Sosial Media
Live Skor Bola - Flashscore
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured FIFA ASEAN Cup Sepak Bola Sepak Bola Indonesia Spesial Timnas Indonesia Timnas Malaysia

    Soroti Paradoks Timnas Indonesia, Media Vietnam: Kualitas Pemain Tak Dibarengi Sistem yang Jelas - Semua Halaman - Superball

    4 min read

     

    Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers

  • Home
  • Timnas Senior
  • Rabu, 30 September 2026 | 08:54 WIB

    Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, sedang memberikan keterangan kepada awak media di Media Center Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (28/9/2026).Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, sedang memberikan keterangan kepada awak media di Media Center Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (28/9/2026). (MUHAMMAD ALIF AZIZ MARDIANSYAH/BOLASPORT.COM)

    SUPERBALL.ID - Media Vietnam menyoroti kualitas pemain Timnas Indonesia yang tidak dibarengi dengan kekuatan kolektif dan sistem yang jelas.

    Timnas Indonesia memasuki FIFA ASEAN Cup 2026 dengan ambisi untuk memenangi turnamen di kandang sendiri.

    Namun, Skuad Garuda belum mampu menampilkan citra sebagai penantang gelar yang dominan setelah melakoni dua pertandingan.

    Indonesia mengalahkan Singapura 2-0 sebelum bermain imbang 0-0 dengan Malaysia dalam pertandingan kedua di Grup A.

    Baca Juga: Kata-kata Shin Tae-yong usai Timnas Indonesia Cuma Imbang Lawan Malaysia

    Hasil tersebut tidak buruk, tetapi media asal Vietnam Van Hoa menilai penampilan Indonesia menimbulkan banyak pertanyaan.

    Indonesia telah meningkatkan kualitas tim nasionalnya dengan mendatangkan pemain-pemain keturunan yang bermain di liga-liga Eropa.

    Maarten Paes, Kevin Diks, Calvin Verdonk, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, dan Ole Romeny adalah beberapa contohnya.

    Timnas Indonesia bahkan menyumbang 7 pemain dalam daftar 10 pemain termahal di FIFA ASEAN Cup 2026.

    Namun, Van Hoa menilai laga melawan Malaysia dengan jelas menunjukkan kesenjangan antara pemain berkualitas dan sistem yang jelas.

    Indonesia dianggap kesulitan menciptakan opsi serangan yang efektif bahkan sebelum kehilangan Thom Haye karena kartu merah pada menit ke-37.

    Kartu merah Haye jelas mengubah jalannya pertandingan, tetapi itu tidak dapat menjelaskan semua keterbatasan dalam performa Indonesia.

    Pelatih John Herdman bisa menggunakan formasi 3-4-3 atau 4-3-3, lalu beralih ke struktur yang lebih defensif saat kekurangan pemain.

    Namun, Van Hoa menilai masalah Timnas Indonesia terletak pada eksekusi dari skema tersebut.

    "Indonesia belum menunjukkan cukup banyak opsi ketika lawan mengubah pendekatan mereka. Ketika lawan bermain menyerang, mereka perlu memanfaatkan ruang di belakang."

    Baca Juga: Winger Malaysia Buktikan Ucapannya soal Pemain Timnas Indonesia Bisa Diperdebatkan

    "Ketika lawan bermain bertahan, mereka perlu melakukan kombinasi di lini tengah. Ketika lini tengah terblokir, sayap harus menciptakan terobosan."

    "Namun, pendekatan Indonesia cukup monoton dan terlalu bergantung pada bola-bola panjang dan umpan silang," tulis Van Hoa.

    Menurut Van Hoa, ini adalah paradoks paling mencolok dari Timnas Indonesia.

    "Mereka memiliki pemain yang terlatih di Eropa, memiliki kecepatan, teknik, dan pengalaman internasional, tetapi kualitas-kualitas ini belum terhubung menjadi sistem yang cukup serbaguna."

    "Isunya bukan apakah para pemain ini memiliki kualitas yang memadai. Mereka jelas telah meningkatkan kualitas Timnas Indonesia."

    "Pertanyaannya adalah seberapa baik Indonesia telah mengubah sumber daya tersebut menjadi kekuatan kolektif."

    "Sebuah tim dengan banyak pemain internasional masih bisa bermain monoton jika taktiknya tidak menciptakan ruang yang cukup."

    "Serangan dengan individu-individu yang luar biasa masih bisa tidak efektif jika kurang terkoordinasi," tulis Van Hoa.

    Pertandingan melawan Bangladesh pada 1 Oktober akan menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk membuktikan kemampuan menyerang mereka.

    Ini juga menjadi waktu bagi Herdman menunjukkan bahwa ia dapat memanfaatkan sumber daya yang telah dibangun Indonesia beberapa tahun terakhir.

    Van Hoe menilai gelar juara tidak diberikan kepada tim dengan pemain berkualitas, tetapi kepada tim yang memiliki kekuatan kolektif.

    Komentar
    Additional JS