Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Featured Piala Dunia Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial

    Tren Taktik Low Block di Piala Dunia 2026, Tembakan Jauh Jadi Solusi - Kompas

    7 min read

    .


    Laporan Langsung Jurnalis Kompas.com Sem Bagaskara dari New York, Amerika Serikat

    KOMPAS.com - Bertahan dengan dalam atau low block menjadi tren di Piala Dunia 2026. Kecepatan dan gol tembakan jarak jauh pun jadi begitu menentukan.

    FIFA Techincal Study Group yang dikepalai pelatih legendaris Perancis, Arsene Wenger, membahas tren taktik Piala Dunia 2026.

    Baca juga: Berbekal Pengalaman di Piala Dunia 2022, Lionel Scaloni: Argentina Tahu Cara Hadapi Tekanan

    Media Briefing FIFA Technical Study Group digelar di Stadion New York/New Jersey, Sabtu (18/7/2026) satu hari jelang final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina.

    Prediksi Skor Spanyol Vs Argentina Final Piala Dunia 2026: Duel Dua Jawara, Siapa Angkat Piala?

    "Saya percaya Spanyol dan Argentina menunjukkan bahwa mereka adalah sebuah tim dibanding yang lain. Melihat Argentina, melalui semua ujian yang sangat sulit. Kita ingat soal laga melawan Cape Verde dan Mesir," ujar Arsene Wenger kepada media, termasuk KOMPAS.com.

    Final Spanyol vs Argentina Pesan Bagus untuk Sepak Bola

    "Dan juga tim lain yang mereka hadapi, contohnya Inggris, dan Spanyol sebab mereka punya gaya permainan yang berbasis pada kecerdasan tim dan kualitas teknis," ucap Wenger menyinggung rival Argentina di Piala Dunia 2026.

    Baca juga: Arsene Wenger Bahas Taktik Piala Dunia, Sampaikan Pesan buat Indonesia

    "Jadi saya percaya secara pribadi dua tim yang melaju ke final memberikan pesan yang bagus untuk sepak bola," tutur eks pelatih Arsenal itu.

    Tim Technical Study Group yang juga memuat nama-nama besar seperti Gilberto Silva, Juergen Klinsmann, dan Pablo Zabaleta mengupas gaya permainan finalis Piala Dunia 2026.

    Argentina disebut sebagai tim yang begitu solid dalam upaya merebut kembali penguasaan bola dan punya tendensi untuk menyerang melewati area tengah.

    Baca juga: Jelang Lawan Prancis, Rodri Minta Lamine Yamal Lebih Tenang

    Di sisi lain, Spanyol menonjol dalam kemampuan pressing permutasi posisi yang dilakukan para gelandangnya.

    Melalui sebuah video yang diputar di monitor, dijelaskan bahwa bagaimana pertukaran posisi yang cair dari gelandang Spanyol memungkinkan mereka tampil dominan atas Perancis di semifinal.

    "Sebab, mereka menunjukkan betapa pentingnya kualitas teknis, kecerdasan tim, pemahaman terhadap permainan," tutur Wenger mengenai Spanyol.

    "Itulah kenapa dalam gaya yang berbeda. Argentina mungkin lebih menonjol dalam aspek mental dan tim lainnya lebih ke aspek teknis seperti Spanyol."

    Baca juga: Pelatih Timnas Jepang Hajime Moriyasu: Saya Suka Indonesia

    "Luar biasa bagi sepak bola melihat dua tim ini melaju ke final," tutur sosok yang pernah tiga kali mengantar Arsenal juara Liga Inggris tersebut.

    Tim TSG lantas menyoroti kecenderungan kontestan Piala Dunia 2026 untuk bertahan secara dalam alias menerapkan low block.

    Persentase tim yang menerapkan low block ketika tak memegang bola meningkat jika dibandingkan dengan Piala Dunia edisi sebelumnya, dari 21 persen ke 25 persen.

    Baca juga: Perancis Vs Spanyol: Strategi Tim Matador Buat Lini Serang Les Bleus Frustasi

    Tim-tim besar seperti Spanyol, Argentina, dan Perancis memakai pendekatan ini. Keuntungan menerapkan pendekatan ini adalah ruang antara penjaga gawang dan garis pertahanan menjadi rapat.

    Gelandang Timnas Argentina Enzo Fernandez, merayakan gol pertama timnya bersama penyerang Argentina Lionel Messi, dalam pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris vs Argentina di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 15 Juli 2026.

    Lihat Foto

    Tembakan Jarak Jauh untuk Bongkar Low Block

    Tetapi di sisi lain, jarak antara pemain bertahan dengan lini serang menjadi begitu jauh.

    Karena itu, Arsene Wenger menyebut penting bagi tim untuk memiliki pemain eksplosif yang dibekali kecepatan.

    Baca juga: Preview Perancis Vs Spanyol: Adu Tim Paling Tajam Vs Tim Defensif Terbaik

    Pemain seperti itu memungkinkan sebuah tim untuk membuat serangan mematikan setelah bertahan dengan konsep low block.

    Lantaran banyak tim yang menerapkan low block, dampaknya persentase gol dari luar kotak penalti di Piala Dunia 2026 naik drastis.

    Tim TSG FIFA mencatat 16 persen dari jumlah total gol di Piala Dunia 2026 bersumber dari sepakan jarak jauh dari luar kotak 16 meter.

    Baca juga: Santai ala Lionel Messi yang Bisa Picu Badai

    Jumlah itu sudah dua kali lipat dari statistik di Piala Dunia 2022 Qatar.

    “Kita melihat sepanjang turnamen menjadi populer bagi sejumlah tim untuk menerapkan low block, yang membuat lebih sulit untuk ditembus,” ucap anggota TSG yang merupakan juara Piala Dunia 1990, Juergen Klinsmann.

    “Lalu Anda akan menganalisisnya, oke jika menyerang dari sayap anda mencoba menemukan solusi."

    Baca juga: Mbappe Ungkap Kesalahan Perancis yang Bikin Tumbang dari Spanyol dan Gagal ke Final

    "Anda mencoba menembus dari tengah, di mana tak ada celah, 8-9 pemain di dalam atau di luar kotak penalti.”

    “Jadi itu adalah semacam jalan keluar dengan tembakan dari luar kotak penalti,” ujar Juergen Klinsmann menjelaskan.

    KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

    Komentar
    Additional JS