Berkewarganegaraan Ganda, Silas Sims Bela RI dan Jadi Juara Dunia Jiu-Jitsu - Kompas
SAN DIEGO, KOMPAS.com - Silas Sims (11), yang memiliki kewarganegaraan ganda, Indonesia dan Amerika Serikat, menjatuhkan pilihan untuk mewakili Indonesia dalam kejuaraan bela diri Brasil jiu-jtsu di tingkat internasional.
"Silas memiliki dua kewarganegaraan melalui paspor Indonesia dan Amerika Serikat karena ayahnya adalah warga negara Amerika. Meski demikian, pilihan untuk mewakili Indonesia sepenuhnya datang dari Silas sendiri," kata ibunya, Rie Sims, dalam wawancara tertulis dengan Kompas.com.
Bahkan, Silas memilih nama panggung "Silas Sang Pejuang" dengan logo Garuda Indonesia sebagai simbol kecintaannya kepada Tanah Air.
Baca juga: Indonesia Usulkan Aturan Kewarganegaraan Ganda, Tuai Pro dan Kontra
"Bagi Silas, mengenakan Merah Putih di dadanya adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan yang tidak bisa diukur dengan apa pun," ujar Rie.
24 Atlet Tuli Indonesia Galang Dana demi Bisa Bertanding di Malaysia
Pilihan Silas membawa nama Indonesia itu kini semakin istimewa setelah ia mencatatkan prestasi di panggung dunia.
Pada 2026, Silas berhasil menjadi juara dunia ADCC Youth World Championship, sekaligus menjadi anak Indonesia pertama dan orang Indonesia pertama yang meraih gelar tersebut.
Baca juga: Kisah di Balik Kesuksesan Jeff Bezos, Penjual Burger yang Jadi Pendiri Amazon
Sebelumnya, Silas juga telah meraih dua gelar juara dunia dari International Brazilian Jiu-Jitsu Federation (IBJJF).
Pada 2024, ia meraih medali emas PAN Kids IBJJF No-Gi World Championship dan menjadi juara dunia No-Gi.
Setahun kemudian, Silas kembali meraih emas pada PAN Kids IBJJF Gi World Championship dan menjadi juara dunia Gi.
Baca juga: Jensen Huang, Dulu Tukang Cuci Piring, Kini CEO Perusahaan Bernilai Rp 83.000T
Perkenalan dengan jiu-jitsu di usia enam tahun
Perjalanan Silas di olahraga jiu-jitsu bermula ketika ia baru berusia enam tahun. Pada November 2021, Silas mulai berlatih jiu-jitsu bersama adiknya, Hunter, yang saat itu berusia lima tahun.
"Keduanya langsung menyukai olahraga ini," kata Rie.
Sejak itu, keluarga berusaha mendukung keduanya dengan bergabung di gym lokal dan berlatih bersama pelatih-pelatih juara dunia.
Baca juga: An Se-young Punya Target Besar di Asian Games 2026 Usai Taklukkan Yamaguchi
Namun, ada satu hal yang tidak pernah dikompromikan keluarga, yakni pendidikan.
"Untuk kami, sekolah tetap menjadi prioritas utama. Semua latihan dilakukan setelah jam sekolah selesai," kata Rie.
Silas bahkan disebut memiliki prestasi akademik yang baik dan selalu berada di peringkat pertama di kelas.
Baca juga: Once Mekel Soroti Regenerasi Sepak Bola dan Kagumi Kandang Persebaya
Berkat prestasi tersebut, sekolah memberikan dukungan melalui sistem pembelajaran hybrid sehingga Silas tetap dapat mengikuti pelajaran ketika harus bertanding di luar kota maupun luar negeri.
"Silas memahami bahwa disiplin belajar sama pentingnya dengan disiplin berlatih," ujar Rie.
Bagi Silas, jiu-jitsu mengajarinya cara melindungi diri sekaligus melatih kemampuan berpikir ketika menghadapi situasi sulit.
