Maroko Saudara Indonesia, Jalan Panjang Ukir Sejarah di Piala Dunia - Kompas
Laporan Langsung Jurnalis Kompas.com Sem Bagaskara dari Boston, Amerika Serikat
KOMPAS.com - Maroko bisa pulang dari Piala Dunia 2026 dengan kepala tegak. Singa Atlas menutup petualangan dengan mengukir pencapaian bersejarah.
"Kami dua kali beruntun berada di perempat final Piala Dunia 2026, setelah di 2022, kami adalah juara Piala Afrika," ujar wartawan Maroko, Nasreddine Nasri, yang bekerja untuk Canal+ Afrique, kepada KOMPAS.com.
KOMPAS.com bertemu dengan sejumlah wartawan asal Maroko di Stadion Boston, Rabu (8/9/2026) sehari jelang laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Perancis.
Perancis ke Semifinal Piala Dunia 2026, Suporter Les Bleus Berpesta, Fans Maroko Patah Hati
"Indonesia? Ayo boleh kita mengobrol. Indonesia adalah saudara kita," ucap Nasreddine Nasri ketika KOMPAS.com meminta kesempatan untuk berbicara singkat.
Baca juga: Mbappe Ungkap Penyebab Gagal Penalti saat Perancis Kalahkan Maroko: Ada Andil Wasit
Nasreddine Nasri kemudian menyebut bahwa prestasi apik Maroko dalam beberapa tahun belakangan tak datang secara tiba-tiba.
"Itu bukanlah kebetulan, bukan kecurangan, itu adalah hasil dari kerja keras yang panjang dari Yang Mulia Raja Mohamed 6 dan Presiden (Fouzi) Lekjaa," ucap Nasreddine Nasri turut menyinggung peran Presiden Federasi Sepak Bola Maroko.

Lihat Foto
Kerja Panjang dari 2009
"Itu adalah pekerjaan yang dimulai pada 2009," kata kolega Nasreddine Nasri yang bekerja untuk Le 7 TV, Ahmed Talal.
Baca juga: Kala Brasil dan Indonesia Berbagi Cerita di Piala Dunia 2026
"Pidato dari Raja Mohammed VI yang membangun fondasi akademi Mohammed VI."
"Akademi Mohammed VI saat ini adalah tempat pembinaan pemain muda Maroko yang kemudian mampu berkembang membela klub mapan Eropa, seperti Azzedine Ounahi, Youssef En-Nesyri, Nayef Aguerd," kata Ahmed Talal.
"Seperti kata Nasreddine Nasri ini adalah dua perempat final beruntun kami. Kami juga merupakan juara Piala Dunia U20, apa pun yang terjadi besok kami akan senang," ucapnya lagi.
Baca juga: Suporter Maroko Berharap Timnas Perancis Juara Piala Dunia 2026
"Untuk timnas kami dan untuk pelatih kami Mohamed Ouahbi," kata Ahmed Talal.
Maroko benar-benar total dalam membangun sepak bolanya. Mereka punya akademi kelas satu yaitu Akademi Mohammed VI.
Selain itu, Maroko juga memiliki kompleks latihan Mohammed VI, yang merupakan markas tim nasional untuk berbagai kategori usia, termasuk tim putri.

Lihat Foto
Baca juga: Prediksi Skor Kanada Vs Maroko di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Akademi dan Kompleks Latihan Kelas Satu
Luas pusat latihan untuk timnas itu nyaris 30 hektar, persisnya di Maamora, kawasan hijau yang masih dipenuhi oleh kicau burung.
"Mereka tak perlu menyewa hotel sudah ada hotel di sana," ujar Ahmed Talal.
"Hotel bintang lima. Juga ada masjid jika Anda adalah seorang muslim," tutur Nasreddine Nasri menjelaskan fasilitas di kompleks Mohammed VI.
KOMPAS.com kemudian ditanya apakah publik Indonesia mendukung Maroko di Piala Dunia, sebagai negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam.
Saya menyebut 50-50 karena banyak juga orang Indonesia yang menyukai bintang-bintang Perancis semodel Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele.
"Anda adalah saudara kami sesama negara dengan banyak penduduk muslim, harusnya 100 persen mendukung Maroko," tutur Nasreddine Nasri dengan nada berkelakar.
Baca juga: Jadwal Siaran Langsung Meksiko Vs Inggris di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Namun, Maroko harus mengakhiri petualangan di Piala Dunia 2026 pada babak perempat final.
Singa Atlas harus menyerah 0-2 dari Perancis setelah kemasukan gol Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele. Apa pun hasilnya, seperti kata Ahmed Talal tadi, rakyat Maroko sudah bangga.
Maroko merupakan tim Afrika pertama yang mampu mencapai perempat final Piala Dunia dalam dua edisi beruntun. Sebelumnya, di Piala Dunia 2022, Singa Atlas mampu melangkah sampai semifinal.
Baca juga: Wasit Francois Letexier Tuai Kontroversi di Laga Argentina Vs Mesir, Dulu Buat Marah Publik RI
Pencapaian bersejarah itu datang lewat kerja keras panjang, salah satunya dengan langkah penting yang mereka lakukan pada 2009.
Indonesia jelas perlu mengambil inspirasi dari sang saudara, Maroko. Mirip seperti Indonesia, Maroko juga banyak mengandalkan pemain diaspora.
Dalam skuad untuk Piala Dunia 2026, hanya tujuh pemain yang lahir di tanah Maroko. Sisanya tumbuh bersama ekosistem sepak bola luar negeri, termasuk sang pelatih Mohamed Ouahbi.
Namun, keberadaan sentra latihan dan akademi kelas satu Mohammed VI memastikan Maroko juga punya talenta lokal yang berkualitas serta kompetitif. Bagaimana saudara Indonesia?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang