Dari Giza ke Bojongsoang: Cara Seniman Menjaga Ingatan Persib - Tirto
tirto.id - Ridwan Solehhudin tekun mengelap patung-patung berukuran besar di hadapannya. Cat biru bulao tampak mengotori lantai workshop sederhana miliknya di kawasan Ciganitri, Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Di tempat mirip garasi yang kini berubah menjadi workshop, lelaki yang kerap disapa Iwonk itu menghabiskan waktu sekitar lima bulan untuk mengabadikan para legenda Persib Bandung.
Sambil duduk jongkok, pria berusia 33 tahun itu mengoleskan warna hijau kebiruan menyerupai perunggu di bagian bawah sepatu patung Indra Thohir. Warna hijau kebiruan sengaja dipilih oleh pria gondrong itu karena ingin menyerupai oksidasi Patung Liberty. Ia mendesain wajah para tokoh itu dalam bentuk 3D, lalu memahatnya satu per satu menggunakan resin.
Di sudut workshop yang Iwonk namai Perahu Terbang, empat figur ikonik berdiri gagah. Ada patung pelatih Persib, Bojan Hodak, setinggi 2,17 meter. Kemudian diikuti Djadjang Nurdjaman setinggi 1,89 meter. Lalu, ada patung Indra Thohir dan juga patung manajer Persib, Umuh Muchtar, dengan tinggi masing-masing hampir dua meter.
Selama proses pembuatan patung-patung, Iwonk dibantu empat orang pegawainya. Pemilihan pelatih dan manajemen memiliki alasan tersendiri. Ia sebenarnya ingin mengabadikan semua tokoh Persib karena semua yang berkontribusi terhadap Maung Bandung layak diapresiasi. Namun, hanya empat figur yang dipilih karena keterbatasan biaya.
Baca juga:
Pelatih, versi Iwonk, merupakan arsitek tim yang memikul beban berat. Bila pemain adalah eksekutor, maka pelatih merupakan konseptor yang sudah bekerja habis-habisan jauh sebelum liga dimulai. Dia menentukan rekrutmen pemain, menyusun strategi, dan membangun tim. Sementara itu, para pemain bertugas menjaga performa tubuhnya sendiri. Selain harus memahami bagaimana kesebelasan bermain di rumput hijau, pelatih juga harus menyeimbangkan aspek psikologis tim.
“Pemain itu bisa pergi dalam satu tahun. Memang pelatih juga bisa pergi, tapi kenapa pelatih? Karena mereka konseptor. Hanya orang-orang tertentu yang berani mengambil posisi itu karena menjadi pelatih berarti harus siap dituntut menjadi juara,” kata Iwonk ditemui Kamis (21/5/2026) siang.
Sebelum memahatnya menjadi karya seni, Iwonk melakukan riset terlebih dahulu mengenai sosok pelatih asal Kroasia yang membawa Persib Bandung juara Liga 1 berturut-turut di musim 2023/2024 dan 2024/2025.
“Tapi ketika bicara Bojan, kita tidak bisa melepaskannya dari sejarah panjang di belakangnya. Ada Indra Thohir, ada Djadjang Nurdjaman, ada Umuh Muchtar. Bojan menjadi penting karena berhasil membawa Persib meraih beberapa bintang di dada, tapi sejarah Persib tidak berdiri sendiri. Semua era saling terhubung,” tutur Iwonk.

Bojan divisualkan oleh Iwonk memakai jaket tebal. Di belakang replika terdapat foto-foto pelatih asal Kroasia itu sebagai bahan riset Iwonk. “Artinya semakin di puncak, semakin dingin kan, makanya kita buat pakai jaket tebal,” tambah Iwonk sambil terkekeh.
Selain para pelatih Bojan, Djajang, dan Indra Thohir, Iwonk juga mengabadikan sosok Umuh Muchtar dalam pahatan resin sebagai figur penting sepak bola profesional di Indonesia. Menurut Iwonk, Umuh berhasil mengubah keuangan Persib Bandung dari klub yang bergantung pada anggaran daerah menjadi lebih profesional.
“Dalam sepak bola, ada bintang yang terlihat di lapangan, tapi ada juga orang-orang di belakang layar yang membentuk fondasi sejarahnya,” ujar Iwonk.
Secara detail teknis pembuatan, lulusan Seni Panggung Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini menjelaskan dibuat dengan metode modeling langsung menggunakan bahan resin. Ia menyebut dalam prosesnya bagian paling penting adalah wajah. Bagian itu merupakan bagian tersulit. “Di situlah karakter seseorang hidup. Saya merasa sedang mencoba menjaga ingatan agar tidak hilang,” jelasnya.
Pemilihan resin sendiri dilakukan karena sifatnya ringan dan fleksibel. Ia ingin nantinya ke depan menggunakan logam atau batu besar seperti karya-karya yang ada di Mesir. Patung-patung tersebut akan dipamerkan Juni mendatang, setelah perayaan konvoi Persib selesai di Gray Art Gallery, Braga, Kota Bandung bersama karya-karya dari seniman lain.

