Atlet Asian Games 2026 Keluhkan Akomodasi, Penyelenggara: Hemat Biaya - detik
Jakarta -
Penyelenggara Asian Games 2026 Aichi-Nagoya memilih tidak membangun kampung atlet demi menekan biaya penyelenggaraan. Namun keputusan itu kini menuai keluhan dari sejumlah atlet.
Alih-alih menempatkan seluruh peserta dalam satu kampung atlet, panitia menyebar sekitar 17 ribu atlet dan ofisial ke berbagai lokasi, mulai dari hotel, hunian bergaya kontainer, hingga kapal pesiar. Skema tersebut awalnya digadang-gadang sebagai solusi efisiensi anggaran.
Belakangan, sejumlah atlet mulai menyuarakan keluhan terkait fasilitas yang mereka tempati. Beberapa di antaranya menyoroti ukuran kamar yang dinilai terlalu sempit, sementara yang lain mengeluhkan tempat tidur yang dianggap kurang memadai untuk kebutuhan atlet yang tengah bertanding.
Melansir Reuters, Minggu (20/9/2026) Direktur Jenderal Olympic Council of Asia (OCA), Husain Al-Musallam, mengatakan persoalan tersebut sebenarnya bisa dihindari jika penyelenggara membangun kampung atlet.
Namun, fasilitas itu dinilai berpotensi menjadi bangunan yang tidak terpakai setelah Asian Games berakhir.
"Sangat mudah, Anda bisa saja memaksakan pembangunan Kampung Atlet," kata Al-Musallam sebelum Asian Games dibuka pada Sabtu (19/9).
"Anda membangun kampung atlet, menghabiskan uang dalam jumlah besar, lalu kita harus melihat apa yang akan terjadi setelah upacara penutupan dan bagaimana pemanfaatan kampung atlet tersebut," dia menambahkan.
Menurut Al-Musallam, penyelenggara harus mempertimbangkan biaya dan skala Asian Games.
"Ya, kampung ttlet memang bagus untuk dilihat. Tetapi pada akhirnya, kita harus bersikap praktis," kata dia lagi.
Awalnya, panitia memperkirakan sekitar 15 ribu atlet dan ofisial akan datang. Namun, jumlahnya meningkat setelah beberapa cabang olahraga baru ditambahkan ke dalam Asian Games.
"Pilihan kami adalah mengorbankan atlet atau membayar biaya yang tinggi. Jadi, kami memilih untuk tidak mengorbankan atlet," kata Al-Musallam yang juga menjabat sebagai Presiden World Aquatics.
"Kami ingin setiap atlet memiliki kemungkinan dan kesempatan untuk bertanding. Di tengah krisis politik dan konflik yang terjadi di Asia serta berbagai belahan dunia saat ini, kita membutuhkan olahraga lebih dari apa pun pada saat seperti ini," kata dia.
Kemudian, Kepala Komisi Koordinasi OCA untuk Aichi-Nagoya, Tayyab Ikram, mengatakan kampung atlet bukan fasilitas yang wajib dalam setiap penyelenggaraan Asian Games. Ia menyebut penyelenggara juga mempertimbangkan kondisi pasar properti agar tidak meninggalkan bangunan yang sulit dimanfaatkan setelah ajang selesai.
"Kami memiliki statistik yang jelas mengenai apa yang terjadi dengan nilai properti. Kami tidak ingin meninggalkan bangunan yang tidak terpakai setelah Asian Games di sini," kata Ikram.
Baginya, pembahasan soal akomodasi memang tidak mudah, tetapi penyelenggara akhirnya menemukan sejumlah alternatif. Persoalan akomodasi juga muncul karena jumlah peserta bertambah.
Selain persoalan akomodasi, panitia juga menyiapkan langkah antisipasi menghadapi cuaca buruk. Wali Kota Nagoya sekaligus Wakil Presiden Asian Games, Ichiro Hirosawa, menyebutkan Asian Games tetap berjalan dalam kondisi hujan normal.
Namun, jika hujan deras memicu peringatan darurat, atlet akan dievakuasi sementara. Jika angin sekuat topan terjadi, kapal pesiar yang digunakan sebagai akomodasi akan bergerak menjauh dari pantai.
"Kami sudah memiliki protokol yang jelas untuk situasi seperti ini," dia menegaskan.
Hirosawa juga menyebut antusiasme publik di Nagoya tinggi karena Jepang sudah lama tidak menggelar ajang olahraga sebesar ini dengan kehadiran penonton.
(upd/fem)