Asian Games 2026 Resmi Ditutup, Diwarnai Rekor Dunia hingga Kisruh Penyelenggaraan - Kompas
NAGOYA, KOMPAS.com - Asian Games 2026 resmi ditutup di Jepang pada Minggu (4/10/2026) setelah berlangsung selama lebih dari dua pekan.
Ajang olahraga terbesar di Asia itu meninggalkan dua wajah yang berbeda.
Di satu sisi, Asian Games Aichi-Nagoya 2026 melahirkan sejumlah penampilan spektakuler dan rekor dunia.
Baca juga: Klasemen Akhir Medali Asian Games 2026: Indonesia ke-16, China Juara Umum
Tetapi, di sisi lain, penyelenggaraan turnamen diwarnai berbagai persoalan, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga minimnya jumlah penonton.
Update Perolehan Medali Asian Games 2026
Lebih dari 17.000 atlet dan ofisial dari berbagai negara mengikuti Asian Games kali ini. Jumlah tersebut bahkan lebih banyak dibandingkan peserta Olimpiade pada sejumlah penyelenggaraan sebelumnya.
Panitia menempatkan para peserta di hotel, unit hunian sementara berbentuk kontainer atau bangunan kayu, serta kapal pesiar Costa Serena karena Asian Games kali ini tidak memiliki kampung atlet konvensional.
Model tersebut semula disebut sebagai konsep yang lebih hemat dan berkelanjutan untuk penyelenggaraan ajang olahraga multievent di masa depan.
Namun, pelaksanaannya menuai keluhan.
Sejumlah kontingen mengeluhkan kamar yang terlalu sempit dan tempat tidur yang terlalu pendek. Membengkaknya jumlah peserta juga membuat kapasitas tempat tidur sempat tidak mencukupi.
Seorang pejabat Olimpiade Thailand bahkan menggambarkan situasi pencarian tempat menginap seperti permainan "musical chairs".
Masalah tidak berhenti pada akomodasi.
Sejumlah bus atlet terlambat atau bahkan tidak datang. Dua tim juga sempat dikirim ke lokasi pertandingan yang salah sehingga pertandingan bola voli mengalami penundaan.
Presiden Komite Olahraga dan Olimpiade Korea Selatan, Ryu Seung-min, bahkan memberikan penilaian keras terhadap penyelenggaraan tersebut.
"Jika saya harus memberi nilai, nilainya F," kata Ryu, dikutip AFP.
Panitia juga sempat salah memutar lagu kebangsaan Korea Utara ketika tim hoki Korea Selatan bertanding.
Persoalan lain muncul dalam upacara kemenangan sepak bola putra. Korea Selatan mengalahkan Jepang 1-0 untuk meraih medali emas, tetapi bendera Korea Selatan sempat tidak dikibarkan dalam seremoni kemenangan.
Rekor dunia bertebaran
Di tengah berbagai persoalan tersebut, para atlet tetap memberikan pertunjukan olahraga yang mengesankan.
Salah satu bintang terbesar Asian Games kali ini adalah perenang China berusia 13 tahun, Yu Zidi.
Yu meraih tiga medali emas, seluruhnya dengan catatan waktu yang memecahkan rekor Asian Games.
Ia menjadi juara nomor 200 meter gaya kupu-kupu serta nomor 200 meter dan 400 meter gaya ganti perorangan.
Penampilan tersebut membuat Yu dinobatkan sebagai salah satu Most Valuable Player (MVP) Asian Games 2026 dan menjadi MVP termuda dalam sejarah Asian Games. Hal tersebut juga dikonfirmasi panitia resmi Aichi-Nagoya 2026.
Meski tampil luar biasa, Yu tetap merendah.
"Saya tidak merasa seperti apa yang orang-orang gambarkan sebagai seorang anak ajaib," ujarnya.
Bintang muda lainnya datang dari tuan rumah Jepang. Perenang berusia 17 tahun, Shin Ohashi, memecahkan rekor dunia nomor 200 meter gaya dada putra.
Dari cabang atletik, sprinter Thailand Puripol Boonson juga tampil gemilang.
Atlet berusia 20 tahun itu meraih medali emas nomor 100 meter dan 200 meter putra. Ia juga dinobatkan sebagai MVP putra Asian Games 2026.
Sementara itu, lifter Korea Utara Ri Song Gum yang hanya memiliki tinggi 140 sentimeter mencetak tiga rekor dunia dalam satu hari untuk merebut medali emas.
Secara keseluruhan, OCA menyebut Asian Games Aichi-Nagoya menghasilkan puluhan rekor dunia.
Dalam keterangan pada hari terakhir, OCA mencatat 54 rekor dunia dan 89 rekor kontinental selama penyelenggaraan.
Penonton juga menjadi sorotan
Selain persoalan teknis, jumlah penonton menjadi masalah lain yang membayangi Asian Games 2026.
Upacara pembukaan berlangsung di hadapan ribuan kursi kosong. Pada semifinal sepak bola putri antara Jepang dan Korea Selatan, hanya 998 penonton yang hadir di stadion berkapasitas 50.000 orang.
Presiden Komite Olimpiade Jepang, Seiko Hashimoto, mengakui terdapat banyak masalah selama penyelenggaraan.
Namun, ia mengatakan Jepang tetap ingin menjadi tuan rumah berbagai ajang olahraga internasional pada masa mendatang.
Cuaca buruk, termasuk hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Jepang selama penyelenggaraan, disebut turut memengaruhi kehadiran penonton dan jadwal pertandingan.
Meski begitu, sejumlah pertandingan tetap mampu menarik puluhan ribu penonton. Sekitar 30.000 orang menyaksikan Korea Selatan mengalahkan Jepang dalam final sepak bola putra.
China juara umum
Di klasemen akhir perolehan medali, China keluar sebagai juara umum dengan 169 medali emas.
Tuan rumah Jepang berada di posisi kedua dengan 83 emas.
Jepang juga mencatat sejarah melalui Yuki Kurihara yang meraih medali emas eSports pada usia 11 tahun. Ia disebut sebagai juara Asian Games termuda dalam sejarah.
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 juga memperkenalkan sejumlah cabang olahraga yang berpotensi masuk program Olimpiade, seperti padel, mixed martial arts (MMA), dan taekwondo virtual.
Setelah Asian Games di Jepang resmi berakhir, tongkat estafet penyelenggaraan diserahkan kepada Doha, Qatar, yang akan menjadi tuan rumah Asian Games 2030.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.