Persib: Ingatan Melawan Lupa
Jauh sebelum menjadi seniman seperti sekarang, Iwonk tidak berbeda dengan putra daerah Jawa Barat lainnya yang bercita-cita merumput dan menjadi pemain Persib Bandung. Akan tetapi, cedera yang dialami membuatnya tak bisa kembali merumput. “Tapi di tengah jalan ternyata cedera di kaki, jadi akhirnya masuk ke dunia seni,” katanya.
Ia mengenyam pendidikan seni di SMK Negeri 14 Bandung, atau dikenal Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Kemudian, Iwonk melanjutkan kuliah di ISBI. Ia datang dari dunia seni pertunjukan dan panggung bukan dari jurusan seni patung. Oleh karena itu, pendekatan visual dalam karya-karyanya banyak dipengaruhi pengalaman artistik di dunia teater, lighting, tekstur, dan instalasi visual.
Di kampus, Iwonk mulai akrab dengan lingkungan kreatif sampai seorang dosen yang melihat kecenderungan artistiknya mengarah pada seni rupa dan pemahatan. Ia pun menekuni seni pahat pada 2020 saat pandemi Covid-19.
Pada tahun 2024, Iwonk berkesempatan pergi ke negara Mesir. Kunjungan tersebut menjadi titik balik Iwonk dalam memaknai simbol dan kebudayaan. Di negeri asal istrinya itu, Ia menceritakan bagaimana saat memandangi Piramida Giza. Di hadapannya, batu-batu raksasa yang telah bertahan ribuan tahun itu tampak lebih dari sekadar bangunan tua.
Mulanya, ia hanya riset pribadi. Akan tetapi, Mesir perlahan mengubah cara pandangnya tentang seni, sejarah, dan identitas sebuah kota. Ia melihat bagaimana sebuah bangsa menjaga simbol-simbol kebudayaannya.
Selama satu bulan, Iwonk berkeliling melihat patung-patung besar dari batu dan marmer dirawat begitu serius. Bangunan-bangunan tua tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Di Mesir saya melihat patung-patung besar dari batu dan marmer dirawat begitu serius. Itu membuat saya terpukul, Kenapa Bandung tidak bisa?,” terangnya.
Persib Bandung, kata Iwonk, tidak sekadar klub sepak bola. Sebelum mengenal klub raksasa luar negeri seperti Real Madrid dan Barcelona, sebagai pituin tanah Pasundan pasti mengenal lebih dahulu Persib Bandung.
Kecintaan terhadap Persib tumbuh begitu saja dari ingatan masa kecil yang diwariskan turun temurun. Persib sering dirayakan lewat euforia sesaat, tetapi belum banyak dirawat sebagai ingatan kebudayaan jangka panjang. Dari situlah gagasan membuat patung-patung legenda Persib lahir.
“Kalau saya menjadi musisi, mungkin saya juga akan membuat lagu tentang Persib seperti Panji Sakti dan banyak musisi lain. Karena pada akhirnya Persib bukan sekadar klub sepak bola, melainkan identitas kebudayaan,” beber Iwonk.
Iwonk ingin orang-orang tidak hanya mengingat kemenangan, namun juga menghargai sosok yang membangun sejarah Persib dari masa ke masa.
“Saya tidak terlalu takut generasi muda kehilangan memori kolektif tentang Persib, karena hari ini kecintaan itu sudah sangat kolektif. Tapi saya ingin sejarah itu dirayakan dengan cara yang lebih panjang umur,” tambahnya.

Menurutnya, karya seni bisa menjadi alat edukasi kebudayaan. Sebuah cara agar kota tidak kehilangan ingatan tentang dirinya sendiri.
“Mungkin hari ini masih kecil, baru patung resin, pameran seni, atau arsip komunitas, tapi siapa tahu suatu hari nanti bisa berkembang menjadi museum yang benar-benar hidup,” jelasnya.
Tahapan patung sendiri memasuki proses finishing. Dua pegawai tengah sibuk memberikan sentuhan akhir berupa pengecatan pada keempat patung tersebut.
Kamis sore itu, harum tanah tercium seusai hujan mengguyur selatan Bandung. Seorang pekerja memakai jersey Barcelona masih mengelap secara tekun patung-patung Legenda Persib. Sementara itu, Iwonk memilih beristirahat. Ia mengambil kursi, menempatkan gadgetnya di tripod, melakukan live streaming di media sosial, dan mengabarkan pada orang-orang mengenai progres patung legenda Persib.

tirto.id - News Plus
Kontributor: Akmal Firmansyah
Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Andrian Pratama Taher