Sosial Media
Live Skor Bola - Flashscore
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured FIFA ASEAN Cup Sepak Bola Sepak Bola Indonesia Spesial Timnas Indonesia Timnas Malaysia

    Pengamat Kuliti Kelemahan Timnas Indonesia usai Kalahkan Singapura, Ada 4 Aspek - Semua Halaman - Bolasport

    5 min read


    Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers

  • Home
  • Timnas
  • Minggu, 27 September 2026 | 17:15 WIB

    Salah satu pengamat sepak bola nasional menilai Timnas Indonesia memiliki empat kekurangan.Salah satu pengamat sepak bola nasional menilai Timnas Indonesia memiliki empat kekurangan. (MUHAMMAD ALIF AZIZ MARDIANSYAH/BOLASPORT.COM)

    BOLASPORT.COM - Timnas Indonesia berhasil mengalahkan Singapura dengan skor 2-0 pada laga perdana Grup A FIFA ASEAN Cup 2026.

    Duel tersebut terlaksana di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada 25 September 2026.

    Kala itu, dua gol Timnas Indonesia dicetak oleh Ragnar Oratmangoen dan Ole Romeny.

    Hasil ini rupanya belum membuat pengamat sepak bola Indonesia nasional, Titis Widyatmoko puas dengan penampilan Timnas Indonesia.

    Titis menilai Skuad Garuda masih memiliki banyak kekurangan.

    Pertama adalah terkait penyelesaian akhir.

    "Kelemahan yang tampak dalam pertandingan melawan Singapura, pertandingan pertama, itu adalah finishing touch yang lemah," kata Titis, dilansir BolaSport.com dari Kompas.com.

    "Kita lihat dari 11 percobaan ke gawang lawan, delapan tidak mencapai sasaran. Hanya tiga yang mencapai sasaran."

    "Jadi di situ terlihat bahwa penyelesaian akhir itu adalah sebuah persoalan," tuturnya.

    Baca Juga: Hasil FIFA ASEAN Cup 2026 - Hong Kong Hajar Laos dengan Skor besar

    Kedua adalah gagal memaksimalkan peluang dari bola mati.

    Sebagai informasi, Timnas Indonesia kini memiliki beberapa pemain yang cukup tinggi seperti Elkan Baggott hingga Mitchell Baker.

    Seharusnya, keunggulan tersebut bisa dimanfaatkan lebih saat adanya peluang dari bola mati.

    "Kemampuan mengoptimalkan bola-bola mati."

    "Memang satu gol datang dari tendangan bebas, tapi kalau kita melihat ada 11 tendangan sudut, itu tidak ada atau jarang sekali dari 11 tendangan sudut itu yang berbuah peluang atau goal,"

    "Meskipun sebenarnya para pemain Indonesia memiliki competitive advantage dari sisi postur."

    "Ada Mitchell Baker dan juga ada satu lagi pemain belakang yang tinggi posturnya itu, Elkan Baggott, yang posturnya jelas lebih tinggi dari beberapa pemain atau mayoritas main bertahan Singapura. Nah, ini tidak bisa dimanfaatkan," ujarnya.

    Ketiga adalah terkait kualitas umpan silang yang buruk.

    Baca Juga: 3 Pemain Kunci Timnas Indonesia untuk Bungkam Malaysia - Menanti Konsistensi Amunisi Baru

    Titis berharap para pemain Timnas Indonesia terutama yang berposisi sebagai winger bisa memiliki kualitas umpang silang yang lebih baik.

    Ia berpendapat bahwa peluang Timnas Indonesia saat melawan Singapura sering terbuang sia-sia akibat umpan silang yang tak tepat sasaran.

    "Satu lagi adalah kualitas umpan silang atau crossing yang buruk."

    "Beberapa kali karena memiliki satu striker yang posturnya tinggi, pemain-pemain sayapnya itu cenderung untuk mengirim bola-bola silang atau umpan silang dengan harapan memang akan bisa diselesaikan menjadi gol."

    "Tetapi kualitas crossingnya kalau kita lihat, hampir semuanya bisa dimanfaatkan oleh barisan belakang Singapura atau berhasil dikuasai oleh penjaga gawan," ujar Titis.

    Terakhir yakni kembali terkait masalah umpan.

    Kali ini saat Timnas Indonesia berada di lini pertahanan lawan.

    Ia menilai para pemain masih sering salah umpan di saat Timnas Indonesia sedang melancarkan serangan.

    Baca Juga: Winger Johor Darul Ta'zim Puncaki Top Scorer Sementara FIFA ASEAN Cup 2026, Ragnar dan Romeny Jagoan Timnas Indonesia

    Titis berharap semua kekurangan ini bisa diperbaiki jelang Timnas Indonesia melawan Malaysia.

    Duel Timnas Indonesia vs Malaysia dijadwalkan terlaksana pada Senin (28/9/2026).

    "Berikutnya adalah situasi atau pemahaman situasi di sepertiga lapangan akhir atau final third."

    "Di situ seringkali tampak kita dengan kasat mata adalah salah umpan, pergerakan yang belum bisa membaca apa yang dimaui oleh kawan," tutup Titis.

    Komentar
    Additional JS