Sempat Hampir Menyerah, Barce Layaba Bangkit dan Raih Perunggu Asian Para Games 2026 - Metta News
NAGOYA, MettaNEWS – Keterbatasan fasilitas dan minimnya teman berlatih sempat membuat Barce Layaba berpikir untuk meninggalkan tenis meja. Namun, keputusan untuk bangkit dan melanjutkan karier olahraga membawanya meraih medali perunggu pada debutnya di Asian Para Games 2026.
Atlet para tenis meja Indonesia itu memastikan medali perunggu dari nomor tunggal putra klasifikasi TT4-5 setelah melaju hingga semifinal di Sky Hall Toyota, Jepang, Selasa (20/10/2026). Langkahnya menuju final terhenti setelah kalah 1-3 dari unggulan asal China, Peng Zhengyang.
Meski gagal melaju ke partai puncak, pencapaian tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Barce. Ia bersyukur bisa mempersembahkan medali bagi Indonesia dalam keikutsertaan pertamanya di ajang olahraga terbesar Asia bagi atlet disabilitas tersebut.
“Ini Asian Para Games pertama saya, dan tentunya Puji Tuhan sekali, di Asian Para Games pertama ini saya bisa kasih yang terbaik. Sudah sampai di sini, Puji Tuhan sekali,” ujar Barce seusai pertandingan.
Sempat Berpikir Meninggalkan Tenis Meja
Perjalanan Barce di dunia tenis meja dimulai pada 2010. Namun, ia sempat berhenti karena keterbatasan sarana latihan di daerah asalnya, Maluku.
Menurut Barce, meski tersedia pelatih, kesempatan berlatih bersama lawan tanding atau sparring masih terbatas. Jam terbang yang kurang juga menjadi kendala untuk mengembangkan kemampuannya.
“Awalnya saya sebenarnya [main] tenis meja dari 2010. Sempat berhenti juga, karena memang di daerah mungkin latihannya kurang. Pelatihnya ada, tapi teman sparring dan jam terbangnya di sana memang kurang,” kenangnya.
Kondisi tersebut sempat membuatnya mempertimbangkan untuk mencari jalan lain di luar tenis meja.
“Mungkin lingkungan di sana bikin saya berpikir, ‘Ya sudahlah, mending berpikir lain daripada tenis meja,’ karena fasilitas di sana juga,” tuturnya.
Titik balik dalam perjalanan kariernya datang pada 2022. Menjelang ASEAN Para Games, Barce pindah ke Solo dan menemukan lingkungan latihan yang lebih mendukung.
Di kota tersebut, ia memperoleh kesempatan berlatih dengan standar yang lebih baik, jam latihan yang lebih intensif, serta banyak teman tanding. Kondisi itu membangkitkan kembali semangatnya untuk menekuni tenis meja.
“Puji Tuhan, saya ke Solo dan mendapatkan pelatihan standar yang baik, jam terbangnya tinggi, juga teman-teman sparring yang banyak dan dari situ saya bertekad untuk kembali bangkit di tenis meja,” ungkapnya.
Kendali Kursi Roda Jadi Kunci Permainan
Sebagai atlet tenis meja kursi roda, Barce menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan teknik pukulan. Ia juga harus mampu mengendalikan kursi roda untuk menjangkau bola dan menyesuaikan diri dengan karakter permainan lawan.
Menurutnya, setiap lawan memiliki gaya bermain berbeda. Ada yang mengandalkan pertahanan, ada pula yang menyerang dengan pukulan cepat. Perbedaan itu menuntut strategi dan kemampuan penguasaan kursi roda yang tepat.
“Lawan-lawannya punya karakter yang berbeda-beda. Ada yang mainnya bertahan, ada yang mainnya menyerang. Kalau bertahan, otomatis kita punya pertahanan dengan maju-mundur mengarahkan kursi roda, penempatan bola. Kalau bertemu lawan yang mainnya kencang, itu juga butuh strategi yang beda. Kesulitannya di situ,” jelasnya.
Karena itu, latihan Barce banyak difokuskan pada kemampuan mengendalikan kursi roda, terutama saat bergerak maju-mundur dan menjangkau bola-bola pendek di dekat net.
“Yang dilatih itu kursinya, untuk mengolah kursi maju-mundurnya, dan juga mengambil bola-bola pendek di depan net,” katanya.
Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari persiapannya menghadapi para pemain dengan teknik dan kecepatan berbeda.
Kekalahan Jadi Bekal untuk Bangkit
Pada semifinal, Barce harus menghadapi Peng Zhengyang yang dikenal memiliki pukulan cepat dan bertenaga. Pertandingan itu menguras tenaga sekaligus konsentrasinya.
“Hari ini pertandingannya sangat menguras tenaga dan pikiran. Lawan di semifinal ini unggulan dari China. Mainnya sangat cepat, bolanya juga kencang. Itu sangat menguras pikiran, gimana caranya bisa melewati dia,” ujarnya.
Barce mengaku sempat memberikan perlawanan ketat dan unggul pada set-set akhir. Namun, sejumlah kesalahan dan situasi pertandingan membuatnya gagal membalikkan keadaan.
“Iya, di set-set terakhir sempat unggul. Tapi mungkin belum rezekinya, dan juga euforia di lapangan, dan beberapa miss yang saya lakukan juga,” akunya.
Meski demikian, ia tidak ingin berlarut-larut dalam kekalahan. Barce bertekad menjadikan pengalaman di Nagoya sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuannya.
“Ini bukan event terakhir. Kalau Tuhan masih berkehendak, saya harus tetap fokus, tetap latihan, meng-upgrade diri lagi. Dari event ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga untuk saya,” lanjutnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga yang terus mendoakannya, pelatih yang memberikan dukungan dan masukan, serta rekan-rekan atlet yang menemani perjuangannya.
“Terima kasih untuk keluarga, untuk doanya. Pelatih yang selalu support, yang selalu sabar untuk kasih masukan kepada saya. Teman-teman atlet, dan tentunya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang berikan saya kekuatan sampai sekarang,” ucapnya.
Masih Membidik Medali di Nomor Ganda Campuran
Perjuangan Barce di Asian Para Games 2026 belum berakhir. Setelah mengamankan perunggu tunggal putra, ia masih akan berlaga pada nomor ganda campuran.
Barce optimistis menghadapi pertandingan berikutnya. Ia menyadari para pesaing juga menjalani persiapan serius, sehingga fokus dan latihan tetap menjadi modal utama.
“Harus lebih fokus, karena lawan-lawannya juga berlatih keras, mereka juga punya doa yang sama. Tentunya sangat optimis, karena kita beberapa kali ketemu lawan-lawan berat, tapi bisa mengatasi itu,” ujarnya.
Medali Barce menambah koleksi perunggu tim para tenis meja Indonesia di Asian Para Games 2026. Sejauh ini, tim telah mengumpulkan tiga medali perunggu, masing-masing melalui Barce Layaba di tunggal putra klasifikasi 4-5, Komet Akbar di tunggal putra klasifikasi 10, dan Hamida di tunggal putri klasifikasi 8.
Pada hari yang sama, Komet Akbar juga memastikan perunggu setelah langkahnya di semifinal tunggal putra klasifikasi 10 dihentikan wakil tuan rumah Jepang, Mahiro Funayama, dengan skor 0-3.
Bagi Barce, medali perunggu ini bukan sekadar pencapaian di debut Asian Para Games. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan fasilitas pada masa lalu tidak harus mengakhiri mimpi, selama masih ada kesempatan untuk bangkit, berlatih, dan terus berjuang membawa nama Indonesia.
