Sosial Media
Live Skor Bola - Flashscore
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Featured Sepak Bola Sepak Bola Internasional Shin Tae-yong Spesial Timnas Indonesia Timnas Malaysia

    Pakar Malaysia Minta FAM Tiru Model Shin Tae-yong di Timnas Indonesia Lewat Hajime Moriyasu - Semua Halaman - Superball

    5 min read


    Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers

  • Home
  • Timnas Senior
  • Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:41 WIB

    Pelatih Timnas Jepang Hajime Moriyasu (kanan) dan mantan pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong.Pelatih Timnas Jepang Hajime Moriyasu (kanan) dan mantan pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong. (MUHAMMAD ALIF AZIS MARDIANSYAH/BOLASPORT.COM, JAVIER SORIANO/AFP)

    SUPERBALL.ID - Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) telah diingatkan untuk tidak menyia-nyiakan investasi besar jika mereka merekrut Hajime Moriyasu sebagai pelatih tim nasional.

    Menurut laporan media Jepang Sakanowa, Hajime Moriyasu telah muncul sebagai kandidat untuk posisi pelatih Timnas Malaysia.

    Moriyasu dipastikan akan mengakhiri masa jabatannya sebagai pelatih Timnas Jepang setelah Piala Asia 2027 di Arab Saudi.

    Moriyasu muncul sebagai kandidat pelatih Harimau Malaya usai FAM mempertimbangkan untuk menunjuk arsitek asing.

    Baca Juga: Alasan Malaysia Butuh Pelatih Sekelas John Herdman: Lokalan Gampang Disetir Federasi!

    Namun, Presiden FAM Datuk Ab Ghani Hassan menegaskan pihaknya belum melakukan negosiasi atau kontak dengan Moriyasu.

    Harimau Malaya saat ini masih dipimpin oleh pelatih sementara Tan Cheng Hoe, yang menggantikan posisi Peter Cklamovski.

    "Belum ada langkah konkret dari FAM. Kami akan membahas masalah ini secara mendalam," kata Ab Ghani.

    Sementara itu, FAM diperkirakan harus mengeluarkan biaya yang cukup besar jika ingin menggunakan jasa Moriyasu.

    Hal ini disampaikan oleh agen yang diakreditasi oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), Effendi Jagan Abdullah.

    Effendi mengatakan bahwa biaya yang dikeluarkan akan bergantung pada profil pelatih, pengalaman internasional, dan rekam jejaknya.

    Menurut Effendi, biaya untuk menggunakan jasa pelatih sekaliber Moriyasu bisa mencapai 60.000 dolar AS atau lebih dari Rp1 miliar.

    Terlepas dari itu, rumor yang mengaitkan Moriyasu dengan Harimau Malaya disambut baik oleh pakar sepak bola Malaysia, Zakaria Rahim.

    Mengomentari rumor tersebut, Zakaria meminta FAM untuk tidak menyia-nyiakan investasi besar jika mereka merekrut Moriyasu.

    Menurutnya, FAM perlu menggali keahlian pelatih berusia 58 tahun itu agar investasi besar yang diberikan sepadan dengan gaji yang diberikan.

    Oleh karena itu, ia menilai FAM harus memanfaatkan Moriyasu melalui peran tambahan yang mencakup pengembangan pelatih lokal dan pemain muda.

    Ia ingin FAM memaksimalkan keahlian Moriyasu dengan mentransfer ilmunya kepada pelatih lokal dan mengembangkan pemain muda.

    Baca Juga: Segini Biaya Fantastis yang Harus Dibayar Malaysia untuk Hajime Moriyasu

    Hal ini mirip seperti yang dilakukan oleh Shin Tae-yong di Timnas Indonesia ketika mengorbitkan banyak pemain muda.

    Kala itu, Shin Tae-yong juga melakukan transfer ilmu ke pelatih lokal dengan menjadikan Nova Arianto sebagai asistennya.

    "Kami membutuhkan keahliannya untuk memperkuat Harimau Malaya, tetapi semoga FAM tidak membayar gajinya yang mahal sementara ruang lingkup pekerjaannya hanya fokus pada satu skuad tanpa mengembangkan pemain muda dan pelatih lokal."

    "Tugas tim nasional tidak selalu ada karena terbatas pada jendela FIFA," kata Zakaria, dikutip SuperBall.id dari Arena Metro.

    "Jadi, ketika di luar periode pertandingan internasional, ia perlu merancang program khusus untuk membimbing pemain muda dan pelatih lokal."

    "Singkatnya, dia perlu mentransfer pengetahuan dan FAM harus mengoptimalkan apa yang dimilikinya."

    "Kami tidak ingin dia hanya datang dan menonton pertandingan liga ketika dia tidak memiliki tugas resmi, terutama dengan investasi gaji yang tinggi dan Harimau Malaya tidak bermain di Piala Asia tahun depan," lanjut Zakaria.

    Zakaria juga menilai FAM perlu menyerahkan wewenang untuk mengawasi timnas U-23 kepada Moriyasu guna memastikan transisi pemain muda ke level senior berjalan lancar.

    Ia menjelaskan bahwa pendekatan itu memungkinkan para pemain muda Malaysia untuk dibekali disiplin dan modul pelatihan ala Jepang sejak dini.

    "Pemberian wewenang ini tidak berarti Moriyasu harus bertindak sebagai pelatih kepala tim, tetapi diberi mandat untuk memilih dan mengembangkan pemain cadangan yang benar-benar siap bergabung dengan tim senior."

    "Para pemain U-23 perlu dikenalkan dengan disiplin dan pola latihan beliau sejak dini agar ketika mereka dimasukkan ke dalam skuad utama, mereka sudah mencapai tingkat kualitas yang diharapkan."

    "Kami tidak ingin mengikat pelatih kelas dunia hanya untuk jangka waktu dua musim, sebaliknya FAM perlu menawarkan kontrak jangka panjang dengan peran sebagai pelatih kepala tim senior dan direktur teknik tim U-23," katanya.

    Komentar
    Additional JS