Rumitnya Konstruksi Cincin GBK dan Besarnya Jasa Insinyur Uni Soviet - Kompas
KOMPAS.com - Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) merupakan salah satu stadion termegah dan terbesar yang dimiliki Indonesia yang berlokasi di Jakarta.
Kapasitas awal GBK saat baru dibuka mencapai 110.000 orang, namun kemudian dipangkas menjadi sekitar 90.000 kursi setelah renovasi untuk Piala Asia 2007.
Setelah renovasi tahun 2016–2018, kapasitasnya kembali menyusut, karena disesuaikan dengan standar keamanan FIFA menggunakan kursi tunggal (single seat) menjadi sekitar 77.193 hingga 78.000 kursi.
Baca juga: Satgas PKH Akan Kejar Perusahaan yang Belum Bayar Denda, Bisa Dipidana
Kawasan Senayan sebelumnya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Betawi. Selama bertahun-tahun, kawasan tersebut dipenuhi kampung-kampung tempat masyarakat tinggal dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Rusia Pinjamkan 1 M Dollar AS ke Iran, Kerja Sama Dua Negara Makin Erat
Peran Uni Soviet dalam Pembangunan GBK
Perubahan besar mulai mewarnai Jakarta pada dekade 1960-an. Presiden Soekarno kala itu menggagas pembangunan sejumlah proyek monumental untuk menegaskan posisi Jakarta sebagai ibu kota negara yang modern.
Salah satu proyek ambisius tersebut adalah pembangunan kompleks olahraga nasional. Fasilitas ini dipersiapkan untuk menyambut pelaksanaan Asian Games IV yang berlangsung di Jakarta pada 1962.
Dari proyek itulah kemudian lahir kompleks olahraga yang kini dikenal dengan nama Gelora Bung Karno (GBK).
Baca juga: Khrushchev Heran Lihat Ambisi Soekarno Bangun Stadion Megah di Jakarta
Namun, pembangunan kompleks olahraga tersebut tidak sepenuhnya mengandalkan kemampuan dalam negeri. Indonesia saat itu masih merupakan negara muda yang baru beberapa tahun lepas dari penjajahan Belanda.
Di tengah hubungan Indonesia yang mengalami pasang surut dengan negara-negara Blok Barat, Soekarno justru membangun kedekatan dengan Uni Soviet. Hubungan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan berbagai proyek besar di Indonesia.
Dalam buku Memoirs of Nikita Khrushchev, Volume 3, pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev menceritakan bagaimana Soekarno meminta bantuan untuk membangun kompleks olahraga berskala besar di Jakarta.
Baca juga: Mengapa MK Tak Bisa Diskualifikasi Gibran sebagai Wapres soal Ijazah?
Saat Khrushchev berkunjung ke Jakarta, Soekarno mengajaknya meninjau lokasi yang akan menjadi kompleks olahraga tersebut.
"Soekarno juga meminta kami membangun sebuah stadion di ibu kota negaranya, Jakarta, stadion yang mampu menampung ribuan penonton," ucap Nikita Khrushchev dalam memoarnya.
Ketika itu, pembangunan stadion masih berada dalam tahap perencanaan. Gambaran proyek tersebut masih berupa maket, termasuk desain stadion dengan bentuk atap melingkar yang menjadi salah satu bagian paling mencolok.
Uni Soviet kemudian turut membantu merealisasikan proyek tersebut. Selain memberikan pinjaman, negara tersebut juga mengirimkan tenaga ahli konstruksi ke Indonesia.
Baca juga: Soekarno Lulusan Arsitektur atau Teknik Sipil? Ini Jawaban yang Benar
Pengalaman Uni Soviet dalam membangun stadion-stadion berukuran besar menjadi salah satu modal penting untuk mendukung proyek ambisius Soekarno.
"Pembangunannya dilakukan oleh para ahli Soviet yang berpengalaman dalam proyek-proyek semacam itu. Sukarno mengundang kami untuk meninjau lokasi pembangunan tersebut," kata Nikita Khrushchev.
Khrushchev Heran dengan Ambisi Soekarno
Megahnya rancangan stadion ternyata sempat membuat Khrushchev mempertanyakan keputusan Soekarno.
Baca juga: Jelang Laga Pamungkas Bersama Timnas Argentina, Lionel Messi Sampaikan Salam Perpisahan
Saat itu, kondisi keuangan Indonesia belum begitu kuat, APBN Indonesia kembang kempis, tetapi pemerintah justru berencana membangun fasilitas olahraga dengan biaya besar.
Khrushchev menilai penggunaan anggaran dalam jumlah besar untuk sebuah stadion bukan keputusan yang rasional dalam kondisi tersebut.
"Ketika ia meminta Uni Soviet untuk membangun stadion yang megah dan cukup mahal biayanya di ibu kota, saya merasa heran dan berpendapat bahwa hal itu bukanlah cara yang rasional dalam penggunaan dana," ucap Khrushchev.
Namun, setelah melihat langsung lokasi pembangunan, Khrushchev mulai memahami alasan di balik ambisi Soekarno.
Menurutnya, Soekarno ingin meninggalkan warisan berupa proyek-proyek besar yang dapat dikenang masyarakat sekaligus menunjukkan peran sang orator itu dalam pembangunan Indonesia.
Baca juga: Kisah Soekarno yang Pantang Tinggal di Rumah Bertingkat
"Baru saat itulah saya memahami bahwa ia (Soekarno) ingin publik mengetahui perannya yang sangat besar dalam proyek ini sebagai penggagas utamanya," kata dia lagi.
Khrushchev juga mengingat momen ketika dirinya mendampingi Soekarno dalam seremoni dimulainya pembangunan kompleks olahraga tersebut.
Dalam seremoni itu, keduanya melakukan aksi simbolis dengan mengaktifkan alat pemancang tiang fondasi.
Baca juga: Pengamat Nilai Permainan Timnas Indonesia Tak Menawan, tetapi Hasilnya Ideal
"Bersama saya, ia melakukan suatu tindakan simbolis yang melibatkan kerja fisik, kami menarik tali untuk mengaktifkan palu uap yang berfungsi sebagai alat pemancang tiang fondasi. Semua itu dilakukan dengan gaya yang agak teatrikal, namun begitulah karakter dirinya," ucap Khrushchev.
Dukungan Uni Soviet untuk pembangunan GBK tidak hanya berupa pengerahan tenaga ahli. Bantuan juga diberikan melalui skema pembiayaan.
Pada 1960, Indonesia dan Uni Soviet menandatangani perjanjian pinjaman lunak senilai 12,5 juta dollar AS untuk mendukung pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Jika dikonversikan berdasarkan nilai rupiah pada saat itu, pinjaman tersebut setara dengan Rp 15,062 miliar.
Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membantu Soekarno mewujudkan ambisinya menghadirkan kompleks olahraga berstandar internasional di Jakarta menjelang Asian Games 1962.
Baca juga: Sejarah Tugu Petir di Menteng
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
