Sosial Media
Live Skor Bola - Flashscore
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Featured FIFA ASEAN Cup Sepak Bola Sepak Bola Indonesia Spesial Timnas Indonesia Timnas Malaysia

    Dua Legenda Timnas Indonesia Ungkap Lawan Terberat di ASEAN, Malaysia Jadi Pilihan Pertama - Semua Halaman - Bolasport

    7 min read


    BOLASPORT.COM - Rivalitas Indonesia dan Malaysia ternyata memiliki tempat khusus bagi dua legenda Timnas Indonesia, Ponaryo Astaman dan Kurniawan Dwi Yulianto.

    Keduanya sama-sama menyebut Malaysia sebagai salah satu lawan yang paling berkesan selama memperkuat Timnas Indonesia.

    Ponaryo Astaman bahkan menganggap pertandingan Indonesia melawan Malaysia memiliki atmosfer yang berbeda dibandingkan pertemuan dengan negara ASEAN lainnya.

    "Kalau buat saya memang Malaysia," ujar Ponaryo Astaman.

    Mantan kapten Timnas Indonesia itu kemudian menjelaskan alasan di balik pilihannya.

    Menurut Ponaryo, rivalitas Indonesia dan Malaysia terasa semakin spesial karena kedua negara memiliki kedekatan sebagai negara serumpun.

    "Karena memang selalu rival. Ini mungkin karena kita satu rumpun," kata Ponaryo.

    Baca Juga: Dean James Bangga Bisa Kembali Dipanggil ke Timnas Indonesia

    "Sehingga di antara Indonesia dan Malaysia juga banyak dianggap saudara sebetulnya."

    "Jadi seperti perkelahian antara saudara," lanjutnya.

    Meski demikian, Ponaryo menilai Malaysia bukan satu-satunya rival yang memiliki arti penting bagi Timnas Indonesia.

    Ia juga menyebut Singapura, Thailand, dan Vietnam sebagai negara yang menjadi rival Indonesia di kawasan ASEAN.

    Namun, pertandingan menghadapi Malaysia menurutnya tetap memiliki nuansa tersendiri.

    "Di luar daripada Malaysia, mungkin Singapura juga seperti itu, Thailand, Vietnam juga saya pikir memang menjadi rival di kawasan," ujar Ponaryo.

    "Tapi bertemu dengan Malaysia selalu spesial dibanding yang lain," imbuhnya.

    Baca Juga: Bukan Thailand, Legenda Malaysia dan Singapura Sebut Timnas Indonesia Lawan Terberat

    Salah satu alasan Ponaryo menilai rivalitas Indonesia-Malaysia begitu spesial adalah atmosfer pertandingan yang pernah ia rasakan secara langsung.

    Ponaryo pernah bermain di Stadion Nasional Bukit Jalil, Malaysia, di hadapan puluhan ribu suporter tuan rumah.

    Di sisi lain, pemain-pemain Malaysia juga pernah merasakan tekanan ketika bertanding di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.

    "Saya pernah merasakan atmosfer di Bukit Jalil dengan puluhan ribu suporternya."

    "Tapi sebaliknya, mereka juga merasakan atmosfer di GBK dengan puluhan ribunya," ujar Ponaryo.

    "Jadi saya pikir memang pertemuan Indonesia-Malaysia dibandingkan dengan rivalitas yang lain memang sedikit lebih spesial," katanya.

    Pandangan serupa disampaikan legenda Timnas Indonesia lainnya, Kurniawan Dwi Yulianto.

    Baca Juga: Kandang Atletico Madrid Mulai Kejam bagi Mourinho

    Kurniawan menyebut Malaysia dan Singapura sebagai dua lawan yang paling ia ingat ketika berbicara mengenai pertandingan di kawasan ASEAN.

    Ia kemudian teringat dengan perjalanan Timnas Indonesia pada Piala AFF 2004.

    Dalam turnamen tersebut, Timnas Indonesia menghadapi Malaysia dan sempat kalah ketika bermain di kandang sendiri.

    Namun, skuad Garuda mampu bangkit ketika bertandang ke Stadion Bukit Jalil.

    "Sama ya. Bagi saya, Malaysia dan Singapura. Terutama saat AFF 2004-2005," ujar Kurniawan Dwi Yulianto.

    "Malaysia, kita kalah di home, tapi bisa membalikkan keadaan di Bukit Jalil," lanjutnya.

    Sayangnya, perjalanan Timnas Indonesia saat itu berakhir sebagai runner-up setelah kalah dari Singapura pada pertandingan final.

    Baca Juga: Kandang Atletico Madrid Mulai Kejam bagi Mourinho

    Kurniawan mengaku masih mengingat momen tersebut, termasuk ketika menghadapi Baihakki Khaizan yang juga hadir dalam kesempatan tersebut.

    "Kemudian sayangnya kita kalah di final. Kalah sama dia," kata Kurniawan sambil menunjuk Baihakki Khaizan.

    "Cuma ya enggak apa-apa. Memang itulah sepak bola," imbuhnya.

    Meski pertandingan Indonesia kontra Malaysia dan Singapura berlangsung sengit, Kurniawan menilai rivalitas tersebut tidak menghilangkan hubungan baik antarpemain.

    Menurutnya, para pemain dari negara-negara ASEAN tetap bisa menjalin pertemanan setelah pertandingan berakhir.

    Hal itu menjadi salah satu hal yang menurut Kurniawan membuat sepak bola Asia Tenggara begitu menarik.

    "Kita sebagai pemain bola, yang kita rasakan ketika tanding melawan tim di ASEAN, di dalam lapangan kita benar-benar fight," ujar Kurniawan.

    Baca Juga: Veda Malang, Manajer Honda Team Asia Tetap Apresiasi Aksi Brilian The Rocket Boy di Moto3 Austria 

    "Tapi di luar lapangan, kita dengan Malaysia, dengan Singapura seperti teman, sahabat. Itu yang luar biasa," katanya.

    Negara-negara Asia Tenggara akan kembali bertarung pada turnamen FIFA ASEAN Cup 2026.

    Turnamen tersebut akan digelar pada 25 September sampai 5 Oktober 2026 di Indonesia.

    Grup A diisi oleh timnas Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Bangladesh.

    Sedangkan Grup B diisi oleh Vietnam, Thailand, Filipina, dan Pakistan.

    Seluruh pertandingan akan digelar di SUGBK dan Stadion Si Jalak Harupat.

    Komentar
    Additional JS