Tolak Klub Belanda Demi Persipura, Wonderkid Timnas Indonesia Ini Justru Nikmati Hidup Jadi PNS - tvOneNews
tvOnenews.com - Bagi para pencinta sepak bola tanah air, khususnya Timnas Indonesia dan Persipura Jayapura, nama Boaz Solossa adalah sebuah jaminan mutu.
Kecepatan yang eksplosif, akurasi kaki kiri yang mematikan, serta jiwa kepemimpinan yang kharismatik, membuat pria yang akrab disapa "Bochi" ini, dinobatkan sebagai simbol kejayaan Persipura Jayapura sekaligus sosok yang paling disegani di Timnas Indonesia.
Namun, menginjak usianya yang kini genap berkepala empat di tahun 2026, sang "Mutiara Hitam" tidak hanya sibuk mengolah si kulit bundar.
Di balik kegarangannya di lapangan, Boaz kini memiliki rutinitas baru yang jauh dari gemuruh stadion.
Sang Legenda yang mengabdi sebagai PNS
- Instagram/boazsolossa
Siapa sangka, di balik keringat dan jerih payahnya di lapangan hijau, Boaz Solossa kini menjalani hari-harinya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua.
Jabatan mentereng ini bukanlah sebuah "hadiah" instan atas nama besarnya, melainkan buah manis dari perjuangan akademisnya.
Di tengah padatnya jadwal sebagai pesepak bola profesional, Boaz terbukti memiliki latar belakang pendidikan yang luar biasa.
Ia bahkan diketahui sukses menyelesaikan studi S1 hingga menggondol gelar S2 di Universitas Cenderawasih (Uncen), Papua.
- Instagram/@boazsolossa
Saat ini, Bochi diketahui bertugas di Kantor Otonom Provinsi Papua untuk menjalankan fungsi administratif layaknya pegawai pemerintah pada umumnya.
Hebatnya, ia tetap mendapatkan kelonggaran untuk terus melanjutkan karier sepak bola profesionalnya.
Darah birokrat sendiri tampaknya memang mengalir deras dalam tubuh keluarga Solossa. Tak sedikit sanak saudaranya yang berkecimpung di dunia pemerintahan.
Salah satu sosok yang paling ikonik tentu saja mendiang pamannya, yang sempat memegang tongkat komando sebagai Gubernur Papua pada periode 2000-2005 silam.
Tolak "tiket emas" Liga Belanda demi Persipura
- Instagram/boazsolossa
Bicara soal skill, kehebatan Boaz memang tidak perlu diragukan lagi. Kontrol bola sehalus sutra serta insting membunuh di depan gawang yang ia miliki tidak hanya menggema di Indonesia, tapi sempat menyeberangi samudera hingga ke Benua Biru.
Klub kasta tertinggi Liga Belanda, VVV-Venlo, bahkan sempat menyodorkan "tiket emas" untuk memboyong Boaz ke panggung elite Eropa.
Bagi pesepak bola lain, tawaran dari Negeri Kincir Angin tentu seperti mimpi yang menjadi nyata.
Namun, Boaz justru membuat jagat sepak bola terperangah dengan keputusan beraninya, yakni menolak tawaran tersebut.
- Instagram @persipurapapua1963
Ia memilih untuk tetap setia pada tanah kelahirannya dan terus mengabdi untuk Persipura Jayapura hingga tahun 2026 ini.
Keputusan tersebut terbukti bukan sebuah kemunduran. Justru dari kesetiaan tanpa batas itulah, era keemasan Persipura lahir.
Boaz menjadi dirigen utama yang sukses membawa tim berjuluk Mutiara Hitam itu merengkuh empat mahkota juara liga pada tahun 2005, 2009, 2011, dan 2013.
Kini, di usianya yang telah menginjak 40 tahun, pesepak bola kelahiran 1986 ini membuktikan bahwa usia hanyalah deretan angka.
Ia juga masih aktif berlari di lapangan hijau, memimpin barisan Persipura Jayapura di kasta kedua kompetisi Liga Indonesia. (ism)