Sosial Media
Live Skor Bola - Flashscore
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Fisioterapis Kesehatan Spesial

    Tak Hanya untuk Atlet Cedera, Fisioterapi Juga Bisa Membantu Lansia Tetap Aktif, Bagaimana Caranya? - Tribunnews

    10 min read

     


    Tak Hanya untuk Atlet Cedera, Fisioterapi Juga Bisa Membantu Lansia Tetap Aktif
     


    Ringkasan Berita:
    • Fisioterapi dapat membantu lansia menjaga kekuatan otot, kelenturan sendi, keseimbangan, dan kemampuan bergerak.
    • Latihan perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, termasuk lansia dengan osteoarthritis atau pengapuran sendi.
    • Pemulihan atlet membutuhkan latihan terukur untuk mengembalikan fungsi tubuh sebelum kembali bertanding.

    Alfarizy Ajie Fadhilah/Tribunnews.com

    TRIBUNNEWS.COM - Fisioterapi tidak hanya dibutuhkan atlet yang mengalami cedera atau pasien yang menjalani pemulihan setelah operasi.

    Bagi kelompok lanjut usia (lansia), terapi fisik juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kekuatan otot, kelenturan sendi, dan kemampuan bergerak agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan.

    Namun, latihan untuk lansia tidak bisa disamakan dengan program kebugaran bagi orang yang lebih muda.

    Intensitas, jenis gerakan, serta pendampingan perlu disesuaikan dengan kondisi fisik dan kemampuan masing-masing individu.

    Pendekatan tersebut menjadi salah satu layanan yang diperkenalkan WM Center saat membuka cabang ke-12 di Sunter, Jakarta Utara.

    Selain menangani pemulihan cedera olahraga, fasilitas ini menghadirkan WM Class, yakni kelas latihan berkelompok yang didampingi fisioterapis dan salah satunya ditujukan bagi lansia.

    Pendiri WM Class yang merupakan fisioterapis profesional, Windy Mayang S Sst Kes Ftr, menjelaskan, kelas tersebut menggunakan pola pendampingan dalam kelompok kecil.

    Dalam satu sesi, tiga pasien lansia akan didampingi seorang fisioterapis.

    "Layanan khusus yang tadi kita launching adalah WM Class, di mana perform rata-rata untuk lansia. Karena berkelompok, nanti akan secara berkelompok. Jadi, tiga pasien lansia, satu fisioterapi," kata Windy.

    Mengapa Lansia Membutuhkan Latihan Fisik?

    Seiring bertambahnya usia, kekuatan otot, kelenturan, keseimbangan, dan kemampuan sendi dapat mengalami penurunan.

    Kondisi ini bisa membuat aktivitas sederhana, seperti berjalan, berdiri dari kursi, naik tangga, atau menjaga keseimbangan tubuh, menjadi lebih sulit.

    Latihan fisik yang tepat dapat membantu mempertahankan kemampuan tersebut.

    Windy menjelaskan, dalam fisioterapi, program latihan biasanya disesuaikan dengan keluhan, riwayat kesehatan, kemampuan gerak, dan tujuan terapi pasien.

    Salah satu kondisi yang kerap ditemukan pada lansia adalah osteoarthritis atau pengapuran sendi, terutama di lutut.

    Keluhan ini dapat menimbulkan nyeri dan kekakuan yang membatasi gerak. Meski demikian, bukan berarti penderita harus berhenti bergerak.

    Aktivitas yang sesuai justru dapat membantu menjaga fungsi sendi dan kekuatan otot di sekitarnya.

    Windy mengatakan, latihan bagi lansia dengan kondisi tersebut dapat mencakup penguatan otot atau strengthening dan peregangan atau stretching.

    "Kalau lansia, berarti harus di-strengthening dulu. Strengthening-nya secara berkala, kemudian stretching dibanyakin, karena pasti hamstring-nya juga tight," ujarnya.

    Jenis dan intensitas latihan tetap perlu ditentukan berdasarkan kondisi pasien. Pada penderita osteoarthritis, misalnya, latihan yang terlalu berat atau gerakan yang tidak sesuai justru dapat memperburuk keluhan.

    Karena itu, pemeriksaan dan pendampingan profesional menjadi bagian penting sebelum menjalani program latihan.

    Latihan Berkelompok agar Lansia Tidak Cepat Jenuh

    Selain aspek fisik, motivasi juga menjadi tantangan dalam menjalani program latihan secara rutin. Sebagian orang dapat kehilangan semangat ketika latihan terasa monoton atau harus dilakukan sendiri dalam jangka panjang.

    WM Class mencoba menjawab persoalan tersebut melalui latihan berkelompok. Menurut Windy, keberadaan komunitas diharapkan membuat peserta lebih nyaman dan tidak mudah jenuh selama menjalani program.