Baca juga: Tradisi Laskar Mataram, PSIM Ziarah ke Makam Raja Jelang Super League
"Silas sendiri sangat menikmati proses belajar Jiu-Jitsu karena menurutnya olahraga ini seperti bermain catur," ujar Rie.
Menurut Rie, ada banyak teknik dan strategi dalam jiu-jitsu yang membuat Silas harus berpikir cepat, mengambil keputusan, dan mencari solusi terbaik untuk menghadapi lawannya.
Selain kemampuan bela diri, jiu-jitsu juga membentuk karakter Silas. Ia belajar disiplin, menghormati orang lain, tetap tenang dalam situasi sulit, serta memahami bahwa kemenangan bukan satu-satunya tujuan dari sebuah pertandingan.
Baca juga: Reuni STY dan Jordi Amat di Laga Persija vs Brisbane Roar
Berawal dari medali perak

Lihat Foto
Tiga bulan setelah berlatih, Silas mengikuti kejuaraan pertamanya di tingkat Kota San Diego, California, dan langsung meraih medali perak.
Pencapaian itu membuat Silas semakin percaya diri dan termotivasi untuk mengikuti kompetisi berikutnya.
Baca juga: Persipura Tunjuk Eveline Injaya, Perempuan Pertama di Kursi Manajer Klub
"Sejak melihat teman-temannya berhasil meraih medali, Silas menjadi semakin termotivasi untuk ikut bertanding dan meraih prestasi," kata Rie.
Perjalanannya kemudian membawa Silas ke berbagai kompetisi internasional.
Untuk bisa tampil di ADCC Youth World Championship, Silas harus mengumpulkan poin melalui berbagai seri ADCC Open di sejumlah kota dan negara selama masa kualifikasi.
Baca juga: Messi Pensiun dari Timnas Argentina, Kirim Salam Perpisahan lewat Instagram
Hanya 20 atlet terbaik pada setiap kategori usia dan berat badan yang berhak tampil di kejuaraan dunia tersebut.
Dalam hal ini, Silas berhasil lolos setelah secara konsisten mengumpulkan poin melalui berbagai kemenangan dan medali emas di seri ADCC Open.
Ia kemudian menutup perjalanan tersebut dengan gelar juara dunia ADCC Youth World Championship 2026.
Baca juga: Sekolah Bela Diri di China Kebakaran, 18 Orang Tewas
Orang tua tak memaksakan pilihan
Di balik prestasi Silas, Rie mengatakan bahwa keluarga tidak pernah menentukan jalan yang harus dipilih anak-anaknya.
Sejak kecil, Silas dan Hunter justru dibiasakan mencoba berbagai aktivitas untuk menemukan sendiri hal yang mereka sukai.
"Kami percaya bahwa tugas orang tua bukan menentukan impian anak, melainkan membantu mereka menemukan passion mereka sendiri," ujar Rie.
Baca juga: Mimpi yang Tumbuh di Sekolah Rakyat: Ingin Jadi TNI, Polisi, hingga CEO
Sebelum menekuni jiu-jitsu, Silas juga mencoba berbagai cabang olahraga di sekolah.
Ia diketahui menyukai aktivitas yang berhubungan dengan air dan kemudian jatuh cinta pada surfing.
Ayah Silas juga memiliki latar belakang sebagai peselancar dan pernah aktif berlatih berbagai bela diri.
Baca juga: Kecelakaan Beruntun di Suramadu, Mobil Maung Ringsek Diseruduk Bus
Empat tahun berjuang tanpa sponsor
Perjalanan Silas sebagai atlet muda juga tidak lepas dari dukungan finansial keluarga.
Selama empat tahun terakhir, seluruh biaya kompetisi Silas disebut ditanggung sendiri oleh keluarga, mulai dari tiket pesawat, hotel, biaya pertandingan, perlengkapan hingga pelatih.
