Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Erick Thohir Featured Menpora Spesial

    Berdampak Nyata! Menpora Erick Thohir: Olahraga Bukan Beban, tapi Sumber Pendapatan Negara - Jawa Pos

    4 min read

     

    Konpers Menpora Erick Thohir bersama Kepala Bakom RI Muhammad Qodari di Auditorium Bakom RI, Kamis (2/7). (Dok: Kemenpora RI)

    JawaPos.com - Menpora Erick Thohir menegaskan olahraga tidak lagi sekadar menjadi beban anggaran negara. Menurutnya, industri olahraga dan sport tourism mampu menjadi sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat citra Indonesia di dunia.

    Hal tersebut disampaikan Erick saat menjadi narasumber dalam Konferensi Pers Pemerintah yang diselenggarakan Badan Komunikasi (Bakom) RI di Auditorium Bakom RI, Jakarta, Kamis (2/7/2026).

    Dalam konferensi pers bersama Kepala Bakom RI Muhammad Qodari, Erick memaparkan perkembangan program prioritas serta penguatan ekosistem olahraga nasional 2026, termasuk hasil pembahasannya dengan Presiden Prabowo Subianto.

    Menurut Erick, paradigma terhadap olahraga harus diubah. Selama ini olahraga masih sering dipersepsikan sebagai beban biaya, padahal sektor tersebut memiliki potensi ekonomi yang sangat besar.

    "Olahraga selama ini dipersepsikan sebagai cost atau beban. Padahal sekarang harus dilihat sebagai revenue opportunity atau potensi pendapatan sekaligus national branding," ujar Erick.

    Dia mencontohkan sport tourism sebagai salah satu sektor yang berkembang pesat. Secara global, industri sport tourism memiliki nilai hampir USD625 miliar atau sekitar Rp9.800 triliun dengan pertumbuhan sekitar 8 persen per tahun.

    "Inilah paradigma yang sedang kami bangun bersama seluruh pemangku kepentingan. Presiden menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen. Sport tourism harus menjadi salah satu motor penggeraknya," katanya.

    Selain sport tourism, Erick menyebut industri olahraga global juga memiliki nilai ekonomi mencapai USD521 miliar atau sekitar Rp8.000 triliun dan diproyeksikan terus tumbuh hingga 25 persen sampai 2032.

    Karena itu, Kemenpora terus mendorong penyelenggaraan berbagai ajang olahraga nasional maupun internasional. Menurut Erick, setiap event olahraga mampu menggerakkan sektor ekonomi lain, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, hingga perdagangan.

    Dia mencontohkan tren lomba lari di Indonesia yang kini berkembang pesat. Tercatat ada sekitar 104 ajang lari dengan total 10,4 juta peserta. Aktivitas tersebut ikut mendorong transaksi pembelian perlengkapan olahraga hingga meningkatkan okupansi hotel dan konsumsi masyarakat.

    "Di Bandung saja pesertanya bisa 15 ribu sampai 20 ribu orang. Di Mandalika juga ada event lari dengan sekitar 10 ribu peserta. Mereka menginap di hotel, makan di restoran, dan berbelanja. Inilah perputaran ekonomi yang sering kita lupakan," jelas Erick.

    Menurut dia, dampak ekonomi serupa juga terlihat pada penyelenggaraan MotoGP Indonesia di Mandalika. Erick menyebut ajang tersebut telah menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp4,9 triliun.

    Selain itu, kehadiran MotoGP turut memicu tumbuhnya investasi di kawasan Mandalika, termasuk pembangunan vila, rumah makan, hingga berkembangnya destinasi wisata di sekitarnya.

    "Nah, hal-hal seperti ini yang membuat sebuah event olahraga besar menimbulkan efek berganda terhadap sektor ekonomi lainnya," katanya.

    Erick menilai Indonesia masih memiliki banyak potensi sport tourism yang belum dimaksimalkan, seperti wisata selancar dan pendakian gunung yang tersebar di berbagai daerah.

    Selain melalui event internasional, perputaran ekonomi juga datang dari kompetisi olahraga domestik. Erick menyebut nilai ekonomi Liga Sepak Bola Indonesia saat ini mencapai sekitar Rp700 miliar, sedangkan kompetisi bola basket menghasilkan sekitar Rp60 miliar. Nilai tersebut belum termasuk aktivitas ekonomi masing-masing klub.

    Sebagai perbandingan, Erick mencontohkan Amerika Serikat yang berhasil membangun industri olahraga melalui kompetisi besar seperti NBA dan Major League Baseball (MLB). Menurutnya, sektor olahraga di negara tersebut telah menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional.

    "Karena itu, kami ingin mengubah cara pandang bahwa olahraga bukan cost center, melainkan revenue opportunity. Presiden juga berkali-kali menegaskan bahwa kemajuan olahraga merupakan cerminan keberhasilan sebuah negara," pungkas Erick.

    Dalam beberapa tahun terakhir, sport tourism memang menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di industri pariwisata dunia. Ajang olahraga tidak hanya menarik atlet, tetapi juga wisatawan, sponsor, media, hingga investor yang ikut menggerakkan roda ekonomi daerah penyelenggara.

    Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan sektor tersebut. Selain memiliki destinasi wisata kelas dunia seperti Bali, Mandalika, Labuan Bajo, dan Danau Toba, Indonesia juga memiliki kekayaan alam yang mendukung penyelenggaraan olahraga luar ruang, mulai dari selancar, lari, bersepeda, hingga pendakian gunung.

    Di sisi lain, penyelenggaraan kompetisi olahraga profesional juga mampu menciptakan efek ekonomi berantai. Tidak hanya klub dan penyelenggara yang memperoleh manfaat, tetapi juga pelaku UMKM, sektor transportasi, perhotelan, kuliner, hingga industri perlengkapan olahraga.

    Karena itu, penguatan industri olahraga tidak hanya berkaitan dengan prestasi atlet. Lebih dari itu, sektor ini berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru apabila dikelola secara profesional, berkelanjutan, dan didukung kolaborasi antara pemerintah, swasta, serta pelaku industri.

    Komentar
    Additional JS