Sosial Media
Live Skor Bola - Flashscore
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured JOHN HERDMAN Sepak Bola Sepak Bola Indonesia Spesial Timnas Indonesia

    John Herdman Buka-bukaan Filosofi Agar Timnas Indonesia Kejar Level Jepang dan Korea Selatan - Semua Halaman - Bolasport

    5 min read


    BOLASPORT.COM - Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman beberkan filosofi yang diusungnya untuk mengejar ketertinggalannya dengan negara-negara raksasa Asia.

    John Herdman memfokuskan filosofinya pada tiga pertanyaan yaitu whoness, howness, dan whatness.

    Prinsip tersebut memahami setiap pemain dan bisa menerapkan permainan sesuai kemampuan teknis anak asuhnya, serta menyusun program yang tepat untuk itu.

    “Menurut saya, ada sebuah konsep yang terdiri dari whoness, howness, dan whatness. Whoness adalah memahami orang-orang yang kita hadapi. Whatness adalah memahami model permainan dan keterampilan teknisnya. Sementara itu, howness adalah periodisasi taktik dan periodisasi fisik," ujar John Herdman dalam wawancara dengan Kompas.com.

    "Menurut saya, pelatih harus mampu menemukan titik keseimbangan yang tepat di antara ketiganya," imbuhnya.

    Berdasarkan tiga pertanyaan dasar tadi, John Herdman merumuskan semua filosofinya dalam empat huruf yaitu ADD+A.

    ADD+A singkatan dari agresif, dinamis, direct (Langsung arah ke depan), dan adaptif. Empat prinsip tersebut dipegang John Herdman selama melatih.

    Huruf A terakhir berarti John Herdman siap menyesuaikan taktik tim sesuai kemampuan lawan.

    Baca Juga: John Herdman Puji Kecerdasan Taktik Joey Pelupessy Mengawal Lini Tengah Timnas Indonesia

    "Prinsip itu selalu saya pegang, baik ketika melatih tim putri maupun tim putra: membentuk tim yang agresif, dinamis, dan bermain langsung ke depan. Itulah ADD+A, dengan huruf A tambahan yang berarti adaptable atau adaptif—kemampuan untuk terus menyesuaikan diri selama pertandingan maupun dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya," ujar pria asal Inggris tersebut.

    John Herdman menegaskan tidak mengenal sepak bola menyerang atau bertahan, tetapi mengedepankan sepak bola lebih agresif dan lebih berinisiatif dalam permainan.

    "Jika kita melihat prinsip-prinsip permainan secara lebih luas, kita berbicara tentang menyerang dengan bola dan menyerang tanpa bola. Bagi saya, tidak ada konsep bertahan. Yang ada adalah upaya untuk selalu bermain agresif, selalu memasang perangkap bagi lawan, dan selalu mengambil inisiatif permainan. Bahkan ketika tidak menguasai bola, kita tetap menyerang, baik dengan bola maupun tanpa bola. Pada dasarnya, kita ingin menanamkan pola pikir proaktif kepada para pemain," ujar Herdman.

    Meski begitu, prinsip tersebut tidak mudah untuk diterapkan untuk melatih Timnas Indonesia agar bisa tampil konsisten selama 90 menit sesuai prinsipnya.

    Karena itu, dirinya berkolaborasi dengan Dr. Cesar Meylan untuk mencari jawaban mengapa Skuad Garuda selalu turun intensitas permainannya setelah menit ke-25.

    Sang pelatih menyimpulkan bahwa Timnas Indonesia perlu meninggalkan skema reaktif dan perlahan bermain lebih proaktif.

    Namun, filosofi proaktif bukan berarti bermain seperti gaya main ala Spanyol, karena banyak pemainnya dibesarkan dalam sistem pembinaan berbeda, terutama dari Belanda dan Indonesia.

    "Ya, itulah tantangan yang sedang kami pelajari. Saya bersama Dr. Meylan, kepala bagian performa, saat ini sedang mempelajari seluruh data dari pertandingan-pertandingan kami untuk memahami mengapa intensitas permainan mulai menurun sekitar menit ke-25," ujar Herdman.

    Baca Juga: Rencana Pelatih Timnas Indonesia John Herdman untuk Dapatkan Striker Berkualitas

    "Namun, seperti yang saya katakan, prinsip utama yang ingin kami terapkan di Indonesia adalah bergerak meninggalkan gaya bermain yang terlalu bertahan di area dalam lalu mengandalkan serangan balik. Kami ingin mencapai tingkat permainan yang lebih proaktif."

    "Tetapi, bermain proaktif bukan berarti bermain dengan gaya tiki-taka atau meniru gaya permainan Spanyol. Sebab, para pemain Belanda yang dibawa ke sini, para pemain yang tumbuh dan berkembang di Belanda, serta para pemain yang lahir dan tumbuh di Indonesia tidak dibesarkan dalam budaya sepak bola yang sama. Mereka memiliki gaya masing-masing," imbuhnya.

    Namun, John Herdman tetap mengakui bahwa pekerjaannya belum tuntas untuk merumuskan cetak biru permainan agar Timnas Indonesia bisa mengimbangi para raksasa Asia, misalnya Jepang dan Korea Selatan. 

    Dirinya menyadari bahwa Skuad Garuda harus siap bermain lebih variatif, karena menghadapi seekor singa tidak harus menyerupai seekor singa lebih dahulu.

    "Namun, di balik semua itu, kita harus membangun sebuah cetak biru permainan yang jelas. Sebab, jika kita menghadapi Jepang—dan kita memang akan menghadapinya—nilai keseluruhan tim tersebut mencapai 300 juta dolar AS. Tiga ratus juta. Sementara itu, nilai Indonesia, jika dilihat dari kualitas pemainnya, mencapai 30 juta dolar AS. Artinya, ada kesenjangan sepuluh kali lipat," ujar Herdman.

    "Bagi saya, salah satu kunci keberhasilan ketika menghadapi Jepang atau Amerika Serikat dalam situasi ketika lawan unggul secara kualitas adalah menciptakan situasi yang kacau, hampir menyerupai gaya bermain gerilya. Pendekatannya harus berbeda."

    "Jika Anda bukan seekor singa, Anda tidak bisa melawan singa dengan cara menjadi singa juga. Anda harus menemukan cara yang berbeda."

    "Karena itu, ada satu hal yang sudah saya janjikan kepada para pemain: kita tidak akan menghabiskan 90 menit di sekitar kotak penalti sendiri sambil berharap mendapatkan peluang dari situasi bola mati. Saya yakin kita bisa bermain lebih dinamis dan langsung ke depan ketika menghadapi tim-tim seperti itu."

    "Namun, kita juga harus menyadari bahwa identitas permainan dapat berubah sesuai dengan tingkat lawan yang kita hadapi di kompetisi internasional dan kondisi pertandingan," tutupnya.

    Komentar
    Additional JS