Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Piala Dunia Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial Timnas Kolombia Timnas Swiss

    Usai Kolombia Tersingkir dibabak 16 Piala Dunia 2026, Falcao Bongkar Masalah Besar Sepak Bola Negaranya yang Dinilai Hambat Prestasi - Jawa Pos

    3 min read


    Jhon Arias mencetak gol semata wayang yang membawa Kolombia mengalahkan Ghana 1-0 dan memastikan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. (FIFA)

    JawaPos.com - Kegagalan Timnas Kolombia melangkah ke perempat final Piala Dunia 2026 memunculkan evaluasi besar dari berbagai pihak. 

    Salah satu suara paling keras datang dari legenda Los Cafeteros, Radamel Falcao, yang menilai masalah utama bukan hanya terletak pada hasil pertandingan, melainkan pada sistem sepak bola di negaranya.

    Kolombia harus mengakhiri perjalanan di Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Swiss melalui adu penalti pada babak 16 besar. Hasil tersebut kembali memperpanjang daftar kegagalan Kolombia di turnamen besar, terutama saat laga harus ditentukan lewat titik putih.

    Berbicara dalam program ESPN, Falcao mengaku kecewa dengan hasil yang diraih mantan timnya. Menurutnya, Kolombia sebenarnya memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh, tetapi gagal memaksimalkan peluang yang tercipta selama pertandingan.

    Mantan penyerang Atletico Madrid itu menilai kekalahan lewat adu penalti bukan lagi sekadar kebetulan. Ia menyebut persoalan tersebut sudah berulang kali terjadi sehingga perlu mendapat perhatian serius dari seluruh elemen sepak bola Kolombia.

    Namun, kritik Falcao tidak berhenti pada performa tim nasional. Pria berusia 40 tahun itu justru mengarahkan sorotan kepada struktur kompetisi domestik yang dinilainya belum mampu menciptakan persaingan sehat.

    Menurut Falcao, pembinaan pemain muda harus dibarengi dengan sistem liga yang lebih kompetitif. Ia menilai minimnya jenjang kompetisi membuat banyak pemain kehilangan kesempatan berkembang ketika gagal menembus level tertinggi.

    Salah satu poin yang paling disorot Falcao adalah tidak adanya kasta ketiga dalam sistem liga profesional Kolombia. 

    Kondisi tersebut dianggap mengurangi daya saing antarklub karena tidak ada ancaman degradasi yang benar-benar memberi tekanan kepada tim untuk terus berkembang.

    Falcao menilai situasi itu membuat sebagian klub merasa nyaman tanpa harus meningkatkan kualitas tim maupun investasi. Dampaknya, budaya kompetitif perlahan memudar dan perkembangan pemain ikut terhambat.

    Ia juga menyoroti masih adanya klub yang memiliki anggaran cukup besar, tetapi belum memberikan perhatian maksimal terhadap kesejahteraan pemain maupun pembinaan jangka panjang. 

    Menurutnya, kondisi seperti itu hanya akan melahirkan budaya mediokritas dalam sepak bola Kolombia.

    Meski melontarkan kritik tajam, Falcao tetap memberikan apresiasi kepada Federasi Sepak Bola Kolombia yang dinilai telah berupaya meningkatkan fasilitas untuk tim nasional. 

    Ia mengakui federasi sudah menyediakan pusat latihan yang lebih baik dan memberikan dukungan penuh kepada skuad senior.

    Karena itu, Falcao berharap pembenahan tidak hanya berhenti di level tim nasional, tetapi juga menyentuh akar pembinaan dan sistem kompetisi. 

    Ia meyakini perubahan tersebut akan membuka lebih banyak kesempatan bagi pemain muda untuk berkembang dan meningkatkan kualitas sepak bola Kolombia secara keseluruhan.

    Di sisi lain, gelandang Kolombia John Arias memilih menatap masa depan setelah tersingkir dari Piala Dunia. Ia berharap kegagalan kali ini menjadi titik awal perubahan agar Kolombia mampu bersaing lebih jauh pada turnamen-turnamen berikutnya.

    Arias menegaskan karakter pantang menyerah selalu menjadi identitas timnya. Ia optimistis pengalaman pahit di Piala Dunia 2026 bisa menjadi pelajaran berharga untuk membangun generasi yang lebih kuat.

    Pernyataan Falcao pun memicu perdebatan di kalangan pencinta sepak bola Kolombia. Banyak yang sepakat bahwa reformasi kompetisi menjadi salah satu langkah penting jika negara tersebut ingin kembali bersaing secara konsisten di level dunia dan mengakhiri rentetan kegagalan pada ajang-ajang besar.

    Komentar
    Additional JS