Penjelasan Teddy Tjahjono soal Skema Marquee Player dan Regulasi Batasan Usia di IWL 2026/2027 - Semua Halaman - Bolasport

BOLASPORT.COM - CEO Indonesia Women's League (IWL), Teddy Tjahjono, buka suara terkait skema pembagian pemain berbakat atau marquee player serta regulasi pembatasan usia yang diterapkan pada musim perdana kompetisi.
Gelaran IWL musim 2026/2 027 diikuti oleh enam klub peserta, yakni Persija Jakarta, Persita Tangerang, Dewa United FC, FC Bekasi City, Persikad Depok, dan Garudayaksa FC.
Dalam regulasinya, setiap klub sejatinya diizinkan untuk merekrut hingga empat pemain asing atau diaspora.
Pada musim pertama ini, dua pemain diaspora yakni Estella Loupatty dan Isabelle Nottet resmi masuk dalam kategori marquee player guna mendongkrak daya saing sekaligus nilai komersial kompetisi.
Selain itu, kedua pemain naturalisasi ini masuk dalam jajaran marquee player karena diharapkan persaingan berlangsung merata.
Namun, dinamika di lapangan memperlihatkan komposisi skuad yang memicu sorotan.
Ada beberapa klub yang terlihat cukup mencolok karena banyak diperkuat pemain naturalisasi, pemain berlabel Timnas Putri Indonesia, hingga deretan pemain asing.
Baca Juga: Sebelum Ada Liga, Pemain Persikad Women Terbiasa Main Bareng Bapak-bapak, Kini Bidik Target di IWL
Di sisi lain, pemerataan materi pemain sempat memunculkan tanda tanya di kalangan klub.
Pasalnya, beberapa nama yang sudah lama tidak memperkuat putri Indonesia masih tercatat dalam daftar kategori pemain grade A marquee player.
Kondisi tersebut ditambah dengan regulasi usia kompetisi yang memprioritaskan pemain muda di bawah 18 tahun.
Bahkan beberapa di antaranya masih berusia 16 tahun, dengan pengecualian khusus bagi pemain yang pernah membela Timnas Putri Indonesia senior.
Ada beberapa pemain yang masih berusia 16 tahun tetapi bisa main di IWL ini seperti Alleana Aya Arumy kelahiran 2010 (Persita), Jazlyn Kayla Firyal kelahiran 2010 (Persikad), Shifana Rizka Nadhifa 2010 (Persija), Febri Arum 2010 (Dewa United), hingga Nafeeza Ayasha Nori kelahiran 2011 (Persija).
Tim seperti Garudayaksa FC Women dan FC Bekasi City Women memang tak ada pemain berusia 16 tahun, tetapi mereka ada beberapa pemain berlabel Timnas Indonesia.
Menanggapi tanda tanya seputar indikator dan sistem pembagian marquee player tersebut, Teddy Tjahjono menjelaskan bahwa pihak liga sejak awal telah mengalokasikan kuota pemain berlabel bintang ke setiap tim demi menjaga asas keadilan dan sportivitas.
"Ya, dari awal kan memang kita bagi satu klub itu ada ada lima ya kalau enggak salah,” ujar Teddy Tjahjono saat ditemui awak media termasuk BolaSport.com, di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, MInggu (25/10/2026).
” Ada lima pemain yang kita alokasikan untuk masing-masing klub karena tujuannya adalah supaya membuat persaingan di antara klub ini seimbang sebenarnya,” ucapnya.
“Jadi makanya di awal supaya tetap seimbang, tidak jomplang jauh. Jadi kita coba untuk atur kuota pemainnya," kata Teddy Tjahjono..
Kendati liga telah membagi alokasi kuota pemain, mantan petinggi Persib Bandung tersebut tidak menampik adanya proses tawar-menawar di level klub yang memengaruhi keputusan akhir sang pemain.
Ia menegaskan pihak operator kompetisi siap menjembatani apabila negosiasi menemui kendala, dengan tujuan utama menjaga level persaingan liga tetap kompetitif di tengah terbatasnya jumlah pemain putri saat ini.
“Tetapi dalam pelaksanaannya, pada saat terjadi negosiasi dan lain-lain, mungkin itu kan harus kesepakatan kedua belah pihak,” ungkap Teddy.
“Dan selama itu diinformasikan ke kami, kami akan mencoba untuk membantu dan mencarikan solusi.”
Para pemain Persita Tangerang Women dalam laga melawan Dewa United FC Women pada pekan kedua Indonesia Women’s League 2026/2027, di Stadion Indomilk Arena, Tangerang, Minggu (25/10/2026). (WILA WILDAYANTI/BOLASPORT.COM)
“Dan sekarang kan semua sudah punya klubnya dan kita lihat bahwa memang ternyata dari hasilnya memang dua empat, empat kali pertandingan ya, itu juga skornya seimbang-seimbang saja.”
“Jadi itu mungkin yang sebenarnya tujuan kita kenapa ingin bisa membagi pemerataanlah dari pemain-pemain karena kan pemainnya masih belum banyak. Jadi supaya apa, secara competitiveness-nya tuh lebih terjaga sebenarnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Teddy memastikan bahwa pembagian pemain tidak bersifat kaku atau saklek.
Apabila ada pemain yang tidak menemui kata sepakat dengan klub alokasi awal, liga memfasilitasi agar pemain tersebut tetap bisa membela klub lain sehingga hak bermainnya tetap terlindungi tanpa terjadi kebuntuan.
"Iya, kan gini, kesepakatan itu kan pasti kedua belah pihak, enggak mungkin sepihak kan. Jadi pada saat tidak terjadi kesepakatan ya pasti kita mencoba apa ya, mencarikan solusi,” ucap Teddy.
“Ya kalau memang tidak terjadi kesepakatan ya sudah, yang penting si pemain tersebut harus bisa bermain di klub yang lain. Dan itu sudah terjadi kan bahwa mereka tetap bermain di klub yang lain sebenarnya. Jadi tidak ada deadlock," tegasnya.
Baca Juga: Alasan Venue IWL Pindah ke dari Bekasi ke Tangerang, Teddy Tjahjono Singgung Beban 3 Laga Sehari
Selain polemik alokasi pemain, regulasi batasan usia juga menjadi pembahasan penting di IWL.
Pihak penyelenggara memberlakukan pembatasan untuk pemain di atas usia 18 tahun, namun memberikan pengecualian khusus bagi para pemain yang telah mengantongi caps di level internasional bersama tim nasional senior.
Teddy membeberkan bahwa kebijakan tersebut dirancang demi kesinambungan pembinaan sepak bola wanita jangka panjang di Tanah Air.
"Ya kalau dari awal untuk umur memang di tahapan awal ini kita ada pembatasan untuk pemain di atas 18 tahun, kecuali untuk yang memang memenuhi kriteria pernah bermain di Timnas Senior,” tutur Teddy.
“Kenapa? Ya karena kita ingin ini kan kita inginnya jangka panjang.”
“Jadi ingin karena kita lihat sendiri persaingan cukup keras, jadi ini masih tahapan awal nanti kita perlahan akan terus berproses untuk menjadi lebih baik sih, termasuk dari sisi kesinambungan pembinaan," pungkasnya.