Pemandangan Tak Biasa di Laga Timans Indonesia Vs Bangladesh, Spanduk Ultras Garuda Terbalik hingga Tak Terlihat La Grande Indonesia - Semua Halaman - Bolasport
Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers
Kamis, 1 Oktober 2026 | 21:12 WIB
Suasana dan pemandangan berbeda Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta dalam laga Timnas Indonesia Vs Bangladesh, Kamis (1/10/2026) dalam laga pamungkas grup A FIFA ASEAN Cup 2026. Spanduk Ultras Garuda terbaik hingga tak terlihat ada La Grande Indonesia. (WILA WILDAYANTI/BOLASPORT.COM)
BOLASPORT.COM - Pemandangan sangat kontras dan tak biasa tersaji di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, pada Kamis (1/10/2026). Spanduk Ultras Garuda terbalik dan tak terlihat suporter dengan identik pakaian hitam itu.
Di saat Timnas Indonesia melakoni partai krusial menghadapi Bangladesh pada laga pamungkas Grup A FIFA ASEAN Cup 2026, atmosfer megah yang identik dengan lautan suporter Merah Putih justru tak nampak.
Alih-alih dipadati puluhan ribu pendukung dan gemuruh chant yang menggetarkan Senayan, tribun SUGBK malam ini justru tampak jauh lebih sepi dari biasanya.
Berdasarkan pantauan langsung BolaSport.com, di stadion, puluhan ribu kursi merah-putih di tribun atas maupun bawah banyak yang dibiarkan kosong melompong.
Kejanggalan kian terasa saat menengok sudut tribun suporter garis keras.
Di tribun selatan, sebuah spanduk raksasa bertuliskan Ultras Garuda terpasang dengan posisi terbalik.
Tak ada kerumunan massa berbaju hitam yang biasanya berdiri 90 menit memandu nyanyian, tak ada dentuman bass drum yang membakar
atmosfer pertandingan.
Laga ini praktis bergulir tanpa dentuman Ultras Garuda yang biasanya nyanyi dan chant tak berhenti.
Pemandangan serupa juga terlihat di tribun utara. Kelompok suporter La Grande Indonesia (LGI) sama sekali tak menampakkan atribut kebesarannya.
Tak ada koreografi megah, dan banner La Grande Indonesia pun tak terlihat menghiasi pagar tribun.
Sebelum wasit meniup peluit tanda dimulainya kick-off, seluruh pemain, ofisial, dan penonton yang hadir sempat menundukkan kepala dalam sesi mengheningkan cipta (one minute of silence).
Ini dilakukan sebagai momen untuk mengenang catatan pahit sepak bola Indonesia yakni Tragedi Kanjuruhan yang sudah empat tahun berlalu.
Pada Sabtu malam kelam, 1 Oktober 2022, Stadion Kanjuruhan di Kepanjen, Kabupaten Malang, berubah menjadi lautan tangis usai peluit panjang derbi Jawa Timur antara Arema FC kontra Persebaya Surabaya.
Sebanyak 135 nyawa melayang, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua yang hanya ingin mendukung klub kebanggaan mereka harus kehilangan nyawa butut kepulan gas air mata dan kepanikan di pintu-pintu tribun yang terkunci rapat.
Tak hanya merenggut 135 jiwa, petaka tersebut juga menyebabkan lebih dari 500 orang lainnya mengalami luka-luka.
Empat tahun bergulir, luka itu mungkin tertutup waktu, tetapi kepergian 135 suporter tersebut tak pernah padam dari ingatan pencinta sepak bola Tanah Air.
Untuk itu, sebelum laga mulai sempat ada momen mengheningkan cipta dan setelah itu baru laga Timnas Indonesia Vs Bangladesh dimulai.
Baca Juga: Pemain Timnas Indonesia dan Bangladesh Mengheningkan Cipta untuk Korban Tragedi Kanjuruhan
Namun, yang menjadi sorotan tetap tidak adanya Ultras Garuda dan spanduk LGI.
Padahal LGI terkenal selalu menyiapkan koreografi luar biasa untuk mendukung skuad Garuda, tetapi dalam laga ini tak ada bahkan hinggal babak kedua dimulai.
Kondisi ini memicu tanda tanya besar di kalangan pencinta sepak bola Tanah Air.
Dalam kultur suporter garis keras (ultras), membalik spanduk nama kelompok bukanlah tindakan tanpa arti.
Sikap tersebut jamak dipahami sebagai bahasa isyarat untuk menunjukkan kekecewaan, bentuk protes keras, aksi boikot, hingga simbol masa berkabung.