Kiper Timnas Indonesia Terkapar akibat Petasan, Inter Milan Bisa Dihukum Kalah 0-3? - Bolasport
Kiper Timnas Indonesia Terkapar akibat Petasan, Inter Milan Bisa Dihukum Kalah 0-3?
LKiper timnas Indonesia, Emil Audero, terkena lemparan flare saat Cremonese menjamu Inter Milan dalam duel Liga Italia di Stadion Giovanni Zini (1/2/2026). (PIERO CRUCIATTI/AFP)
BOLASPORT.COM - Inter Milan dibayangi sanksi akibat ulah suporter yang melempar petasan ataupun suar (flare) ke arah kiper timnas Indonesia, Emil Audero.
Insiden memalukan ini terjadi pada laga pekan ke-23 Liga Italia tatkala Inter Milan bertamu ke markas Cremonese, Stadion Giovanni Zini, Minggu (1/2/2026).
Pada awal babak kedua, sebuah ledakan berbunyi di area gawang tuan rumah saat Inter membangun serangan.
Kepulan asap membubung hingga menutupi Emil Audero yang sedang menjaga wilayahnya.
Dari balik asap, kiper timnas Indonesia itu tumbang dan terjatuh ke lapangan.
Petasan tersebut terlempar dari arah tribun suporter tandang yang dihuni fan Inter.
Diperkirakan jarak ledakannya 20 sentimeter dari Audero sehingga efeknya terasa walau tidak akut.
Ia sempat terkapar dan menjalani perawatan medis, sementara para pemain Inter Milan memperingatkan suporternya sendiri.
Audero mengalami sedikit luka di kakinya akibat percikan api. Untunglah dia tetap mampu melanjutkan pertandingan.
Hanya tiga menit waktu yang dihentikan untuk memberi Audero waktu kembali ke permainan.
Pihak Inter, Cremonese, hingga media dan pengguna jejaring sosial mengutuk tindakan yang diduga dilakukan fan La Beneamata.
Potensi sanksi bagi anak asuh Cristian Chivu mulai ramai dibahas.
Mulai dari denda, penutupan sebagian area tribun untuk suporter, dan pelarangan melakukan away dibicarakan publik sebagai hukuman yang realistis.
Paling ekstrem, muncul juga desas-desus bahwa Inter mungkin saja dijatuhi sanksi pembatalan hasil pertandingan.
Keunggulan 2-0 yang mereka raih berkat gol Lautaro Martinez dan Piotr Zielinski bakal sia-sia, diganti dengan kemenangan 3-0 bagi Cremonese.
Mungkinkah hal tersebut dilakukan komisi disiplin Lega Serie A?
"Kemungkinan skor 3-0 (untuk kekalahan Inter) harus dikesampingkan," ucap mantan wasit Liga Italia, Luca Marelli, kepada DAZN.
"Solusi ekstrem ini hanya diberlakukan dalam kasus insiden serius yang menyebabkan penghentian total pertandingan."
"Contohnya terjadi dalam laga Salernitana-Sampdoria (2025)."
"Hanya jika petasan lainnya dilemparkan ke lapangan yang menyebabkan laga dihentikan, hal itu baru akan membuat hasil 3-0 diberikan secara otomatis," ujarnya.
Petardo a 20cm da Audero: tragedia sfiorata. In B e C vietate trasferte per molto meno. Ora voglio coerenza. Come per Reggiana e J.Stabia mi aspetto: stop trasferte, curva chiusa, o la sicurezza vale a giorni alterni?#SerieB #GiudiceSportivo #CremoneseInter #Audero #SerieA #Inter pic.twitter.com/txZnIdBvLM
— Vito (@ciccone_vito) February 1, 2026
Insiden laga Salernitana vs Sampdoria di Arechi pada play-off degradasi ke Serie C musim lalu memang lebih parah.
Fan Salernitana menyalakan suar, melempar bom asap, sampai merusak dan melontarkan kursi stadion.
Kekacauan tersebut membuat laga dihentikan secara total dan berujung kemenangan WO 3-0 buat Samp.
"Hakim menjatuhkan denda kepada klub mana pun yang suporternya melemparkan benda-benda, bom asap, atau kembang api ke lapangan," tulis La Repubblica.
"Besaran denda bervariasi tergantung pada tingkat keparahan insiden."
"Jika petasan meledak di dekat pemain, denda yang dimulai dari 10.000 euro (Rp198,7 juta) dapat menjadi sangat berat; dalam hal ini, bisa mencapai 50.000 euro (Rp993,3 juta)."
"Dalam kasus pelanggaran berulang atau keadaan yang memperberat, hukuman dapat lebih serius dan mengakibatkan penutupan bagian tribun stadion (curva) serta pencabutan izin," tulisnya.
Baca Juga: Hasil dan Klasemen Liga Italia - Kompak Menang, Inter Milan dan Juventus Bikin AC Milan Tertekan
Kondisi si korban, dalam hal ini Emil Audero, juga menentukan tingkat keparahan insiden.
Jika yang bersangkutan mengalami cedera parah hingga digantikan atau memicu kericuhan, hukuman bisa bertambah berat.
Sanksi pembatalan hasil pertandingan baru berlaku jika petasan/suar susulan diledakkan ke lapangan dan laga terpaksa dihentikan karena alasan keamanan.
Maka dari itu, Presiden Inter, Beppe Marotta, mengapresiasi sikap profesional Audero yang tetap sigap melanjutkan pertandingan.
Dengan keputusannya tersebut, tingkat keparahan insiden tidak begitu serius dan laga tak perlu ditangguhkan, cuma tertunda beberapa menit.
Audero yang pernah memperkuat Inter dan menjadi bagian skuad juara Liga Italia 2023-2024 juga dipuji tidak bereaksi berlebihan kendati mendapatkan teror dari suporter.
"Insiden itu sungguh gestur yang bodoh dan tidak sportif," ucap Marotta mengkritik pelaku pelemparan.
"Kita harus menunggu sebelum membuat penilaian apa pun selanjutnya."
"Saya berterima kasih kepada Audero karena dengan sikap profesionalismenya yang hebat, ia memungkinkan laga berlanjut dan berakhir sesuai jadwal," ucapnya.