0
News
    Home Berita Featured Piala Dunia Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial

    Apa yang Terjadi Jika Piala Dunia 2026 Batal Digelar? Ada 4 Kerugian Versi Pengamat - Tribunnews

    11 min read

     

    Apa yang Terjadi Jika Piala Dunia 2026 Batal Digelar? Ada 4 Kerugian Versi Pengamat



    Banyak kerugian yang akan terjadi jika Piala Dunia 2026 batal digelar setelah munculnya isu pemboikotan.

    Apa yang Terjadi Jika Piala Dunia 2026 Batal Digelar? Ada 4 Kerugian Versi Pengamat
    Ringkasan Berita:1. FIFA akan mengalami kerugian lebih dari Rp 3 triliun.
    2. Sepak bola dunia akan kehilangan para pemain bintang.
    3. Suara boikot dari Argentina dan Brasil akan diikuti negara-negara lain.   

     

    SURYAMALANG.COM - Banyak kerugian yang akan dialami para bintang sepak bola jika Piala Dunia 2026 batal digelar setelah munculnya isu pemboikotan.

    Tak hanya itu, Fédération Internationale de Football Association (FIFA) terancam batal mendapatkan hak siar lebih dari Rp 3 triliun.

    Beberapa hari ini, isu pemboikotan Piala Dunia 2026 muncul setelah Presiden Ameriksa Serikat Donald Trump menginvasi Greenland, Denmark.

    Sementara, negara-negara Eropa menolak invasi yang akan dilakukan Amerika Serikat ke Greenland.

    Namun, Donald Trump malah mengancam akan menaikkan tarif dagang kepada negara-negara eropa yang menolak kebijakannya tersebut.

    Seperti diketahui, Piala Dunia 2026 rencananya digelar di tiga negara di benua Amerika pada 11 Juni hingga 19 Juli. 

    Tiga negara yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 adalah Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

    1. Kekacauan di dunia sepak bola

    SURYAMALANG.COM menyadur dari Kompas.com menyampaikan analisis pejabat Asosiasi Sepak Bola Jerman, Oke Gottlich.

    Kepada surat kabar Hamburger Morgenpost, Oke Gottlich menyatakan FIFA seharusnya mulai mempertimbangkan boikot Piala Dunia 2026 karena tingkah politik Donald Trump.

    "Saya benar-benar bertanya-tanya kapan waktunya untuk memikirkan dan membicarakan hal ini [boikot] secara konkret," ujar Oke Gottlich dikutip Kompas.com dari Sportbible.

    "Bagi saya, saatnya (boikot) telah tiba."

    Menurut Oke Gottlich, jika skenario boikot Piala Dunia terjadi, maka akan ada kekacauan besar yang akan terjadi dan dialami oleh sepak bola dunia.

    Baca juga: Kabar John Herdman Bakal Melatih Timnas Indonesia Sudah Didengar Media Jepang, Ada Label Piala Dunia

    2. Argentina dan Brasil berperan penting 

    Masih disadur dari Kompas.com, Rob Wilson, seorang pakar keuangan sepak bola menilai Argentina sebagai juara bertahan dan Brasil yang menjadi tim ikonik di Piala Dunia memiliki peranan besar.

    Menurut Wilson kerusakan di sepak bola akan terlihat besar jika Argentina atau Brasil menyerukan boikot.

    "Tim-tim lain mungkin akan mengikuti jejak mereka, dan kemudian Anda bisa berakhir dengan sebuah benua dan federasinya juga ikut menarik diri," katanya kepada BettingLounge.

    Menurutnya, tim dari Amerika Selatan merupakan pemain besar di Piala Dunia dan cukup ikonik di turnamen ini.

    "Misalnya, negara-negara Amerika Selatan bersatu dan memboikot kompetisi secara sepihak, di situlah masalahnya menjadi sangat rumit karena Anda telah menyingkirkan seluruh asosiasi dan negara," jelasnya.

    3. Kerugian capai Rp 33 triliun

    Berapa kerugian jika ada pemboikotan?

    Wilson kerugian bisa mencapai 2 miliar dolar AS (Rp33,5 triliun).

    Menurutnya, uang itu hanya dari pendapatan penyiaran.

    "Anda mungkin kehilangan pendapatan penyiaran sekitar 700 juta dolar hingga 1 miliar dolar, dan kemudian ada kerugian di sisi pemasaran," bebernya.

    "Anda tidak dapat mengaktifkan perjanjian sponsor Anda di wilayah-wilayah tersebut. Hal itu bahkan akan mengurangi jumlah uang yang dapat disumbangkan FIFA ke wilayah-wilayah berkembang, yang mana terdapat beberapa negara berkembang besar di Amerika Selatan."

