Timnas Indonesia Sang Raja ASEAN dan Seni Motivasi "Pak Guru" Herdman - Kompas
KOMPAS.com - Elkan Baggott dengan bangga mengatakan bahwa Timnas Indonesia sekarang adalah raja di ASEAN. Ada peran dari seni motivasi "pak guru" John Herdman.
Seorang bernama Elkan William Tio Baggott lahir di Bangkok, Thailand, pada 23 Oktober 2002. Ia merupakan putra dari ayah berkewarganegaraan Inggris dan Ibu berpaspor Indonesia.
Selang 24 tahun kemudian, siapa sangka Elkan Baggott mampu mengalahkan negara tanah kelahirannya dalam ajang FIFA ASEAN Cup 2026.
Baca juga: Ranking FIFA Timnas Indonesia Usai Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Apakah ada perasaan mengganjal di hati Baggott? Yang jelas, hatinya Merah Putih.
Hasil Timnas Indonesia Vs Thailand, Drama Adu Penalti, Garuda Juara FIFA ASEAN Cup!
"Namun, satu hal yang pasti, kami semua mencintai negara ini dan ingin selalu mewakilinya," kata Elkan Baggott dalam sesi konferensi pers usai laga final FIFA ASEAN Cup 2026 pada Senin (5/10/2026) yang turut dihadiri oleh KOMPAS.com.
"Seperti yang saya katakan, saya sangat bangga menjadi orang Indonesia hari ini. Dan ya, kami adalah raja Asia Tenggara," tutu pemain yang kini membela Milwall itu bangga.
Baca juga: Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup, Elkan Baggott Sebut Garuda Raja Asia Tenggara
Bukan hanya Elkan Baggott yang bangga. Ada 280 juta jiwa yang bersukacita terhadap keberhasilan Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026.
"280 million reasons (280 juta alasan)" adalah salah satu baris kata-kata penyemangat yang ditampilkan oleh pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, di ruang ganti Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Lihat Foto
280 Juta Harapan
Timnas Indonesia membawa harapan dari 280 juta jiwa yang merindukan nikmat juara.
Baca juga: Usai Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Lalu Lintas Sekitar GBK Macet Parah hingga Dini Hari
Sudah 35 tahun lamannya pendukung setia Timnas Indonesia menantikan momen tim kesayangan angkat trofi.
Elkan Baggott bahkan belum lahir ketika Timnas Indonesia menjadi juara SEA Games 1991 di Manila.
Siapa yang menyangka setelah jadi raja Asia Tenggara di SEA Games 1991, Timnas Indonesia harus puasa gelar begitu lamanya di level senior.
Baca juga: Kisah Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 Jadi Bahasan Media Belanda
Setelah itu, Timnas Indonesia selalu hanya sampai di kata hampir. Kegagalan demi kegagalan menghampiri, termasuk kekalahan di enam final ajang Piala AFF yang dulu bernama Piala Tiger.
Luka itu nyatanya menjadi bahan bakar hebat bagi Timnas Indonesia asuhan John Herdman.
"Pelatih sebenarnya sempat menunjukkan kepada kami sebuah video montase di hotel sebelum pertandingan. Isinya tentang semua kekalahan kami di final sebelumnya," kata Elkan Baggott menuturkan.
Baca juga: Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Warga Jakut: Mau Teriak, Mau Nangis Juga
"Ada juga cuplikan final AFF ketika kami kebobolan melawan Thailand," ucap bek berpostur 196 cm tersebut.
Selama ini, ketika berlaga dalam sebuah final ajang senior, seolah seperti ada tembok yang menghalangi Timnas Indonesia dengan trofi juara.
Tapi, kesuksesan selalu datang kepada mereka yang punya keyakinan. Itulah anak asuh John Herdman.
Baca juga: Euforia Warga Bekasi Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Sorak-sorai Menggema di Stadion Patriot
"Tim ini menunjukkan karakter kuat. Hal terpenting adalah, jangan menyerah," kata kiper Timnas Indonesia, Emil Audero, usai final FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand.
“Roller coaster. Pasang dan surut. Gol terakhir Thailand bisa membunuh siapa saja, tapi bukan kami. Kami memutuskan untuk tak menyerah, kami terus percaya sampai akhir,” tutur penjaga gawang Rayo Vallecano tersebut.
Tembok penghalang seperti belum hilang bagi Indonesia ketika berjumpa Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026.
Baca juga: Prabowo soal Bonus untuk Timnas RI: Diatur oleh Ketum PSSI
Bola seperti ogah masuk, meski Timnas Indonesia tampil dominan. Gol Dean James segera dibalas oleh Iklas Sanron di pengujung laga. Extra time pun harus dilangsungkan.
Siapa sangka Thailand yang mentas dengan 10 orang sejak menit ke-81 malah bisa unggul di masa tambahan waktu via Peeradol Chamrasamee.
Beruntung pemuda kelahiran Bangkok, Elkan Baggott, bisa menyetarkan skor dan membawa laga ke adu penalti.

