Sosial Media
Live Skor Bola - Flashscore
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita EPL Featured Kasus Keuangan Liga Inggris Manchester City Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial

    Lelucon besar! Man City terus bermain tanpa hukuman membuat seluruh musim Liga Primer Inggris nyaris tak berarti - Goal Indonesia

    13 min read

     



    Tim asuhan Enzo Maresca melanjutkan awal musim tanpa cela di Anfield, tetapi kini awan kelam membayangi tim yang mencoreng nama baik kasta tertinggi sepak bola Inggris.

    • Laga pertama Manchester City sejak dinyatakan bersalah atas 114 pelanggaran aturan keuangan Premier League pada akhirnya berjalan mudah. Sekitar satu jam pertama berlangsung menegangkan. Sebanyak 56.000 pendukung Liverpool yang marah memadati Anfield dan menciptakan atmosfer tidak bersahabat lewat spanduk bertuliskan 'Shamchester' dan 'Cheat', serta nyanyian, "Kalian belum pernah meraih trofi sejak 1967." Nyanyian itu merujuk pada trofi terakhir yang diraih City sebelum pengambilalihan oleh pihak Abu Dhabi pada 2009, yang mengawali periode sembilan tahun yang memalukan di Etihad.

      DJ stadion pun turut ambil bagian dengan pilihan lagu yang sindirannya cukup kentara sebelum dan sesudah pertandingan, mulai dari 'Joker and the Thief' karya Wolfmother hingga 'Little Lies' karya Fleetwood Mac. Namun, setelah Ryan Gravenberch diusir karena menerima kartu kuning kedua, City melenggang menuju kemenangan nyaman 3-0 berkat gol-gol Erling Haaland, Jeremy Doku, dan Rayan Cherki pada babak kedua. Hasil itu menjaga awal sempurna mereka di musim Premier League.

      Kemenangan itu menjadi pernyataan tegas atas klub yang mungkin punya alasan paling kuat untuk merasa dirugikan. Liverpool finis sebagai runner-up di belakang City pada 2013-14 dan 2018-19, dengan selisih hanya satu poin pada musim yang disebut terakhir. Mereka juga tentu akan berpendapat bahwa kekalahan tipis dalam perebutan gelar 2021-22 merupakan akibat langsung dari tindakan curang City di luar lapangan.

      City telah mengajukan banding atas putusan Premier League, dan tidak ada yang tahu pasti kapan proses itu akan selesai. Mereka dianggap bersalah sampai terbukti tidak bersalah, bukan hanya di mata para petinggi Premier League, tetapi juga di mata publik. Karena itu, kemenangan pada Minggu terasa tidak berarti, begitu pula setiap kemenangan lain yang diraih City hingga putusan akhir dikeluarkan.

      Kompetisi ini secara keseluruhan pun kini terasa tidak berarti, karena setiap klub bisa mengklaim telah dirugikan oleh kesuksesan City yang terus berlanjut.

    • Liverpool v Manchester City - Premier League 2026/27

      Getty Images Sport


      Para pemain Manchester City tetap tegar menghadapi kesulitan, tetapi upaya mereka tampaknya tidak akan membuahkan hasil nyata.

      Para pemain City saat ini, juga Maresca dan staf kepelatihannya, sama sekali tidak bersalah dalam situasi ini. Yang bisa mereka lakukan hanyalah tetap profesional dan berusaha terus menunjukkan perkembangan, dengan dukungan penuh dari para suporter setia. Suporter City bahkan menunjukkan perlawanan lewat humor getir dengan mengacungkan ratusan pisang tiup di Anfield. Aksi itu menghidupkan kembali tradisi dari era 1980-an, ketika City bermain di divisi kedua.

      Segala kontroversi yang menyelimuti klub telah menumbuhkan mentalitas terkepung yang mungkin membuat City lebih berbahaya daripada sebelumnya. “Kami tahu akan ada kegaduhan, tetapi kami harus menciptakan kegaduhan kami sendiri dengan memenangi pertandingan,” kata Maresca setelah laga. Ia merayakan kemenangan bersama skuadnya dengan begitu bersemangat, lebih menyerupai perayaan juara di final turnamen daripada kemenangan di liga.