    "Yang perlu kita ingat juga adalah jika terjadi boikot, jumlah pertandingan yang akan dimainkan akan berkurang, sehingga biaya penyelenggaraan juga akan terbebani."

    "Pengurangan jumlah pertandingan jelas akan berdampak di tingkat kota dan itu akan bergantung pada negara mana yang akan memboikot Piala Dunia. Angka-angkanya bisa menjadi sangat buruk dengan cepat," sambungnya.

    4. Merusak wajah sepak bola

    Wilson mengatakan pemboikotan Piala Dunia akan merusak wajah sepak bola dunia termasuk nilainya secara filosofis.

    Piala Dunia akan kehilangan banyak "pemain" besarnya di waktu yang akan datang.

    Ia mengatakan, boikot semacam itu akan mengurangi legitimasi kompetisi apa pun, termasuk Piala Dunia.

    "Hal itu merendahkan nilainya secara filosofis. Ketika AS atau Rusia memboikot Olimpiade, Anda tidak benar-benar tahu, apakah Anda masih bersaing dengan yang terbaik di dunia."

    "Itu menimbulkan banyak kerusakan, terutama jika Piala Dunia kehilangan beberapa pemain besarnya."

    "Hal itu akan menimbulkan kerusakan yang tak terhitung bagi sepak bola dunia," tambah Wilson.

    Pemerintah Jerman dukung boikot Piala Dunia 2026

    Disadur dari Kompas.com, laporan dari Tutto Mercato Web menulis dalam beberapa hari terakhir, suara-suara di Jerman semakin mendukung boikot Piala Dunia 2026.

    Meski mendukung boikot, pemerintah Jerman pada Selasa memastikan menyerahkan kewenangan kepada Asosiasi Sepak Bola Jermaan (DFB) untuk memutuskan akan ikut Piala Dunia 2026 atau tidak.

    "Keputusan tentang partisipasi atau kemungkinan boikot terhadap acara internasional besar sepenuhnya merupakan tanggung jawab federasi olahraga terkait, bukan politisi," kata Sekretaris Negara untuk Olahraga Christiane Schenderlein dalam sebuah pernyataan kepada AFP.

    Desakan Status Tuan Rumah Dicabut

    Kecaman hingga boikot sempat disampaikan oleh 23 anggota parlemen Inggris dari empat partai yaitu Partai Buruh, Partai Liberal Demokrat, Partai Hijau, dan Plaid Cymru.

    Mereka menandatangani mosi di parlemen yang menyerukan kepada badan-badan olahraga internasional untuk mempertimbangkan pengusiran AS dari kompetisi internasional utama, termasuk Piala Dunia, menurut BBC.

    Beberapa pihak juga menyarankan agar AS dicabut haknya untuk menjadi tuan rumah bersama turnamen tersebut.

    Kebijakan yang paling krusial adalah saat Donald Trump mengumumkan pembatasan perjalanan, baik dengan memblokir atau sangat membatasi warga dari 12 negara untuk bepergian ke AS pada Juni 2025.

    Beberapa negara belakangan masuk ke dalam daftar blokir visa termasuk peserta Piala Dunia 2026.

    Sampai pada Rabu (14/1/2026), pemerintahan Trump mengumumkan bahwa mereka telah menangguhkan pemrosesan visa imigran dari 75 negara tanpa batas waktu.

    Sejumlah negara peserta yang terdampak di antaranya Brasil, Kolombia, Mesir, Ghana, Yordania, Maroko, Tunisia, dan Uruguay.

    Respons Pemerintah AS

    Pejabat dari Departemen Luar Negeri AS telah angkat bicara tentang bagaimana larangan visa Donald Trump dapat berdampak pada penggemar yang bepergian ke Piala Dunia FIFA 2026.

    Berbicara ke Mirror, pejabat itu menegaskan larangan visa tidak akan memengaruhi Piala Dunia.

    Meski begitu, beberapa penggemar bertanya-tanya apakah mereka bisa ditolak di perbatasan.

    Menurutnya, larangan hanya berlaku untuk visa imigran dan tidak memengaruhi visa non-imigran termasuk turis, atlet, dan keluarga, serta profesional media.

    "Larangan tersebut hanya berlaku untuk penerbitan visa imigran, dan tidak berlaku untuk visa non-imigran, seperti visa untuk turis, atlet dan keluarga mereka, serta profesional media yang bermaksud melakukan perjalanan untuk Piala Dunia," ujarnya.

    Tommy Pigott, Wakil Juru Bicara Utama Departemen Luar Negeri AS, juga memberi keterangan di balik alasan pembekuan visa tersebut.

    Ia mengatakan jika upaya tersebut untuk mencegah masuknya warga negara asing yang akan mengambil tunjangan kesejahteraan dan manfaat publik.


    Komentar
    Additional JS