    "Mereka memiliki komunitas di mana mungkin tidak akan mengalami kejenuhan," katanya.

    Meski dilakukan bersama-sama, latihan tetap harus memperhatikan kebutuhan setiap peserta. Kemampuan fisik lansia tidak selalu sama, bahkan ketika mereka memiliki diagnosis atau keluhan yang serupa.

    Karena itu, gerakan yang diberikan perlu disesuaikan agar setiap peserta memperoleh manfaat tanpa dipaksa melampaui batas kemampuannya.

    Windy juga menekankan pentingnya pendekatan psikologis dan komunikasi ketika menangani pasien lansia.

    Menurut dia, terapis perlu memahami kondisi pasien serta membangun komunikasi yang baik selama proses terapi.

    "Kalau misalkan lansia, memang kan WM ini terkenal dengan kata bongkar yang orang jerit-jerit. Dengan pasien-pasien lansia ini, yang pertama kita harus mengedepankan psikis dari lansia tersebut. Kemudian yang ketiga, pasien lansia itu membutuhkan komunikasi yang lebih signifikan," tuturnya.

    Pendekatan tersebut penting karena rasa takut terhadap nyeri atau cedera dapat membuat seseorang enggan bergerak. Dengan komunikasi yang jelas dan latihan bertahap, pasien diharapkan lebih memahami tujuan setiap gerakan serta merasa aman saat menjalani terapi.

    Fisioterapi Juga Penting bagi Pemulihan Atlet

    Di luar program untuk lansia, WM Center Sunter menyediakan area gym untuk menunjang pemulihan pasien setelah operasi dan cedera olahraga, termasuk cedera anterior cruciate ligament (ACL) dan meniskus pada lutut.

    Dalam olahraga kompetitif, pemulihan bukan sekadar menghilangkan rasa nyeri. Atlet juga perlu mengembalikan kekuatan, rentang gerak, keseimbangan, koordinasi, dan kemampuan melakukan gerakan spesifik sesuai cabang olahraga yang ditekuni.

    Atlet yang pulih dari cedera lutut, misalnya, belum tentu siap langsung kembali bertanding hanya karena sudah dapat berjalan tanpa rasa sakit. Proses kembali berolahraga perlu mempertimbangkan hasil evaluasi fungsi tubuh dan kesiapan melakukan gerakan dengan intensitas tinggi.

    Windy mengatakan, sejumlah atlet dari cabang sepak bola, voli, bulu tangkis, basket, hingga lari pernah memanfaatkan layanan WM Center.

    Ia berharap fasilitas di Sunter dapat menjangkau lebih banyak komunitas olahraga, terutama di kawasan Jakarta Utara yang sebelumnya belum memiliki cabang WM Center.

    Ia juga menyoroti kebutuhan pemulihan atlet lari yang menjalani latihan dan kompetisi jarak jauh. Windy menyebut pelari maraton Robi Syianturi sebagai salah satu atlet yang ingin ia lihat memanfaatkan fasilitas tersebut.

    "Kebetulan sekarang banyak atlet lari karena ada pro elite, si maraton tersebut. Saya berharap Robi Syianturi yang datang ke sini. Karena dia sudah maraton 42 kilometer, sekitar pace-nya 3, itu butuh recovery," ujar Windy.

    Lansia Bisa Berolahraga, tetapi Programnya Harus Tepat

    Pada dasarnya, usia lanjut bukan alasan untuk menghentikan aktivitas fisik.

    Sebaliknya, menjaga kekuatan otot, keseimbangan, kelenturan, dan kemampuan berjalan menjadi bagian penting untuk mempertahankan kemandirian saat menjalani aktivitas sehari-hari.

    Fisioterapi dapat membantu menyusun latihan sesuai kebutuhan, terutama bagi lansia yang mengalami nyeri sendi, kelemahan otot, gangguan keseimbangan, atau keterbatasan gerak.

    Namun, tidak semua lansia memerlukan fisioterapi dengan intensitas atau jenis latihan yang sama.

    Bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta, riwayat jatuh, nyeri berat, atau keterbatasan gerak yang signifikan, evaluasi tenaga kesehatan diperlukan sebelum memulai program latihan.

    Tujuannya bukan mengejar intensitas tinggi, melainkan meningkatkan kemampuan fisik secara bertahap dan aman.

    Baik bagi lansia maupun atlet, prinsipnya serupa: latihan perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh, dilakukan secara konsisten, dan dievaluasi berdasarkan perkembangan kemampuan fisik.

    Perbedaannya terletak pada sasaran akhir—lansia berupaya mempertahankan mobilitas dan kemandirian, sedangkan atlet perlu kembali memenuhi tuntutan fisik cabang olahraganya.

    Komentar
    Additional JS