Lihat Foto
Baca juga: Timnas Indonesia Juara, Gebah Hantu Adu Penalti Lawan Thailand
Seni Motivasi John Herdman
Soal adu penalti melawan Thailand, ada bayang-bayang kelam untuk Timnas Indonesia. Skuad Garuda tahu betul pahit kekalahan adu penalti melawan Thailand di ajang SEA Games 1997 dan final Piala AFF 2002, yang sama-sama digelar di GBK.
Tetapi, keyakinan pasukan Herdman sukses menghancurkan tembok penghalang itu. Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama sukses menjaringkan bola dari titik 12 pas.
Begitu Emil Audero membuat penyelamatan untuk tembakan Nattapong Sayriya, GBK pun berpesta.
"Saya bangga kepada para pemain atas apa yang mereka berikan satu sama lain dan kepada negara ini. Saya juga bangga kepada para suporter yang terus bersama kami hingga tendangan penalti terakhir dan penyelamatan Emil Audero," ujar John Herdman.
"Ini adalah momen yang sangat membanggakan bagi Indonesia. Trofi pertama dalam sejarah," kata pelatih kelahiran Consett, Inggris itu.
Baca juga: Hasil Timnas Indonesia Vs Thailand 2-2 (ap 4-2): Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup!
Herdman yang pernah bekerja sebagai guru olahraga di kampung halamannya, Consett, Inggris, membuktikan bahwa dirinya masih jago memberikan motivasi kepada pemain.
Montase kekalahan Timnas Indonesia dalam laga final yang ia suguhkan kepada pemain bukan untuk membuka luka lama, tetapi justru membuka pintu harapan baru.
Konsep "brotherhood" yang coba disuntikkan Herdman ke Timnas Indonesia pun mulai terlihat. Pemain bersatu padu, berjalan ke satu tujuan.
Baca juga: Timnas RI Memang Lawan Thailand, Prabowo: Gembira, Ini Membanggakan!
Tanpa spirit persaudaraan, mungkin Timnas Indonesia sudah kalah ketika mentas dengan 10 orang dalam duel fase grup FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Malaysia.
Atau, Skuad Garuda juga barangkali patah arah ketika harus mengejar banyak gol dalam laga melawan Bangladesh, mengingat di tempat lain Malaysia menang 6-0 atas Singapura.
Jawaban pasukan Herdman adalah kemenangan 9-2. Skor yang mengantar Timnas Indonesia sampai ke final FIFA ASEAN Cup 2026.
Baca juga: Kebakaran Tenggarong Hanguskan Lebih dari 50 Rumah, Damkar Terkendala Akses dan Air
Herdman mampu memantik kemampuan terbaik dari anak asuhnya. Pelatih 51 tahun itu selalu punya cara untuk mengeluarkan potensi maksimal pemain.
Semasa bertugas sebagai asisten untuk Eliott Dickman, di tim U9 Sunderland, John Herdman pernah memutar musim samba khas Brasil dalam sesi latihan.
Tujuannya adalah mendorong para pemain muda bergerak dengan lebih bebas. Herdman juga membawa bola ukuran satu yang diberi beban berat ke dalam latihan guna meningkatkan kemampuan kontrol serta kekuatan pemain dalam menguasai bola.
Ia ingin pemain bisa bergerak dengan lebih leluasa saat pertandingan.
“Pada masa itu, metode kepelatihan di Inggris masih sangat tradisional,” kata Dickman dilansir dari The Athletic.
“Pelatih tidak membimbing, melainkan menuntut. Alih-alih terus memberi instruksi, John justru sangat menekankan pada mengajukan pertanyaan kepada para pemain. ‘Menurut kalian, apa yang seharusnya kita lakukan dalam situasi dua lawan satu?’ tanyanya kepada anak-anak."
Baca juga: Pertarungan Nadiem vs Jaksa Berlanjut ke Arena Kasasi
"Keberanian dan keteguhan yang ia tunjukkan untuk melakukan apa yang ia lakukan sungguh luar biasa,” ujar Elliott Dickman menuturkan pengalamannya bekerja bersama John Herdman.
Dedikasi
John Herdman sendiri menghadapi tantangan dalam tugasnya sebagai pelatih Timnas Indonesia. Komparasi dengan pelatih lama jelas jadi sebuah hal yang tak bisa dihindari.
Satu hal yang pasti, Herdman kini bisa tidur nyenyak karena sukses menghadirkan trofi. Justin Hubner pernah menggambarkan dedikasi besar John Herdman dengan menyebut sang pelatih bekerja 24 jam sehari.
"Saya capek. Tidur, tidur, tidur. Saya bersama istri saya, Claire. Saya juga harus mengucapkan terima kasih yang besar kepada Claire. Dia selalu membuat semuanya tetap tenang. Dia adalah yang terbaik," tutur "pak guru" Herdman yang juga pernah mengajar secara paruh waktu di Universitas Northumbria departemen ilmu keolahragaan.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
