Solidaritas Spanyol untuk Palestina, Dari Kibaran Bendera Yamal Hingga Kebijakan PM Sánchez - Mina newz


DUKUNGAN terhadap Palestina di Spanyol tidak hanya bergema di jalanan atau tribun stadion, tetapi juga di panggung politik tertinggi. Mulai dari aksi simbolis pesepak bola muda Lamine Yamal hingga kebijakan tegas Perdana Menteri Pedro Sánchez, negeri Matador itu telah menjadi salah satu negara Eropa yang paling vokal dalam membela hak-hak rakyat Palestina.
Momen paling ikonik terjadi pada 11 Mei 2026, ketika pemain muda Barcelona Lamine Yamal (18 tahun) mengibarkan bendera Palestina di atas bus terbuka dalam parade perayaan gelar juara La Liga. Aksi yang disaksikan sekitar 750.000 orang di jalanan Barcelona ini sontak menjadi viral dan menuai reaksi keras dari Israel.
Ia kemudian mengunggah foto tersebut ke akun Instagramnya yang memiliki 42 juta pengikut.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menuduh Yamal “menghasut kebencian terhadap Israel” dan meminta Barcelona untuk menjauhkan diri dari aksi tersebut.
Baca Juga: LGBTQ: Antara Hak Asasi, Penyakit, dan Ancaman Non-Militer
Namun, kritik itu justru mendapat respons keras dari Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, yang dengan tegas membela Yamal.
“Mereka yang menganggap mengibarkan bendera suatu negara sebagai menghasut kebencian telah kehilangan akal sehat atau dibutakan oleh aib mereka sendiri. Lamine hanya mengekspresikan solidaritas dengan Palestina yang dirasakan oleh jutaan orang Spanyol. Ini adalah alasan lain untuk bangga padanya,”
tegas PM Pedro Sánchez.
Bahkan pelatih Barcelona, Hansi Flick, meskipun menyatakan secara pribadi “tidak suka” dengan tindakan tersebut, mengakui bahwa itu adalah keputusan pribadi Yamal .
Dukungan Resmi Pemerintah
Baca Juga: Ketika Boikot Mengguncang Benteng Ekonomi Zionis
Dukungan terhadap Palestina di Spanyol bukanlah sekadar simbol. Pemerintahan Sánchez telah mengambil serangkaian langkah konkret yang menempatkan Spanyol sebagai salah satu kritikus paling vokal terhadap Israel di Eropa, di antaranya:
- Pengakuan Negara Palestina (2024)
Pada 28 Mei 2024, Spanyol secara resmi mengakui Negara Palestina, bersama dengan Irlandia dan Norwegia. Langkah ini membuat Israel menarik duta besarnya untuk Spanyol.
- Dukungan Penuh di PBB dan Pengadilan Internasional
Sánchez secara konsisten mendesak agar Palestina menjadi anggota penuh PBB dan bergabung dalam kasus genosida yang diajukan Afrika Selatan ke Mahkamah Internasional. Ia menegaskan bahwa hukum internasional harus diterapkan secara konsisten, tanpa pandang bulu.
- Sanksi Ekonomi dan Embargo Senjata
Pada tahun 2025, Spanyol memberlakukan embargo senjata yang lebih ketat terhadap Israel dan melarang impor dari permukiman ilegal di Tepi Barat.
Baca Juga: Antara Layar Stadion Piala Dunia dan Layar Kehidupan Palestina
Menteri Luar Negeri José Manuel Albares juga menerima penghargaan tertinggi dari Palestina atas dukungannya terhadap perjuangan Palestina.
- Hubungan Diplomatik yang Membeku
Hubungan diplomatik Spanyol-Israel mencapai titik terendah. Pada Maret 2026, Spanyol secara resmi mencabut jabatan duta besarnya untuk Israel, hanya menyisakan kuasa usaha.
Menteri Luar Negeri José Manuel Albares juga secara terbuka menyatakan bahwa penghargaan yang diterimanya dari Palestina adalah “komitmen mayoritas masyarakat Spanyol terhadap keadilan, keamanan, dan kemanusiaan”.
Dukungan Masyarakat dan Tokoh Publik
Baca Juga: Tanpa Pendapatan dan Harga Melambung, Bagaimana Warga Gaza Bertahan Hidup?
Solidaritas terhadap Palestina juga terlihat jelas di kalangan masyarakat dan tokoh publik Spanyol. Pada Juni 2026, Sánchez bahkan menghadiri festival musik Primavera Sound di Barcelona, yang dikenal dengan dukungan vokalnya terhadap Palestina, untuk menunjukkan solidaritas.
Dari seniman, Javier Bardem, aktor pemenang Oscar adalah salah satu suara paling vokal. Pada September 2025, ia mengenakan syal keffiyeh di karpet merah Emmy Awards dan menyatakan, “Inilah saya hari ini, mengecam genosida di Gaza.”
Bardem juga menyatakan ketidakmampuannya bekerja dengan siapa pun yang mendukung genosida.
Bardem bahkan memanfaatkan panggung Oscar 2026 dengan berteriak: “No a la guerra, Palestina libre!” (Tidak untuk perang, Palestina merdeka!).
Baca Juga: Bagaimana Boikot Mengguncang Tembok Zionisme
Pada Agustus 2025, puluhan seniman Spanyol meluncurkan kampanye “Artistas con Palestina”. Mereka mendesak pemerintah memutuskan semua hubungan diplomatik dan komersial dengan Israel. Di antara penandatangannya adalah sutradara Oscar Pedro Almodóvar dan aktor-aktor seperti Luis Tosar, Adriana Ugarte, dan Juan Diego Botto.
Menteri Kebudayaan Spanyol, Ernest Urtasun, menyatakan dukungan penuh pemerintah terhadap para seniman ini, menolak segala bentuk sensor atau pembalasan atas posisi politik mereka.
Begitulah, dari para pesepak bola, aktor, sutradara, hingga masyarakat luas dan demonstran jalanan, Spanyol menunjukkan bahwa solidaritas terhadap Palestina melampaui batas-batas profesi. Ini bukan sekadar dukungan politik, tetapi telah menjadi gerakan moral kolektif yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Aksi Lamine Yamal pun hanyalah satu cermin dari solidaritas yang lebih besar. Dari lapangan hijau hingga ruang sidang PBB, Spanyol menunjukkan bahwa dukungan terhadap Palestina bukan sekadar retorika, tetapi telah menjadi bagian dari identitas politik dan moral bangsa. []
Baca Juga: Hijrah dan Diplomasi Pembebasan Palestina: Saatnya RI Memimpin Suara Moral Dunia Islam
Mi’raj News Agency (MINA)