Sempat Cedera Pinggang hingga Tak Bisa Jalan, Cerita Atlet Kota Bogor Yuda Firmansyah Raih Empat Emas SEA Games Thailand - Radar Bogor
Sempat Cedera Pinggang hingga Tak Bisa Jalan, Cerita Atlet Kota Bogor Yuda Firmansyah Raih Empat Emas SEA Games Thailand - Radar Bogor
RADAR BOGOR – Dua bulan sebelum keberangkatan ke SEA Games Thailand, Yuda Firmansyah berada di titik terendah sepanjang kariernya sebagai atlet dayung nasional.
Cedera pada bagian pinggang membuatnya tak bisa berjalan normal, apalagi berlatih. Di saat yang sama, posisi Yuda Firmansyahdi tim nasional justru berada dalam tanda tanya.
Cedera Yuda Firmansyah itu datang pada September hingga Oktober 2025 lalu. Aktivitas latihan terpaksa dihentikan total.
Yuda, yang sudah lebih dari satu dekade menggeluti olahraga dayung, mengaku sempat diliputi rasa frustrasi.
“Waktu itu benar-benar tidak bisa latihan sama sekali. Jalan saja sakit. Sempat kepikiran, apa masih bisa ikut SEA Games,” ujarnya saat diwawancarai Kota Bogor, Senin 5 Januari 2026.
Kondisi itu diperparah dengan sistem latihan di Pelatnas yang melakukan penentuan skuad SEA Games melalui rekap hasil latihan.
Waktu yang singkat, kondisi fisik belum sepenuhnya pulih, dan tekanan seleksi membuat situasinya semakin berat.
Namun, Yuda memilih bertahan. Dukungan keluarga menjadi salah satu alasan utama ia bangkit.
Perlahan, cedera membaik. Ia kembali berjalan, kembali mendayung, dan mengejar ketertinggalan dalam waktu yang nyaris tak masuk akal.
Hasilnya berbanding terbalik dengan keraguan yang sempat menghampirinya. Di SEA Games Thailand, Yuda tampil di cabang dayung nomor dragon boat dan turun di empat nomor.
Seluruhnya berakhir dengan medali emas. Ia menyumbang emas pada nomor 12 pendayung putra jarak 200 meter dan 500 meter, serta nomor 22 pendayung campuran jarak 200 meter dan 500 meter.


“Alhamdulillah, bisa turun di empat nomor dan semuanya emas. Itu buah dari kekompakan tim dan kerja keras selama latihan,” katanya.
Bagi Yuda, raihan tersebut bukan sekadar prestasi sesaat. SEA Games Thailand menjadi penampilan keempatnya sepanjang karier. Menariknya, dari setiap keikutsertaan, ia selalu pulang membawa medali emas.
Di SEA Games Filipina ia meraih emas dari dua nomor, di Vietnam satu emas, dan di Thailand menyapu bersih empat emas.
Konsistensi itu tidak datang secara instan. Yuda mulai mengenal olahraga dayung sejak duduk di bangku kelas 2 SMP pada 2010.
Lingkungan Danau Jatiluhur, Purwakarta tempat ia tumbuh menjadi pintu masuknya ke dunia dayung.
Ketertarikan awal berkembang menjadi keseriusan setelah ia lolos seleksi dan masuk Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Jawa Barat saat SMA. “Awalnya cuma coba-coba. Tapi pelatih melihat ada potensi, lalu dibina terus,” ujarnya.
Latar belakang keluarga yang sederhana membuatnya terbiasa bekerja keras. Setelah lulus SMA, Yuda fokus penuh sebagai atlet dan masuk Timnas Junior. Medali demi medali mulai diraih, termasuk emas pada PON Riau 2012.
Selain SEA Games, Yuda juga telah mencicipi panggung internasional. Pada Agustus lalu, ia tampil di ajang World Games dan membawa pulang tiga medali emas serta dua perak. Untuk level Asia, terakhir ia meraih satu emas dan satu perak di Asian Games Cina.
Meski dikenal sebagai spesialis dragon boat, Yuda juga pernah turun di nomor perorangan seperti kano.
Bahkan saat nomor dragon boat tidak dipertandingkan di SEA Games Vietnam, ia tetap mampu bersaing dan meraih medali.
Menurut Yuda, kunci kemenangan di nomor dragon boat bukan hanya kekuatan fisik, tetapi kekompakan dan teknik yang seimbang.
Hal itu menjadi tantangan tersendiri, terutama di nomor campuran putra-putri. “Harus benar-benar sinkron. Kalau tidak kompak, pasti kelihatan di perahu,” katanya.


Raihan di SEA Games Thailand juga semakin lengkap dengan keberadaan adiknya, Ikballana Ikhsan. Ikbal juga merupakan atlet dayung yang membawa pulang tiga emas di SEA Games perdananya.
Kini, setelah melewati cedera dan tekanan seleksi, empat emas dari Thailand menjadi penegasan bahwa perjuangannya belum berakhir.
Bagi Yuda Firmansyah, bertahan di masa sulit adalah kemenangan pertama—emas hanyalah penutupnya. (uma)