Rie mengatakan bahwa keluarga hampir tidak pernah mendapatkan sponsor.
Baca juga: Lansia Buta Huruf di Pekalongan Kebingungan Ditagih Utang Bank Rp 10 Juta: Saya Enggak Mau Bayar
Salah satu alasannya, keluarga tidak ingin masa kecil Silas berubah menjadi tekanan untuk selalu menang.
"Kami tidak ingin masa kecil anak-anak kami berubah menjadi beban pekerjaan profesional. Kami ingin mereka tetap menikmati prosesnya, belajar menerima kemenangan maupun kekalahan, dan mencintai olahraga tanpa tekanan," katanya.
Bagi keluarga, pengalaman yang didapat Silas dalam setiap kompetisi lebih penting daripada sekadar medali.
Baca juga: Ketika Jhon LBF Selesaikan Masalah Ruben Onsu dengan Uang Rp 3,5 M
Kompetisi internasional mempertemukan Silas dengan anak-anak dari berbagai negara. Mereka tidak hanya bertanding, tetapi juga bermain bersama, mengenal budaya berbeda, dan membangun persahabatan melalui olahraga.
Tetap punya cita-cita menjadi pilot
Meski telah menjadi juara dunia, jiu-jitsu bukan satu-satunya mimpi Silas. Sejak kecil, cita-citanya justru menjadi pilot pesawat jet.
"Sejak Silas bisa berbicara hingga hari ini, cita-citanya tidak pernah berubah. Ia selalu mengatakan bahwa suatu hari nanti ingin menjadi pilot pesawat jet," kata Rie.
Baca juga: Demi Bimbel Tahun Depan, Orangtua di Jogja Mengantre Sejak Subuh
Karena itu, gelar Juara Dunia ADCC bukan tujuan akhir bagi Silas.
Prestasi tersebut diharapkan menjadi bekal untuk mendapatkan kesempatan pendidikan, termasuk peluang memperoleh beasiswa di masa depan.
Namun, Silas tetap ingin mengembangkan kemampuannya dalam jiu-jitsu
Baca juga: Bantu Ruben Onsu Bayar Rp 3,5 M, Jhon LBF: Hati Saya Digerakkan Allah
Ia bahkan membayangkan suatu hari dapat menjadi pelatih atau membimbing generasi atlet berikutnya.
Bagi Silas, jiu-jitsu bukan hanya tentang menjadi juara. Olahraga tersebut menjadi sarana untuk membangun disiplin, kepemimpinan, karakter, sekaligus membuka kesempatan baru.
Setelah meraih gelar juara dunia, Silas mengaku merasa bangga dan terharu.
Baca juga: Nepal Butuh Rp 88 Triliun untuk Pulih dari Banjir Bandang, Buka Donasi dan Terima Bantuan Asing
Ia menyadari kemenangan tersebut merupakan hasil dari latihan, pengorbanan, doa, serta dukungan keluarga dan pelatih.
Namun, satu hal yang paling membuatnya bangga adalah kesempatan berdiri di podium dengan membawa nama Indonesia.
"Mengenakan logo bendera Merah Putih dan Garuda Indonesia saat berdiri di podium juara menjadi momen yang tidak akan pernah ia lupakan," kata Rie.
Baca juga: Asap Karhutla Sampai ke Malaysia, Menhut: Karena Memang Asap Nggak Ada KTP
Adapun keluarga Silas berencana pulang ke Indonesia pada November 2026.
Mereka juga tengah merencanakan seminar bersama sejumlah gym jiu-jitsu di Jakarta agar Silas dapat bertemu dengan anak-anak Indonesia yang memiliki minat terhadap olahraga tersebut.
"Harapan kami sederhana, semoga perjalanan Silas dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia untuk berani bermimpi besar," ujar Ririe.
Baca juga: Inilah Wujud Cincin Juara Piala Dunia 2026, Tiru Olahraga Amerika Utara
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT