Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured FIFA Gianni Infantino Piala Dunia Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial

    Demi Cuan dan Politik, Ini 8 Skandal FIFA di Bawah Kepemimpinan Gianni Infantino - Semua Halaman - Superball

    6 min read

     

    Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers

  • Home
  • GEBYAR BOLA
  • Rabu, 8 Juli 2026 | 19:11 WIB

    Cristiano Ronaldo (kanan) berpose dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino. (HAROLD CUNNINGHAM/AFP)

    SUPERBALL.ID - ​Badan sepak bola tertinggi dunia, FIFA, kini tengah menjadi sorotan tajam akibat serangkaian kontroversi yang membelenggu sang presiden, Gianni Infantino.

    Langkah-langkah yang diambil Infantino dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai olahraga dan lebih condong pada keuntungan finansial serta kepentingan politik.

    Salah satu yang paling menyita perhatian adalah pembatalan hukuman larangan bermain Folarin Balogun di Piala Dunia 2026 setelah adanya intervensi dari Donald Trump.

    Dilansir SuperBall.id dari The Telegraph, berikut delapan skandal FIFA di bawah kepemimpinan Infantino demi meraup cuan dan kepentingan politik.

    Baca Juga: Tampil Mengecewakan di Piala Dunia 2026, Masa Depan Bomber Real Madrid Jadi Sorotan

    Arab Saudi Tuan Rumah Piala Dunia 2034

    ​Skandal pertama yang sangat mencolok adalah bagaimana karpet merah digelar begitu mewah untuk Arab Saudi.

    Proses penawaran Piala Dunia 2030 sengaja diutak-atik agar Arab Saudi bisa melenggang mulus tanpa pesaing berat sebagai tuan rumah edisi 2034.

    Tidak lama setelah itu, FIFA langsung mengantongi kerja sama bernilai raksasa dengan perusahaan minyak milik negara Saudi, Aramco.

    Favoritisme Piala Dunia Klub 2025

    ​Kontroversi kedua datang dari ajang Piala Dunia Klub 2025 yang dinilai penuh dengan aksi favoritisme.

    Secara mengejutkan, Inter Miami langsung diberi tiket lolos otomatis meski babak play-off MLS Cup saat itu belum selesai bergulir.

    Ironisnya, klub yang dibela Lionel Messi itu justru tersingkir di babak tersebut oleh LA Galaxy yang malah tidak mendapatkan undangan sama sekali.

    Hadiah Perdamaian untuk Trump

    ​Lebih mengherankan lagi, FIFA sampai membuat penghargaan tandingan demi menyenangkan Donald Trump yang gagal meraih Hadiah Nobel Perdamaian.

    Penghargaan buatan ini diserahkan langsung kepada Presiden Amerika Serikat tersebut dalam acara pengundian Piala Dunia.

    Bahkan, Trump juga dihadiahi replika trofi Piala Dunia Klub yang mewah untuk dipajang langsung di Ruang Oval miliknya.

    Pengampunan Cristiano Ronaldo

    ​Keistimewaan dari FIFA di bawah Infantino ternyata tidak hanya dinikmati oleh para politisi, tetapi juga megabintang lapangan hijau.

    Cristiano Ronaldo secara ajaib mendapatkan pengampunan hukuman kartu merah dari Komite Disiplin FIFA menjelang Piala Dunia 2026.

    Hukuman larangan bertanding Ronaldo ditangguhkan tepat setelah ia kepergok melakukan kunjungan ke Gedung Putih bersama putra mahkota Arab Saudi.

    Baca Juga: Termasuk Eks Pelatih Vietnam, 3 Tokoh Sepak Bola Korea Selatan Lepas Jabatan usai Piala Dunia 2026

    Istirahat Minum Piala Dunia 2026

    ​Urusan di dalam lapangan sepak bola pun kini mulai diutak-atik oleh FIFA demi meraup keuntungan dari sektor hak siar dan komersial.

    FIFA menerapkan aturan jeda minum wajib selama tiga menit yang membuat jalannya pertandingan seolah-olah dibagi menjadi empat kuarter.

    Kebijakan baru ini dicurigai keras sengaja dibuat untuk memberikan ruang bagi slot iklan televisi komersial yang bernilai sangat mahal.

    Harga Tiket Piala Dunia 2026

    ​Masalah harga tiket Piala Dunia 2026 juga menjadi mimpi buruk bagi para pencinta sepak bola di seluruh dunia.

    FIFA menerapkan sistem harga dinamis yang mencekik, hingga membuat harga tiket pertandingan final meroket sampai angka Rp170 juta.

    Parahnya lagi, FIFA mengizinkan tiket dijual kembali dengan harga selangit dan mereka tetap mengambil potongan keuntungan sebesar 15 persen.

    Wasit Somalia Ditolak

    ​Skandal berikutnya melibatkan aroma politik yang kental saat wasit terbaik asal Afrika, Omar Artan, dilarang masuk ke wilayah Amerika Serikat.

    Pemerintahan Trump menuduh wasit asal Somalia tersebut memiliki keterkaitan dengan jaringan organisasi teroris internasional.

    Bukannya membela sang pengadil lapangan, Infantino justru memilih angkat tangan dan meminta semua pihak untuk bersikap tenang.

    Perlakuan Diskriminatif Timnas Iran

    ​Terakhir, FIFA dinilai menutup mata dan membiarkan intervensi politik menekan partisipasi Timnas Iran di atas lapangan.

    Akibat ketegangan geopolitik yang memanas, skuad Iran dipaksa untuk mengungsi dan bermarkas di negara tetangga, Meksiko.

    Kapten Iran, Mehdi Taremi, dengan lantang mengecam Infantino karena dianggap ingkar janji dan sama sekali tidak membantu kesulitan logistik timnya.

    Komentar
    Additional JS