      Haaland melangkah lebih jauh: “Bagi setiap orang yang menjadi bagian dari Manchester City, bagi setiap suporter, ini adalah momen indah yang akan lama kami kenang. Ini berat. Ini sulit, tetapi kami menunjukkan karakter luar biasa dari lini belakang hingga depan. Saya sangat bangga kepada semuanya.” City jelas tidak peduli jika dibenci; mereka akan menjadikannya bahan bakar motivasi.

      Namun, bagi semua orang di luar City, menyaksikannya terasa sulit sekaligus ganjil. Pada puncak era Pep Guardiola, kecemerlangan permainan City membuat orang terpukau dan menghormatinya. Kini semua itu telah ternoda, begitu pula upaya Haaland dan rekan-rekannya di bawah Maresca. Tak ada lagi kekaguman meski dengan berat hati, hanya kemarahan murni dan rasa ketidakadilan yang begitu besar hingga mengancam integritas Liga Primer.

      Seberapa besar pun karakter yang ditunjukkan City, mereka telah menjadi agen kekacauan yang benar-benar hanya bermain demi harga diri. Jika pada akhirnya mereka dijatuhi pengurangan poin besar seperti yang diperkirakan, dan mungkin terdegradasi, kemenangan-kemenangan ini tak akan berarti apa-apa, sementara rival seperti Liverpool akan tertawa belakangan.

    • Liverpool v Manchester City - Premier League 2026/27

      Getty Images Sport


      Liga Primer berisiko tenggelam dalam sentimen negatif, dan reputasi Manchester City akan terus memburuk dalam beberapa pekan dan bulan mendatang.

      Sebaliknya, jika City entah bagaimana berhasil memenangkan bandingnya, citra Premier League bisa rusak hingga tak dapat dipulihkan. Pasalnya, tak seorang pun akan menerima jika pelanggaran keuangan sistemik mereka dibiarkan tanpa hukuman, atau hanya dijatuhi sanksi ringan seperti denda. Jika City tidak dipaksa membangun kembali semuanya dari nol tanpa dukungan rezim kepemilikan mereka saat ini, kebanyakan orang akan mempertanyakan legitimasi mereka sebagai institusi sepakbola ke depannya.

      Reputasi City saat ini sudah hancur dan akan semakin buruk selama persoalan ini berlarut-larut. Ketika susunan tim Maresca diumumkan di Anfield, pengumuman itu nyaris sepenuhnya tertutup oleh nyanyian, "Turun kasta, turun kasta, turun kasta!" Menjelang akhir pertandingan, setiap sentuhan pemain City disambut teriakan "curang". Mereka harus menghadapi hal itu setiap pekan.

      "Kalau saya bisa tidak ditugaskan untuk pertandingan Man City selama beberapa bulan ke depan, itu bagus," kata legenda Manchester United Gary Neville di studio Sky Sports . "Orang-orang akan menganggap ini liga yang penuh kepalsuan dan Anda tidak bisa menghilangkan pikiran negatif itu. Saya rasa mereka [pendukung City] saat ini belum menyadari noda, stigma, dan kerusakan yang akan menimpa mereka."

      Mantan bintang Arsenal Paul Merson juga menyampaikan pendapatnya dalam acara Sky Soccer Saturday dan dengan tepat merangkum dampak luas dari tindakan City di balik layar. "Tanyakan satu hal kepada diri Anda sendiri: Apakah Man City akan menjuarai Premier League jika mereka tidak melakukan apa yang selama ini mereka lakukan? Sama sekali tidak mungkin," katanya. "Mereka menjuarai liga karena orang-orang di jajaran atas. Mereka memiliki dua pemain terbaik di setiap posisi dan tanpa orang-orang di jajaran atas itu, mereka tidak akan mampu melakukannya.

