Erupsi Anak Krakatau Tunda Kepulangan Tim Super League - Persebaya Tempuh Jalur Laut, Persija Sesuaikan Rute Pesawat - Semua Halaman - Bolasport
Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers
Minggu, 6 September 2026 | 16:15 WIB
Kapten Persebaya Surabaya, Francisco Rivera beberkan suasananya usai pulang dari laga tandang melawan Bhayangkara FC pada pekan perdana Super League 2026/2027 (PERSEBAYA)
BOLASPORT.COM - Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta mengalami dampak serius dari Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/9/2026).
Sebagai informasi, Persebaya dan Persija harus mengawali Super League 2026/2027 dari perjalanan laga tandang.
Persebaya bertandang ke markas Bhayangkara FC di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, pada Sabtu (5/9/2026).
Pada hari yang sama, Persija Jakarta bertanding di markas Borneo FC di Stadion Segiri, Samarinda.
Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat perjalanan udara menjadi terganggu.
Persebaya dan Persija tidak bisa mengandalkan perjalanan udara usai Bandara Soekarno-Hatta ditutup.
Selain itu, abu hasil erupsi sudah menyebar sampai Jakarta, Banten, hingga Bandar Lampung.
Persebaya dalam unggahan resminya sempat tertahan di Bandar Lampung sampai Minggu (6/9/2026) pagi WIB.
Mereka baru bisa melakukan perjalanan pada pukul 07.00 melalui jalur darat menuju Pelabuhan Bakauheni untuk menyeberang menuju Merak.
Baca Juga: Kalahkan Borneo FC, Shin Tae-yong Sebut Persija Baru Tunjukkan 50 Persen Kekuatan
Sesampainya di Merak, tim akan bertolak menuju Surabaya menggunakan jalur darat.
Sementara Persija Jakarta menggunakan strategi yang berbeda.
Manajemen tim Macan Kemayoran harus melakukan penyesuaian destinasi perjalanan udara.
Awalnya, Persija langsung melakukan penerbangan langsung dari Samarinda menuju Jakarta.
Situasi terkini membuat anak asuh Shin Tae-yong harus menempuh jalan memutar.
Persija harus berangkat ke Balikpapan terlebih dahulu setelah bertanding dari Samarinda.
Setelahnya, Persija akan terbang ke Yogyakarta.
Nah, dari Yogyakarta, Persija akan melanjutkan perjalanan langsung ke Jakarta.
Baca Juga: Kalahkan Borneo FC, Shin Tae-yong Yakin Persija akan Lebih Baik saat Melawan Persib
Namun, pihak manajemen tidak menjelaskan cara untuk menempuh perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta.
"Dampak erupsi Anak Krakatau membuat perjalanan Persija menuju Jakarta mengalami penyesuaian rute. Dari semula Samarinda–Jakarta, menjadi Samarinda–Balikpapan–Yogyakarta–Jakarta," tulis pernyataan resmi Persija Jakarta.
Sementara Kapten Persebaya, Francisco Rivera mengaku baru merasakan perjalanan melalui laut untuk pertama kali seumur hidupnya.
"Ya, ini pengalaman baru, bepergian seperti ini ke, ke Surabaya. Jadi kita bisa memahami para penggemar yang melakukan perjalanan yang sama untuk mendukung kami," ujar Francisco Rivera melalui rekaman video yang diterima BolaSport.com.
"Dan ini pertama kalinya saya bepergian menggunakan kapal di Indonesia. Setelah naik bus, eh kami berharap semuanya baik-baik saja dan kami bisa cepat sampai di Surabaya," imbuhnya,
Gunung Anak Krakatau erupsi menerus hingga Sabtu pagi, terdengar dentuman dan gemuruh dari Pos GAK Pasauran. (Magma Indonesia via Kompas.com)
Update Terkini Erupsi Gunung Anak Krakatau
Dikutip dari laman resmi BMKG, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, masih berlangsung hingga Sabtu (5/9) pagi.
Erupsi menerus yang dimulai sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB tersebut disertai terdengarnya dentuman dan suara gemuruh dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.
Terdengarnya dentuman dan suara gemuruh dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau menjadi bagian dari aktivitas erupsi yang masih berlangsung.
Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan gunungapi untuk melihat aktivitas erupsi maupun mengambil gambar atau video, mengingat masih terdapat potensi lontaran material dari kawah aktif.
Kekhawatiran masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung, terhadap potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau turut menjadi perhatian pemerintah.
Kekhawatiran tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman masyarakat terhadap peristiwa tsunami pada 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.