yamal, Messi, dan Haaland

Lihat Foto
Rutinitas hariannya dihabiskan dengan berlatih bersama klub pada pagi hari dan mengikuti kelas kuliah pada sore hari.
Atas saran ibunya, ia juga memilih untuk tinggal di asrama mahasiswa biasa daripada fasilitas mewah akademi agar bisa bersosialisasi secara normal.
Menjadi sosok yang membumi di tengah popularitas
Pengalaman hidup berdampingan dengan mahasiswa biasa pada umumnya telah memberi Rodri sudut pandang yang cukup langka di industri sepak bola modern.
Baca juga: MLS Selidiki Inter Miami atas Dugaan Pelanggaran dalam Perekrutan Casemiro
Sikap membumi yang ditanamkan oleh keluarganya ini membuat Rodri tetap merasa sebagai pria biasa.
"Kalau soal sepak bola, saya adalah seorang pecandu," ujar Rodri saat membagikan kisahnya kepada The Players' Tribune.
"Jika saya dianggap normal, itu mungkin dalam artian saya tidak peduli dengan media sosial atau sepatu kets seharga 400 pound sterling," ucapnya.
Sikap sederhana dan mentalitas pantang menyerah itulah yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi pemain pria Spanyol kedua yang memenangi Ballon d'Or dua tahun lalu, setelah Luis Suárez pada tahun 1960.
Di balik semua kegemilangan itu, kedua orangtuanya tetap memilih berada di belakang layar, memantau dengan bangga perjalanan panjang sang juara.
Baca juga: Cara Manis CR7 Bawa Keluarga di Piala Dunia Terakhirnya
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang