F1 Kembali ke Sepang, Kenapa Sirkuit Mandalika Tak Dilirik? - Kompas
KOMPAS.com - Perhatian kepada dunia Formula 1 tengah tertuju kepada Malaysia, tepatnya di Sirkuit Sepang, yang kini sedang menggelar balapan jet darat tersebut.
Formula 1 akan kembali menggelar balapan di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, untuk pertama kalinya sejak 2017.
Namun, balapan akhir pekan ini tidak tercatat sebagai GP Malaysia seperti dari 1999 hingga 2017, melainkan sebagai penyelenggaraan ke-20 GP Bahrain.
Keputusan tersebut merupakan konsekuensi dari perubahan kalender F1 2026 setelah GP Bahrain dan GP Arab Saudi dibatalkan.
INSIDE | BERAKHIR! | Atlético de Madrid 4 - 0 Real Sociedad
GP Bahrain awalnya dijadwalkan menjadi yang keempat di kalender F1 2026. Balapan seharusnya berlangsung pada 10-12 April di Sirkuit Internasional Bahrain, Sakhir.
Baca juga: MotoGP Bakal Batasi Anggaran Tim, Ikuti Langkah Formula 1
Situasi berubah setelah pecahnya perang Iran pada 28 Februari 2026.
Setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel, Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah, termasuk fasilitas di Bahrain.
Arab Saudi dicoret secara permanen dari kalender 2026. Bahrain, yang memiliki kontrak dengan Formula 1 hingga 2036, memilih mencari jalan lain agar tetap dapat menggelar balapan.
Baca juga: Media Italia Sorot Perjuangan Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup
Kesepakatan antara Formula 1, FIA, dan pemerintah Malaysia kemudian memindahkan balapan ke Sepang pada awal Oktober.
Lokasi Sepang menjadi pilihan karena letaknya strategis di antara GP Azerbaijan dan GP Singapura. Kedekatannya dengan Bandara Internasional Kuala Lumpur juga memudahkan pengiriman personel dan perlengkapan F1.
Sirkuit Sepang sendiri memiliki sertifikasi Grade 1 dari FIA. Setelah tidak lagi masuk kalender F1, trek tersebut tetap menjadi tuan rumah MotoGP sehingga pengalaman dalam menggelar ajang motorsport internasional tetap terjaga.
Baca juga: Bruno Fernandes Ungkap Pembicaraan dengan Ronaldo Usai Tinggalkan Timnas Portugal
Kenapa Tidak Bisa Bergulir di Mandalika?
Kemudian muncul pertanyaan, kenapa balapan tidak bisa bergulir di Indonesia, tepatnya di sirkuit kebanggaan Tanah Air, Sirkuit Mandalika, yang telah menggelar ajang MotoGP sejak 2022?
Menurut pemerhati olahraga dan pakar motorsport, Gatot Widakdo, hal paling mendasar karena Sirkuit Mandalika secara kelayakan (homologasi) belum masuk kategori untuk gelar F1.
"Saat ini Sirkuit Mandalika berlisensi FIA Grade 3 untuk mobil," ujar Gatot saat dihubungi Kompas.com pada Sabtu (3/10/2026) malam WIB.

Lihat Foto
Baca juga: Promo Ceban di Alfamart 1-15 Oktober 2026, Camilan dan Minuman Cuma Rp 10.000
Selain masalah homologasi FIA tersebut, mantan wartawan Harian KOMPAS (2002-2017) tersebut juga merunutkan beberapa faktor teknis, finansial, dan logistik yang membuat Sirkuit Mandalika belum bisa menjadi tuan rumah ajang Formula 1
Pertama adalah biaya penyelenggaraan (Hosting Fee) yang sangat tinggi.
"Menggelar ajang F1 membutuhkan komitmen finansial yang sangat masif dibanding balapan motor seperti MotoGP," lanjutnya.
Baca juga: MotoGP Mandalika 2026, 66 Penerbangan Tambahan dan 213 UMKM Disiapkan
"Hosting fee tahunan yang harus dibayarkan ke Formula One Group berkisar antara USD 30–50 juta (sekitar Rp500 miliar hingga Rp800 miliar per tahun). Angka ini belum termasuk biaya operasional pelaksanaan."
Perbandingan dengan MotoGP sangat kontras karena hak penyelenggaraan suatu balapan MotoGP berkisar Rp230 miliaran per tahun.
Ia menuturkan bahwa penambahan beban finansial untuk F1 dapat memberatkan keuangan pengelola kawasan (ITDC) maupun pemerintah.
Baca juga: Robot di China Punya Sekolah Khusus, Latih Ambil Botol hingga Lipat Pakaian
"Kedua adalah soal infrastruktur teknis sirkuit yang belum memenuhi standar F1," ujar Gatot melanjutkan.
"Meskipun tata letak dasar lintasannya sudah sangat baik untuk roda dua, infrastruktur fisik sekitar trek memerlukan perubahan besar."

Lihat Foto
"Dimensi Pit Garage dan Pit Lane perlu perubahan. Pit garage untuk F1 membutuhkan area yang jauh lebih luas dan dalam untuk menampung kru tim, garasi mobil, perlengkapan telemetri, serta area paddock/hospitality tim F1 yang sangat megah."
Baca juga: Kenapa Dedi Mulyadi Sidak Data Center BDx di Purwakarta? Ini Alasannya
"Pintu evakuasi (run-off gate) dan akses alat berat (seperti crane pencabut mobil saat kecelakaan) membutuhkan dimensi jauh lebih besar dibandingkan evakuasi sepeda motor."
F1 juga mewajibkan sistem sinyal otomatis canggih bagi para marshal, penambahan pembatas ban (barrier) dengan tingkat proteksi benturan tinggi khusus mobil balap kecepatan tinggi.
Ketersediaan Logistik dan Akomodasi
Ketersediaan akomodasi bintang lima dan aksesibilitas logistik juga menjadi sorotan.
Baca juga: Melihat Kepatuhan Operator agar Sisa Kuota Internet Tidak Hangus
Menurut pria yang menjabat sebagai Head of Motorsport Communication MGPA (2022) tersebut, ajang Formula 1 menargetkan segmen audiens dan kru korporat global dengan standar logistik yang sangat spesifik.
"Regulasi tak tertulis F1 dan kebutuhan paddock membutuhkan ribuan kamar hotel berbintang tinggi di area terdekat untuk menampung jajaran pimpinan tim, VIP, sponsor, dan tamu internasional," tuturnya.
"Jumlah hotel mewah di sekitar Lombok saat ini masih terbatas jika dibandingkan destinasi F1 lain seperti Singapura atau Abu Dhabi."

Lihat Foto
Baca juga: KA Mutiara Timur Fakultatif Ketapang-Surabaya Ditiadakan Sementara, Ini Alternatif Perjalanannya
"F1 membawa ratusan ton kargo berisi mobil, perlengkapan teknis, dan hospitality suite menggunakan beberapa pesawat charter jumbo (seperti Boeing 777F). Ini menuntut kesiapan kapasitas apron dan terminal kargo Bandara Internasional Lombok secara simultan."
Selain itu, karakteristik dan desain layout lintasan Sirkuit Mandalika dirancang khusus dengan filosofi balap motor (flowing track).
"Karakter lintasan dengan tikungan mengalir cepat (high-speed flowing corners) sangat cocok untuk aksi overtaking MotoGP," tutur pria yang juga pernah jadi Direktur Media PSSI ini melanjutkan.
"Namun untuk mobil F1 modern yang mengandalkan aerodynamic downforce tinggi, karakter lintasan Mandalika akan menyulitkan mobil untuk saling menempel dekat (following closely) dan melakukan aksi menyalip tanpa zona pengereman keras (heavy braking zones) mencukupi."
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.