FIFA Kecolongan! Bendera Kontroversial Iran Berkibar Saat Laga Lawan Selandia Baru - inews
FIFA Kecolongan! Bendera Kontroversial Iran Berkibar Saat Laga Lawan Selandia Baru
LOS ANGELES, iNews.id - Timnas Iran menjadi pusat perhatian sebelum laga perdana Grup G Piala Dunia 2026 menghadapi Selandia Baru, Senin malam waktu setempat. Fokus publik tertuju pada reaksi terhadap lagu kebangsaan Iran di tengah situasi politik yang masih memanas.
Keikutsertaan Iran di turnamen musim panas ini sempat menjadi tanda tanya. Situasi tersebut muncul setelah konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang dimulai pada akhir Februari lalu.

Baca Juga
Asia Menggila di Piala Dunia 2026: 6 Tim Belum Tersentuh Kekalahan, Jepang Paling Ganas!
Pada Maret, dua pekan setelah konflik pecah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengingatkan partisipasi Iran di Piala Dunia 2026 tidak akan “tepat” dilakukan “demi kehidupan dan keselamatan mereka sendiri”.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons dari Iran. Pihak Iran justru menyarankan Amerika Serikat menarik diri dari turnamen, meski negara tersebut berstatus tuan rumah bersama Meksiko dan Kanada.

Baca Juga
Alasan Uruguay Pakai 4 Bintang di Jersey Piala Dunia 2026, Padahal Cuma Juara 2 Kali
Di tengah polemik tersebut, Presiden FIFA Gianni Infantino tetap memastikan Iran akan ambil bagian dalam ajang sepak bola terbesar di dunia itu. Sikap FIFA membuat Tim Melli akhirnya tampil sesuai jadwal pada laga pembuka fase grup.
Iran Raih Poin di Tengah Suasana Penuh Ketegangan
Dipimpin pelatih Amir Ghalenoei, Iran mengawali perjalanan di Grup G dengan hasil imbang 2-2 melawan Selandia Baru. Pertandingan berlangsung sengit sejak menit awal.

Baca Juga
Hasil Piala Dunia 2026: Seru! Iran Vs Selandia Baru Berbagi Poin dalam Drama 4 Gol
Selandia Baru dua kali unggul melalui pemain sayap Motherwell, Elijah Just. Gol pertama tercipta pada babak pertama, sedangkan gol kedua lahir setelah turun minum.
Iran berhasil merespons kedua gol tersebut. Ramin Rezaeian mencetak gol penyeimbang pertama sebelum Mohammad Mohebi menyelamatkan Iran dari kekalahan lewat gol penyama kedudukan kedua.

Baca Juga
Marc Klok Jagokan Belanda di Piala Dunia 2026, tapi...
Namun, sorotan terbesar justru terjadi di luar lapangan. Koresponden BBC untuk Amerika Utara, Shaimaa Khalil, menggambarkan suasana di sekitar Stadion Los Angeles sangat sarat nuansa politik.
Dia menulis, “Berkali-kali, pejabat tim Iran mengatakan mereka ingin sepak bola mempersatukan masyarakat. Suasana di sini justru jauh dari kata bersatu. Di luar Stadion Los Angeles, atmosfernya sarat muatan politik.”

Baca Juga
Profil Cape Verde, Negara Berpenduduk 550.000 Jiwa yang Bikin Repot Juara Piala Dunia 2010
Khalil juga mengungkapkan, “Ratusan bendera Iran berkibar. Yang paling mencolok adalah bendera era sebelum revolusi dengan lambang Singa dan Matahari.”
Menurutnya, “Bagi banyak warga Iran-Amerika, bendera tersebut telah menjadi simbol perlawanan terhadap rezim di Teheran. FIFA melarangnya berada di dalam stadion karena dianggap simbol politik. Namun bendera itu tetap terlihat di dalam stadion dan bahkan terpampang pada kaus yang dikenakan penonton.”
Dia menambahkan, “Beberapa ratus pengunjuk rasa berkumpul di luar stadion. Mereka marah atas keputusan FIFA dan terhadap tim nasional yang menurut mereka mewakili Republik Islam, bukan rakyat Iran.”
Larangan FIFA Tak Sepenuhnya Dipatuhi
Sebelum pertandingan berlangsung, FIFA memenangkan proses hukum untuk melarang bendera era pra-revolusi dengan lambang Singa dan Matahari masuk ke Stadion Los Angeles.
Meski demikian, sejumlah bendera tersebut tetap terlihat di dalam stadion menjelang kick-off. Kehadirannya menunjukkan aturan FIFA terkait simbol politik tidak sepenuhnya dipatuhi oleh sebagian penonton.
Menurut laporan The Mirror, larangan yang diterapkan FIFA terhadap bendera pra-revolusi itu pada akhirnya tetap dilanggar selama pertandingan Iran melawan Selandia Baru berlangsung.
Situasi tersebut membuat laga pembuka Iran di Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi pertandingan sepak bola biasa, tetapi juga panggung yang memperlihatkan ketegangan politik yang masih membayangi perjalanan Tim Melli di turnamen ini.
Editor: Reynaldi Hermawan