Sosial Media
Live Skor Bola - Flashscore
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial Timnas Thailand

    Bahaya Politik Naturalisasi, Kisah Tragis Pemain Keturunan yang Tertipu Oknum Federasi - Semua Halaman - Superball

    7 min read


    SUPERBALL.ID - Sisi lain naturalisasi perlihatkan kejamnya aturan bela negara jika politik ikut dimainkan di dalamnya, pemain Belanda sampai mengemis agar paspor tak disita. 

    Naturalisasi menjadi andalan sejumlah negara yang ingin memperkuat tim nasionalnya, baik menyasar pemain asing dan keturunan. 

    Untuk sejumlah negara, program ini dapat berjalan lancar karena dilakukan sesuai aturan dan ketentuan naturalisasi yang berlaku di tempat. 

    Indonesia termasuk salah satu negara yang mengandalkan naturalisasi dalam memperkuat tim nasional sejak 2010. 

    Awalnya menyasar pemain asing tapi fokus beralih ke pemain keturunan hingga 2026, hasilnya raihan gelar juara di FIFA ASEAN Cup 2026.

    Di mana Indonesia mampu mengalahkan Thailand di partai final, rival yang sangat sulit ditaklukan dalam tujuh laga final Piala AFF. 

    Setidaknya sampai saat ini belum ada masalah serius dalam program naturalisasi Indonesia, lain cerita dengan negara lain yang juga menerapkan sistem ini. 

    Seperti misalnya Suriname, negara yang memiliki banyak pemain keturunan Belanda di dalam skuadnya tengah dilanda masalah pelik. 

    Masalah ini justru membuat para pemainnya dalam kesulitan setelah politik ikut campur dalam proses perekrutan pemain. 

    Baca Juga: Dinaturalisasi Malah Ngelawak, 4 Pemain Keturunan Vietnam Bikin Kim Sang-sik Sakit Kepala

    Henk Fraser selaku pelatih Timnas Suriname pun angkat bicara, ia menyayangkan sejumlah pemain yang terdampak dari kasus ini. 

    "Anda hanya berurusan dengan orang-orang yang mengikuti kata hati mereka, yang ingin bermain sepak bola untuk Suriname," kata Henk Fraser. 

    "Akan tetapi sekarang tidak tahu di mana posisi mereka. Mereka dihukum tanpa ampun dengan cara ini. Saya merasa itu benar-benar tidak dapat dipahami," imbuhnya. 

    Pengakuan Jean-Paul Boetius, pemain kelahiran Belanda yang saat ini kewarganegaraannya berstatus Suriname, ia terkejut saat paspor Belanda miliknya akan disita. 

    Boetius lahir di Rotterdam, ia tumbuh besar dan berkembang dengan sepak bola Belanda sejak bergabung akademi Feyenoord. 

    Ia juga pernah membela Timnas Belanda meski hanya sekali pada 2014, hingga pada Juli 2025 ia resmi mencatatkan debut bersama Timnas Suriname. 

    Sejak saat itu Boetius telah mencatatkan sembilan caps tanpa gol dan assist, cerita manis itu berubah saat Pemerintah Kota Rotterdam akan menyita paspornya. 

    Boetius terkejut, ia bahkan baru mengetahui bahwa ia diberi izin tinggal di Belanda hanya selama satu tahun ke depan setelah paspornya diminta. 

    Baca Juga: Ketagihan Naturalisasi! Timnas Vietnam Keluarkan Striker Nigeria dari Kandang

    Ia mengaku tidak ingin berada dalam situasi ini, berharap paspornya tidak disita dan kembali menjadi warga negara Belanda lagi. 

    "Surat itu menyatakan bahwa saya harus menyerahkan paspor Belanda saya dalam waktu dua minggu," kata Jean-Paul Boetius. 

    "Saat ini saya memiliki stiker di paspor Suriname saya, yang memberi saya izin tinggal untuk tinggal di Belanda. Namun, itu hanya berlaku untuk satu tahun lagi."

    "Ini situasi yang sangat tidak menyenangkan. Saya hanya ingin menjadi warga negara Belanda lagi. Saya lahir dan dibesarkan di sini."

    Boetius menjadi korban politik praktis oknum federasi dalam naturalisasi, ia tidak mengetahui konsekuensi dwi kewarganegaraan yang dianut Belanda dan Suriname. 

    Ia mengaku disesatkan oleh oknum federasi yang menyebut pemberian kewarganegaraan Suriname dengan paspor olahraga meski hanya fiktif belaka. 

    Boetius mungkin tidak paham konsekuensi naturalisasi dari negara yang tidak menganut dwi kewarganegaraan. 

    Jika warga negara Belanda mengambil kewarganegaraan lain secara sukarela, mereka akan kehilangan kewarganegaraan Belanda-nya. 

    Baca Juga: Pelatih JDT Bicara Kans Kembalinya 4 Pemain Naturalisasi Palsu Malaysia

    Hukum di Suriname juga tidak memperbolehkan kewarganegaraan ganda, apabila seseorang memilih atau memperoleh kewarganegaraan negara lain. 

    Parahnya lagi, oknum federasi yang membujuknya untuk bergabung Suriname sudah tidak bekerja lagi di federasi negara yang bersangkutan. 

    "Saya sangat bangga bahwa saya diizinkan bermain untuk Suriname, tetapi sangat disayangkan bahwa hal ini terjadi seperti ini," kata Boetius. 

    "Baik saya maupun pemain lain merasa disesatkan oleh orang-orang yang, ngomong-ngomong, sudah tidak bekerja lagi untuk federasi Suriname."

    "Mereka menciptakan apa yang disebut paspor olahraga. Namun, kenyataan paspor seperti itu sama sekali tidak ada," pungkasnya. 

    Ini dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia, agar menyaring pemain-pemain keturunan yang hanya benar-benar ingin menjadi WNI. 

    Bukan sekadar menerima iming-iming dari oknum yang tidak bertanggung jawab seperti yang dialami Boetius di Suriname. 

    Kejadian seperti ini mungkin juga menjadi alasan bagi PSSI tak lagi mematok Belanda sebagai gudang pemain keturunan dan memilih mencari di negara Eropa lainnya. 

    Komentar
    Additional JS