      "Ini bukan soal medali, melainkan momen. Mereka telah merampas momen dari orang lain. Hidup adalah soal momen, dan kalian telah merampasnya dari orang lain. Orang-orang di jajaran atas Man City telah mencuri momen dalam hidup orang lain."

    • etihad stadium

      (C)Getty Images


      Jika semuanya berjalan lancar, Manchester City bisa mengetahui nasibnya jauh sebelum musim berakhir. Namun, apakah semuanya akan berjalan lancar masih menjadi tanda tanya besar.

      City unggul tiga poin atas Arsenal di puncak klasemen Liga Primer setelah enam pertandingan dan tampak cukup kuat untuk merebut gelar dari sang juara bertahan usai menghabiskan £450 juta ($596 juta) di bursa transfer musim panas. Kehadiran pemain seperti Enzo Fernandez, Elliot Anderson, Ayyoub Bouaddi, dan Illiman Ndiaye semakin memperdalam skuad yang sebelumnya sudah berkualitas tinggi. Jika City berhasil melakukannya, seremoni penyerahan trofi pada Mei nanti akan terasa sangat canggung.

      Hal itu tentunya tidak boleh dibiarkan terjadi, bukan? Empat gelar pertama City sudah dianggap tidak sah, dan sulit membayangkan satu gelar lagi ditambahkan ke daftar itu. Tiga tahun berlalu sebelum putusan atas dakwaan pelanggaran keuangan City dibuat. Seharusnya, waktu itu juga lebih dari cukup untuk menentukan hukumannya.

      Kini para penggemar Liga Primer terjebak dalam ketidakpastian, dan ada risiko besar musim ini berakhir sebagai kesia-siaan. Arsenal mungkin menjadi pihak yang paling frustrasi dengan situasi saat ini. Mereka kemungkinan akan melaju jauh meninggalkan para pesaing di liga jika City tidak ikut bersaing, sekaligus memiliki lebih banyak tenaga untuk upaya terbaru mereka di Liga Champions. Sulit membayangkan Mikel Arteta akan diam saja jika Arsenal gagal di kedua ajang tersebut.

      Di papan bawah, tidak sedikit klub yang berjuang menghindari degradasi mungkin pada akhirnya harus merelakan enam poin berharga yang hilang saat menghadapi City, padahal poin-poin itu bisa membuat perbedaan besar. Klub-klub yang bersaing memperebutkan tiket ke kompetisi Eropa juga punya alasan untuk mengeluh. Masih banyak lagi ‘momen’ yang terenggut.

      Telah dilaporkan bahwa banding City dapat mulai disidangkan pada 14 Desember. Setelah itu, dewan independen beranggotakan tiga orang akan memiliki waktu maksimal 30 hari untuk mengeluarkan putusan akhir. Namun, City menggunakan berbagai taktik untuk mengulur waktu sepanjang penyelidikan atas pelanggaran keuangan mereka, dan para pakar hukum memperkirakan mereka akan menempuh pendekatan serupa dalam proses banding.

      Panel independen semula akan bersidang untuk menentukan sanksi yang harus dijatuhkan kepada City. ESPN melaporkan bahwa proses tersebut akan berjalan bersamaan dengan banding. Jika semuanya berlangsung lancar, putusan dan penerapan hukuman bisa terwujud pada pertengahan Februari. Dengan tiga bulan tersisa pada musim ini, hal itu mungkin masih cukup untuk menjaga semangat kompetisi.

      Namun, jika prosesnya berlangsung lebih lama dari itu, situasinya berpotensi berubah menjadi lelucon. Sejak akhir pekan ini, menonton Liga Primer telah menjadi ujian kesabaran dan daya tahan layaknya menyaksikan pramusim. Untuk beberapa waktu ke depan, pertaruhan dalam kompetisi ini akan terasa nyaris tidak ada, dan apa pun yang dicapai City tidak akan dianggap berarti. Hari-hari tergelap sepakbola Inggris kini telah tiba.


    Komentar
    Additional JS