Ojol Patok Tarif Rp 300.000 dari GBK ke Taman Anggrek, Melonjak Saat Suporter Sulit Pulang - Kompas
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengemudi ojek online (ojol) mematok tarif tinggi tanpa menggunakan aplikasi bagi para suporter usai laga Timnas Indonesia melawan Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Senin (29/9/2026) malam.
Fakhri (28), suporter yang datang dari Bandung, Jawa Barat, mengaku sempat ditawari tarif ojol hingga Rp 300.000 untuk mengantarnya dia dan dua temannya ke tempat penginapan di kawasan Taman Anggrek, Jakarta Barat.
Baca juga: Satpam Kafe di Gunawarman Kena Batunya, Dipecat Usai Getok Tarif Parkir Rp 150.000
Mulanya, Fakhri bersama dua temannya berulang kali gagal mendapatkan pengemudi ojol melalui aplikasi, meski telah menggunakan layanan dengan tarif lebih tinggi.
"Terus tadi awalnya kan saya pesan-pesan ojol tuh. Pesen ojol itu Rp 34.000 kalau di aplikasi. Itu udah yang express ya, bukan yang hemat, karena yang hemat tuh enggak bisa dipakai. Nah, tapi sampai tiga kali itu di-cancel terus," ungkap Fakhri kepada Kompas.com di lokasi, Senin malam.
5 Makanan Bikin Awet Muda Menurut Ahli, Ada Kunyit
Baca juga: Sebelum Tabrakan di Stasiun Bekasi Timur, Masinis KA 5568A 2 Kali Hubungi PPKP tapi Tak Terjawab
Fakhri bahkan sempat mendapati pesanannya di aplikasi telah diterima pengemudi.
Namun, pengemudi tersebut tidak kunjung datang menjemput.
Ia kemudian sempat mempertimbangkan memesan taksi online.
Namun, niat itu diurungkan karena khawatir terjebak kemacetan parah di sekitar Senayan seusai pertandingan.
Di tengah situasi tersebut, tepat di depan Gate G SUGBK, Fakhri dihampiri sejumlah pengemudi ojol yang menawarkan jasa angkutan secara offline atau tanpa menggunakan aplikasi.
Tarif yang ditawarkan, kata Fakhri, melonjak jauh dibandingkan harga yang tertera di aplikasi.
"Nah, terus banyak yang nawarin tuh pas tadi di depan gerbang G, di depan Gate G itu banyak yang nawarin kan offline tanpa aplikasi. Saya tanya dong berapa. Oh, ternyata dia awalnya mintanya Rp 120.000. Awalnya minta segitu," tutur Fakhri.
Mendengar tarif tersebut, Fakhri mencoba menawar karena harga di aplikasi hanya berkisar Rp 30.000-an.
"Saya tawar dong, saya tawar Rp 50.000 aja enggak mau. Akhirnya dia maunya Rp 100.000. mereka mau lah untuk ngangkut bertiga, masing-masing satu," jelasnya.
"Jadi mereka dari awal emang barengan, pas ngelihat saya bertiga, mereka juga datang bertiga ngerumunin," sambungnya.
Para pengemudi tersebut, kata Fakhri, berdalih tarif mahal itu sepadan karena mereka mengetahui rute alternatif untuk menghindari kemacetan di sekitar Senayan seusai pertandingan.
Namun, Fakhri mengaku tidak begitu saja mempercayai alasan tersebut.
"Cuma setelah saya pikir-pikir lagi, sayang banget kalau Rp 100.000 cuma ke sana kan. Akhirnya ya udahlah, saya coba nawar lagi 70, enggak diterima. Alasannya mereka tuh mau bawa saya lewat jalan pintas, biar cepet jalannya, enggak bakal kena macet," ujarnya.
Pilih makan bakso sambil menunggu
Fakhri akhirnya menolak tawaran tersebut karena tidak ingin pengeluarannya membengkak hingga Rp 300.000 hanya untuk ongkos pulang tiga orang.
"Akhirnya ya udahlah, enggak usah. Karena sayang kan duitnya, mendingan buat saya makan dan buat ongkos balik lagi ke Bandung besok gitu. Karena kalau misalnya Rp 100.000 kali tiga tuh udah lumayan gitu. Itu udah tiga kali lipat kan dari harga aslinya," kata Fakhri.
Ia dan kedua temannya kemudian memilih menepi di sekitar area stadion untuk beristirahat sembari menunggu kepadatan lalu lintas dan tarif aplikasi kembali normal.
"Akhirnya ini saya minggir dulu sih, makan bakso dulu. ya satu jam atau dua jam lagi juga enggak apa-apa kan ini belum tengah malem juga kan. Habis itu baru kita paling pesen onol biasa lagi gitu pas udah enggak macet dan udah normal lagi tarifnya," ucapnya.
Selama menunggu, Fakhri melihat sejumlah suporter lain akhirnya menerima tawaran ojol offline.
Namun, ia tidak mengetahui harga yang disepakati antara pengemudi dan penumpang.
Sebagai suporter yang datang untuk menikmati pertandingan, Fakhri berharap penyedia layanan transportasi tidak memanfaatkan situasi keramaian untuk menaikkan tarif secara berlebihan.
"Kalau saya sih harapannya, paham sih kita namanya lagi rame gini kan, cuman ya jangan terlalu banyak lah naikinnya gitu. Ngambil untung kan juga jangan terlalu banyak karena kan kita juga di sini niatnya cuma pengen nyari hiburan gitu, dan biar nyaman aja pulangnya. Gitu aja sih," tutupnya.
Kata driver ojol
Sementara itu, Budi (bukan nama sebenarnya), salah satu pengemudi ojol yang menawarkan jasa tanpa aplikasi, mengatakan, tarif lebih tinggi dibanding harga aplikasi merupakan kompensasi untuk menembus kemacetan.
"Namanya kalau bubaran bola, konser, itu kan macet, kita anternya lebih lama jadinya, jadi lebih juga ongkosnya," tuturnya di lokasi.
Biasanya, Budi mengambil penumpang yang hendak menggunakan transportasi umum seperti ke Stasiun Palmerah.
Untuk tarif sekali jalan ke Stasiun Palmerah, yang merupakan stasiun terdekat dari GBK, Budi mengenakan tarif sekitar Rp 35.000.
Sementara, berdasarkan pengecekan melalui aplikasi, tarif dari Pintu 10 GBK menuju Stasiun Palmerah berada di angka Rp 19.500.
Sementara alasan Budi menawarkan tarif tanpa aplikasi untuk mempermudah penumpang.
Budi menyebut, di tengah kondisi kepadatan penonton setelah bubaran laga di stadion, biasanya aplikasi ojol sulit diakses dan sulit mendapatkan pengemudi.
"Biar cepet aja (tanpa aplikasi), kalau lewat aplikasi suka mental dapatnya driver yang jauh, jemputnya lama karena macet. Kalau offline langsung naik," kata Budi kepada Kompas.com di lokasi.
Ia juga menyebut bahwa aplikasi pemesanan milik penumpang kerap mengalami eror karena susah sinyal di tengah kerumunan penonton.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.