Sosial Media
Arena Update
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home Berita Bulu Tangkis Bulu Tangkis indonesia Featured Kejuaraan Bulu tangkis Dunia Muhammad Shohibul Fikri Spesial

    Ramai-Ramai Fikri Disindir Juara karena Servis Curang oleh Popov Bersaudara, Axelsen Tertawa - Semua Halaman - Bolasport

    5 min read

     

    BOLASPORT.COM - Tidak ada angin dan tidak ada hujan, jagat bulu tangkis ramai dengan perselisihan antara Muhammad Shohibul Fikri dan ganda putra Prancis, Christo Popov/Toma Junior Popov, karena perkara... servis!

    Muhammad Shohibul Fikri disenggol Christo Popov/Toma Junior Popov ketika mengomentari kekalahan di babak pertama Kejuaraan Dunia 2026, Senin (17/8/2026).

    Kakak beradik yang menjadi tulang punggung Prancis di tunggal dan ganda itu tumbang 13-21, 17-21 di tangan underdog, Takumi Nomura/Yuchi Shimogami.

    Satu keunggulan Nomura/Shimogami dalam laga yang disorot Popov bersaudara adalah servisnya. Dari sana, pembicaraan mendadak mengarah ke Fikri.

    "Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan, mungkin semua pemain harus berusaha merekrut pelatih spin serve. Mungkin itu perkembangan bulu tangkis sekarang. Itu benar."

    "Kalau Anda melihat (Fajar) Alfian dan Fikri, lihat servisnya Fikri, putar dengan kecepatan lambat dan Anda akan menyadarinya," ucap Toma kepada Badminton Europe.

    Baca Juga: Kejuaraan Dunia 2026 - Serangan Kejutan Indonesia di 16 Besar, Ganda Putri dan Campuran Tak Mau Kalah

    Christo, yang lebih muda, menimpali sambil nyengir, "Kemudian Anda akan memenangkan Japan Open dan China Open."

    Toma menambahkan lagi, "Mungkin itu kuncinya. Ini bukan soal menjadi pemain yang baik, hanya cukup dengan tahu cara melakukan spin serve."

    Fikri membalas dengan komentar setengah tengil.

    "HAHAHA. Kami menyebutnya keterampilan, bro. Kenapa kamu tidak melatih servismu dan membuktikannya sendiri dengan menjadi juara," tulisnya dalam story di Instagram.

    Sebagai informasi, spin serve merupakan teknik dalam bulu tangkis di mana pemain berusaha membuat lawan kesulitan dalam penerimaan.

    Sesuai namanya, spin serve alias servis berputar membuat kok terbang melewati net dalam rotasi yang tidak stabil.

    Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) memang melarang spin serve. Namun, yang dilarang hanya beberapa variasi tekniknya.

    "Pemberi servis harus melepas kok tanpa menambahkan putaran, dan raketnya pertama-tama harus mengenai bagian dasar dari koknya," demikian salah satu ayat Laws of Badminton.

    Aturan ini dirilis pada 2023 menyusul viralnya cuplikan pertandingan yang memperlihatkan pemain memutar kok dengan jarinya sebelum melakukan servis.

    Sedangkan soal keharusan memukul kepala kok, regulasi ini menjadi respons terhadap teknik jadul yang dipakai legenda bulu tangkis Malaysia, Misbun Sidek.

    Adapun versi lain dari spin serve tidak memerlukan gerakan memutar kok, tetapi mengatur sudut kontak antara raket dan kepala koknya.

    Mantan ganda campuran Inggris, Gregory Mairs/Jenny Moore, membedahnya dalam video tutorial di kanal Youtube mereka yaitu Badminton Insight pada 16 April 2023.

    Menurut mereka, spin serve adalah teknik yang sulit untuk dikuasai. Hal itu yang membedakan dengan 'cara ilegal' yang akhirnya dilarang BWF.

    "Tidak seperti servis spin lain, di mana kita harus berlatih selama berjam-jam untuk hasil yang kecil, kami bisa melakukan ini hanya setelah 10 menit berlatih," ujar Moore.

    Baca Juga: Jadwal Kejuaraan Dunia 2026 - Final Mini Fajar/Fikri saat Hadapi Deputi Kim/Seo, 8 Wakil Indonesia di 16 Besar

    Dalam video lainnya, pebulu tangkis ganda Jerman, Marvin Seidel, membeberkan bahwa dia berlatih selama 100 jam lebih untuk menguasai spin serve (yang diperbolehkan, red).

    Sementara itu, salah satu respons terhadap huru-hara yang terjadi keluar dari mantan tunggal putra nomor satu dunia, Viktor Axelsen.

    Axelsen juga kerap dicibir lawan karena servisnya, tetapi bukan spin serve melainkan bagaimana dia mengulur-ulur waktu dengan menggerakkan kok ke kiri dan ke kanan.

    Aksi ini sampai memancing keributan dengan Shi Yu Qi ketika dua tunggal putra top ini bertanding di semifinal Denmark Open tahun lalu.

    "Saya rindu bisa memancing kemarahan dengan servis saya yang sedikit berlebihan hari ini," tulis juara Olimpiade dua kali itu dengan emotikon tertawa.

    Di sisi lain, ada bagian menarik dari komentar Toma Popov soal servis. Pasalnya, dia menyinggung teknologi yang diupayakan BWF untuk memantau pelanggaran dalam servis.

    Saat ini, hakim servis yang dibekali alat pengukur ketinggian servis dan itu juga dikritik karena potensi erornya.

    Keputusan terkait pelanggaran net fault juga mesti mengandalkan daya penglihatan wasit ketika olahraga lain telah menerapkan video challenge.

    "Sampai ketika teknologi laser dipakai, saya pikir BWF sedang mengupayakannya, kita cukup larang spin serve saja karena itu masih dilakukan," katanya.

    Komentar
    Additional JS