Pep Guardiola: Liverpool Era Jurgen Klopp Adalah Mimpi Buruk Terburuk Saya - Babel Insight
Pep Guardiola: Liverpool Era Jurgen Klopp Adalah Mimpi Buruk Terburuk Saya
30 Mei 2026 05.21 · 102 dibaca
Fajar Nugroho
Author
Pep Guardiola akhirnya resmi menutup lembaran karier legendarisnya bersama Manchester City dengan catatan yang sangat mengesankan. Selama masa baktinya di Etihad Stadium, manajer asal Spanyol ini berhasil mempersembahkan total 20 trofi bergengsi bagi publik Manchester Biru.
Meski bergelimang prestasi, Guardiola secara terbuka mengakui bahwa perjalanan kariernya di Inggris tidak selalu berjalan mulus. Ia menyebut Liverpool di bawah asuhan Jürgen Klopp sebagai lawan yang paling memberikan trauma taktis dan tekanan luar biasa.
Kekalahan tipis 1-2 dari Aston Villa pada pertandingan terakhirnya menandai akhir dari dominasi panjang Guardiola di Premier League. Namun, pembicaraan mengenai rivalitasnya dengan Klopp tetap menjadi topik utama yang menarik perhatian pecinta sepak bola dunia.
Rivalitas Sengit yang Menguras Energi
Persaingan antara Guardiola dan Klopp bukanlah fenomena baru karena sudah dimulai sejak keduanya masih berkarier di Bundesliga Jerman. Saat itu, Guardiola menakhodai Bayern Munich, sementara Klopp menjadi otak di balik permainan spartan Borussia Dortmund.
Perseteruan taktis tersebut kemudian berpindah ke Inggris dan mencapai puncaknya pada musim 2018-2019 yang sangat dramatis. Meski Liverpool berhasil mengoleksi 97 poin, mereka harus merelakan gelar juara kepada City yang unggul hanya dengan selisih satu angka saja.
Dominasi City memang sempat goyah ketika armada Klopp merebut takhta pada musim 2019-2020. Akan tetapi, Guardiola segera merespons dengan menyapu bersih empat gelar liga berikutnya secara beruntun, termasuk drama satu poin lainnya pada musim 2022-2023.
Berikut adalah catatan pertemuan antara dua manajer jenius ini dalam berbagai kompetisi resmi:
| Kategori Pertemuan | Catatan Statistik |
|---|---|
| Total Pertandingan | 30 Pertemuan |
| Kemenangan Jürgen Klopp | 12 Kali Menang |
| Kemenangan Pep Guardiola | 11 Kali Menang |
| Hasil Imbang | 7 Pertandingan |
Data di atas menunjukkan betapa ketatnya persaingan mereka, di mana Klopp unggul tipis secara statistik kemenangan meski Guardiola mengoleksi lebih banyak trofi tim.
Liverpool Sebagai Mimpi Buruk Guardiola
Dalam sebuah sesi wawancara khusus, Guardiola blak-blakan menyebut Liverpool sebagai lawan yang paling menyulitkan selama kariernya. Ia mengakui bahwa setiap menghadapi The Reds, fokus dan energi timnya selalu terkuras habis hingga batas maksimal.
Guardiola bahkan tidak ragu menggunakan istilah mimpi buruk untuk menggambarkan betapa sulitnya menghadapi intensitas permainan Liverpool. Baginya, kualitas pemain dan militansi yang ditunjukkan lawan selalu berada di level tertinggi setiap kali bertemu City.
"Kami telah menghadapi banyak lawan, tetapi Liverpool adalah mimpi buruk. Setiap saat, itu adalah mimpi buruk," ujar Guardiola seperti dikutip dari laporan ESPN.
Selain faktor taktik, Guardiola juga menaruh hormat yang tinggi terhadap keangkeran Stadion Anfield yang menjadi markas Liverpool. Ia merasa atmosfer di stadion tersebut memiliki sejarah unik yang jarang dimiliki oleh stadion mana pun di dunia saat ini.
Rencana Makan Malam Setelah Pensiun
Meskipun terlibat persaingan panas di pinggir lapangan, hubungan personal antara Guardiola dan Klopp tetap terjalin secara profesional. Guardiola menegaskan bahwa rasa hormat di antara mereka sudah terbangun sejak lama, bahkan saat keduanya masih bersaing di tanah Jerman.
Menariknya, kedua manajer besar ini dikabarkan memiliki rencana untuk meluangkan waktu bersama setelah resmi melepaskan jabatan masing-masing. Guardiola mengungkapkan keinginan mereka untuk mengadakan makan malam yang belum pernah terlaksana selama masa aktif melatih.
Beberapa poin menarik mengenai hubungan di luar lapangan antara Guardiola dan Klopp meliputi:
- Menjaga komunikasi yang sangat baik meskipun sering terlibat adu taktik yang keras.
- Saling memberikan pujian atas standar sepak bola tinggi yang mereka ciptakan di Inggris.
- Komitmen untuk tetap menjalin silaturahmi setelah masa jabatan sebagai manajer berakhir.
- Pengakuan bersama atas revolusi taktik melalui konsep Gegenpressing dan Positional Play.
Kepergian kedua pelatih ini menandai berakhirnya sebuah era keemasan dalam sejarah modern Premier League. Kini, para penggemar sepak bola menunggu bagaimana wajah baru persaingan kasta tertinggi Inggris tanpa kehadiran dua sosok revolusioner tersebut.

Fajar Nugroho
Bercerita lewat olahraga dan tradisi adalah passion utama Fajar. Sebagai mantan atlet daerah, ia paham betul dinamika di lapangan. Fajar kerap mengangkat kisah inspiratif atlet lokal, meliput turnamen olahraga, serta menjaga kelestarian budaya Bangka Belitung melalui artikel feature yang mendalam dan menggugah.