Sosial Media
Arena Update
powered by Surfing Waves
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured Piala Dunia Sepak Bola Sepak Bola Indonesia Sepak Bola Internasional Spesial Timnas Spanyol

    Rahasia Spanyol Jadi Juara Dunia dan Tantangan Sepak Bola Indonesia - Kompas

    7 min read

     


    KOMPAS.com - Juara Piala Dunia 2026, Spanyol, memiliki sistem pembinaan usia muda yang unggul. Namun, meniru Spanyol saja tidak akan cukup bagi Indonesia.

    Keberhasilan Spanyol menjadi kampiun Piala Dunia 2026 merupakan buah kerja keras mereka membangun sepak bola dari level akademi dan akar rumput.

    Dari 26 pemain yang menghiasi skuad juara Spanyol di Piala Dunia 2026, 25 di antaranya merupakan jebolan LALIGA Youth Academy.

    Mayoritas talenta La Roja lahir dari "dapur" mereka sendiri, yakni akademi-akademi klub. 

    INSIDE | BERAKHIR! | Atlético de Madrid 4 - 0 Real Sociedad

    Hal yang kian membanggakan Spanyol, komposisi pemain tim nasional mereka di Piala Dunia 2026 datang dari beragam klub, bukan hanya tiga atau empat tim besar.

    Baca juga: Statistik Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Nyaris Sempurna

    Perwakilan LALIGA Grasroots Department, Juan Florit, mengatakan ada 11 akademi klub yang berkontribusi menelurkan talenta yang membela Spanyol di Piala Dunia 2026.

    Angka-angka ini sudah cukup untuk menggambarkan betapa unggulnya pembinaan usia muda di negara yang terletak di semenanjung Iberia itu.

    Perwakilan LALIGA Grasroots Department, Juan Florit, saat berbicara dalam sebuah forum.

    Lihat Foto

    Resep Rahasia Spanyol

    Lantas apa rahasia Spanyol membangun sepak bolanya?

    Baca juga: Begini Rutinitas Tak Biasa Jeff Bezos yang Bikin Otak Cemerlang

    Dalam sebuah sesi wawancara secara daring dengan sejumlah media, termasuk KOMPAS.com, Selasa (15/9/2026), Juan Florit, menyatakan fase pembinaan usia muda di Spanyol sejatinya mirip dengan negara-negara kebanyakan.

    Fase perkembangan pemain di akademi terbagi dalam tiga tahapan, yakni kategori usia 8-12 tahun, 13-16 tahun, dan 17 tahun ke atas sebelum terjun ke ranah profesional.

    Pakem umum yang berlaku di kebanyakan negara, pada kategori usia 8-12 hal yang menjadi titik fokus adalah koordinasi teknik, melatih kepercayaan diri dengan bola, dan mempelajari dasar permainan.

    Lalu, dari usia 13 hingga 16 tahun, pekerjaan taktis dan kognitif menjadi lebih penting. Aspek fisik dan psikologis kemudian mulai disentuh ketika pemain mencapai usia 17 tahun dan seterusnya, sebagai bekal menuju sepak bola profesional.

    Namun, pendekatan berbeda dilakukan di akademi tim Spanyol. Ia mengatakan semua aspek pelatihan tadi bisa diberikan dalam setiap kategori usia.

    Baca juga: Kata John Herdman soal Debut Emil Audero di LaLiga: Inspirasi Generasi Muda

    Intinya, pemain yang harus jadi fokus. Dengan kata lain, menu latihan tetap harus menyesuaikan dengan kebutuhan pemain bersangkutan.

    "Secara pribadi, semakin banyak saya melihat, semakin banyak saya belajar, semakin banyak akademi yang saya kunjungi dan saya melihat berbagai profil pemain, semakin saya percaya bahwa penting untuk mengerjakan semuanya di semua tahap," tutur Juan Florit.

    "Tidak ada logika, tidak ada alasan untuk tidak mengerjakan aspek taktis dan kognitif bersama pemain-pemain muda usia 8, 10, atau 12 tahun. Anda bisa melakukan semuanya, tentu saja, dari sudut pandang adaptif, tetapi Anda bisa melakukannya," katanya menjelaskan.

    Baca juga: Mirwan Suwarso Samakan Fabregas dengan Johan Cruyff, Ajari Como Bermimpi

    "Jadi pesan saya untuk mengakhiri jawaban pertama ini adalah bahwa Anda bisa dan Anda harus mengerjakan semuanya di semua usia dan selalu dengan satu prinsip di semua tahap, yaitu pemain harus menjadi yang utama, bukan hasil jangka pendek," tutur Florit lagi.

    Tantangan untuk Indonesia

    Pembinaan yang berfokus kepada pemain jadi kekuatan Spanyol. Perihal lain yang tak kalah penting adalah lingkungan yang mendukung.

    Faktor inilah yang dinilai Florit masih menjadi tantangan untuk negara-negara di Asia, termasuk Indonesia.

    Baca juga: Cara Menonton Persija Vs Persib Hari Ini, Kickoff Jam 15.30 WIB

    "Menurut saya, perbedaan utama antara Spanyol dan negara seperti Indonesia atau banyak negara lainnya biasanya terletak pada kematangan dan kesinambungan sistem pengembangan di sekitar pemain," ujar Florit.

    "Menurut saya, ada tiga area yang sangat penting. Yang pertama adalah memiliki pendidikan kepelatihan yang kuat dan metodologi yang jelas. Dan di Spanyol sejak tahun 1990-an, jadi selama hampir 40 tahun, kami telah berupaya membangun pendidikan kepelatihan dan metodologi yang kuat ini," ucapnya menambahkan.

    Kompetisi Usia Muda Reguler

    Florit menekankan tentang arti penting memiliki sistem kompetisi yang teratur dan sesuai usia di sepanjang musim.

    Baca juga: Di ISS 2026, CEO Ajax Ungkap Cara Klub Bangkit dari Keterpurukan

    Salah satu elemen utama dari keberhasilan tim nasional Spanyol dan klub-klub LaLiga adalah keutuhan sistem kompetisi nasional, yang dibangun dari level dasar hingga elite.

    "Sangat penting untuk memiliki jalur yang jelas dari sepak bola usia muda menuju level profesional, yang didukung oleh sistem perlindungan dan pendampingan pemain yang sangat baik, yang merupakan sesuatu yang juga kami kerjakan dengan sangat serius di Spanyol dalam tujuh hingga delapan tahun terakhir melalui rencana nasional kami," kata Juan Florit.

    "Kami harus memastikan bahwa sistem dan proses perlindungan serta pendampingan pemain memiliki kualitas yang tinggi. Dan prinsip-prinsip ini tentu saja harus disesuaikan dengan realitas Indonesia dan realitas negara lainnya, termasuk sistem sekolah, termasuk kondisi geografis, termasuk iklim, termasuk struktur, serta tingkat profesionalisme setiap klub."

    Baca juga: Sekjen AFC Nilai Liga Indonesia Berkembang, Singgung Persib dan Persija

    "Kami tahu bahwa di Indonesia, ada beberapa klub yang juga mulai menjadi semakin profesional. Dan ini sangat bagus. Namun, sekadar meniru latihan atau cara berpikir Spanyol tidaklah cukup."

    "Lingkungan di sekitar pemainlah yang memberikan perbedaan terbesar dalam jangka panjang, menurut saya," tuturnya menjelaskan.

    Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

    Komentar
    Additional JS