Cara I.League agar Klub Indonesia Tidak Lagi Tunggak Gaji - Semua Halaman - Bolasport
BOLASPORT.COM - I.League terus berupaya membenahi tata kelola klub sepak bola Indonesia, termasuk persoalan finansial yang selama ini menjadi salah satu pekerjaan rumah.
Salah satu fokus utama yang didorong adalah memperketat proses club licensing agar klub mampu berdiri lebih mandiri dan sehat secara keuangan.
Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa, mengatakan pembenahan tersebut merupakan bagian dari proses panjang untuk membawa sepak bola Indonesia menuju standar yang lebih baik.
Ia mengakui masih ada perbedaan jika kompetisi Indonesia dibandingkan dengan liga-liga di Eropa seperti Belanda dan Spanyol.
Namun, Sadikin menegaskan tidak ada kata terlambat bagi sepak bola Indonesia untuk mulai berbenah.
"Saya dan Kang Asep sudah pernah ke Belanda dan Spanyol."
"Kalau kita mau bandingkan dengan sana memang beda, tapi menuju ke sana ada."
"Kita bilang ada kata terlambat? Enggak ada. Kita mulai saja," kata Sadikin.
Menurut Sadikin, sepak bola Indonesia memiliki sejumlah pengalaman berat yang memberikan dampak besar terhadap kondisi klub.
Salah satunya ketika Indonesia mendapatkan sanksi dari FIFA pada 2015.
Selain itu, pandemi Covid-19 juga membuat kompetisi terhenti dalam waktu yang panjang.
"Kita harus akui di Indonesia ini ada dua kali kita dapat masalah. "
"Pertama waktu kita dapat ban dari FIFA, terus kedua ada zaman Covid."
"Kita 500 berapa hari enggak main, sekitar 1,5 tahun kita enggak main," ujarnya.
Situasi tersebut, lanjut Sadikin, turut meninggalkan beban yang hingga kini masih dirasakan sejumlah klub.
Bahkan, pemilik klub saat ini disebut masih harus menanggung persoalan yang muncul dari masa lalu.
"Jangan salah, klub-klub ini mendapatkan masalah besar."
"Owner-owner ini masih nanggung dari masalah-masalah masa lalu. Itu harus kita beresin semua," tegasnya.
Karena itu, I.League ingin memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi, khususnya terkait kewajiban klub kepada pemain dan pihak-pihak lainnya.
Sadikin menyebut para pemilik klub saat ini sudah memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai arah pembenahan kompetisi.
Salah satu upaya yang dianggap penting adalah memperketat penerapan club licensing.
"Apakah owner sekarang kalau ditanya lihat kita ke depan?"
"Paling enggak kita sudah jelas dengan apa yang kita lakukan."
"Kita juga enggak mau kejadian ada masalah gaji lagi. Enggak mau," kata Sadikin.
Menurutnya, club licensing bukan sekadar persyaratan administratif, tetapi menjadi instrumen penting untuk mendorong klub memiliki fondasi bisnis dan keuangan yang lebih sehat.
"Kita juga harus berproses terus untuk memperbaiki."
Baca Juga: Jadwal China Masters 2026 - Leo/Daniel Tantang Ganda Putra No 1 Dunia, Jonatan Unggulan Teratas
"Makanya dengan club licensing, pengetatan club licensing ini tugas utama kita agar supaya klubnya bisa mandiri ke depan, lebih bisa sustainable secara keuangan," tuturnya.
Sadikin menilai kemandirian finansial klub menjadi salah satu kunci agar industri sepak bola Indonesia dapat berkembang secara berkelanjutan.
Klub tidak bisa terus bergantung pada suntikan dana pemilik, tetapi harus mulai membangun model bisnis yang sehat.
Ia menyebut tanda-tanda positif tersebut mulai terlihat.
Saat ini, menurut Sadikin, sudah ada beberapa klub Indonesia yang secara bisnis menunjukkan kondisi positif berdasarkan laporan keuangannya.
"Di Indonesia ini kira-kira ada beberapa klub sudah positif secara bisnis, secara buku, karena kebetulan kita sudah tahu bukunya positif," ungkapnya.