AFC, CONCACAF dan UEFA Bikin Surat Terbuka: Sebut Ada Penipuan, Posisi Gianni Infantino di FIFA Kian Tertekan - Bola com
Bola.com, Jakarta - Dunia sepak bola internasional kembali diguncang gejolak besar. Tiga konfederasi sepak bola paling berpengaruh di dunia, yakni Asian Football Confederation (AFC), CONCACAF (Amerika Tengah Utara dan Karibia), serta UEFA (Eropa), secara mengejutkan merilis surat terbuka bersama bertajuk "Open Letter to the Football Family".
Surat terbuka yang ditandatangani oleh para pimpinan tertinggi ketiga konfederasi tersebut menyampaikan kritik mendalam terhadap kepemimpinan FIFA. Surat itu dikeluarkan pada Senin (10-8-2026).
Mereka secara tegas menuding adanya kegagalan kepemimpinan hingga penyalahgunaan kepercayaan terkait manuver FIFA, termasuk rencana kontroversial penjualan hak atau kepentingan di Piala Dunia.
Dalam pembuka suratnya, AFC, CONCACAF, dan UEFA menegaskan kembali bahwa sepak bola adalah passion terbesar milik bersama yang tidak dimiliki oleh individu maupun satu institusi mana pun.
Ketiga konfederasi mengingatkan bahwa kemajuan pesat sepak bola global selama sedekade terakhir, dari perluasan format turnamen, penetapan tuan rumah Piala Dunia 2030 dan 2034, hingga distribusi dana merupakan hasil kerja keras kolektif seluruh anggota keluarga sepak bola, bukan pencapaian tunggal seorang individu.
"Sepak bola adalah passion bersama terbesar di dunia. Ini bukan milik individu atau institusi mana pun. Ini milik para pemain, fans, klub, Asosiasi Anggota, dan setiap institusi yang dipercaya menjaga masa depannya," tulis ketiga konfederasi.
Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)
2 dari 3 halaman
Bukan Soal Uang
Presiden FIFA, digendong oleh tim medis PSSI di sela mengikuti Fun Football bersama PSSI di Stadion Madya, Gelora Bung Karno, Jakarta pada Selasa (18/10/2022) (Dok. PSSI)
AFC, CONCACAF, dan UEFA mengklarifikasi bahwa langkah keras mereka sama sekali bukan dipicu oleh urusan pembagian dana atau kekhawatiran kehilangan dukungan maupun jatah Piala Dunia, melainkan murni demi integritas olahraga.
Kritik paling tajam dalam surat tersebut mengarah pada respons FIFA baru-baru ini atas polemik rencana privatisasi atau penjualan porsi kepentingan komersial Piala Dunia.
FIFA sebelumnya berupaya meredam gejolak dengan menganggap dinamika yang terjadi sekadar "kegagalan komunikasi".
Namun, AFC, CONCACAF, dan UEFA menolak keras narasi tersebut dan menyebutnya sebagai kegagalan pertimbangan (failure of judgment).
Mereka menilai proposal yang diajukan secara terburu-buru tanpa konsultasi berarti adalah tindakan yang dirancang sengaja untuk membatasi pengawasan.
"Mencoba menjual porsi kepentingan di Piala Dunia FIFA adalah sebuah kegagalan penilaian yang sangat mendasar (profound failure of judgment), bukan sekadar kekeliruan prosedur, melainkan pelanggaran kepercayaan yang mendasar terhadap institusi yang seharusnya dilayani FIFA," tegas pernyataan bersama tersebut.
3 dari 3 halaman
Tuntut Penyelidikan Independen dan Soroti Pertemuan Maroko
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4232198/original/097483200_1668860728-000_32NX788.jpg)
Presiden FIFA, Gianni Infantino, berbicara dalam konferensi pers jelang Piala Dunia Qatar 2022 di Qatar National Convention Center (QNCC), Doha, Sabtu, 19 November 2022. (GABRIEL BOUYS / AFP)
Selain mengecam rencana komersialisasi tersebut, ketiga konfederasi menyerukan langkah tegas terkait tata kelola di tubuh FIFA.
Pertama, mereka menuntut adanya peninjauan Independen.
Kedua, tiga konfederasi menolak rencana FIFA yang hendak melakukan investigasi internal sendiri dan menuntut adanya peninjauan oleh pihak ketiga yang sepenuhnya independen tanpa keterlibatan staf atau pimpinan FIFA.
Kemudian, AFC, CONCACAF, dan UEFA juga menuntut adanya pengawetan dokumen. Semua dokumen dan catatan terkait wajib disimpan dan dijaga sesuai instruksi.
Surat tersebut mengungkap bahwa rapat pimpinan FIFA di Maroko hanya dihadiri satu pejabat terpilih dan staf manajemen senior FIFA, tanpa melibatkan anggota Dewan FIFA (FIFA Council) maupun Asosiasi Anggota.
Hal itu dinilai memperlihatkan gaya kepemimpinan yang merasa sepak bola harus tunduk pada sosok-sosok tertentu, dalam hal ini Gianni Infantino.