Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    CONNECTING TRANSMISSION...
    Home Berita Cristiano Ronaldo Featured Sepak Bola Sepak Bola Internasional Spesial Timnas Kroasia VAR

    Ronaldo dan Kroasia Jadi Korban VAR, Ini Kata Aturan FIFA 2026 - Beritasatu

    7 min read

     

    Cristiano Ronaldo melakukan selebrasi setelah mencetak gol lewat tendangan penalti ke gawang Kroasia pada pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026, Jumat, 3 Juli 2026. (AP/Stephanie Scarbrough)

    Jakarta, Beritasatu.com - Laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Portugal dan Kroasia di Stadion Toronto, Kanada, Jumat (3/7/2026) mulai pukul 06.00 WIB, akan dikenang bukan hanya karena kemenangan dramatis Portugal dengan skor 2-1, tetapi juga karena deretan keputusan off-side yang membatalkan tak kurang dari lima gol sepanjang pertandingan.

    Dari kubu Portugal, Cristiano Ronaldo sekali harus menelan kekecewaan gara-gara bendera off-side, sementara Kroasia mengalami nasib serupa hingga empat kali, termasuk pada detik-detik terakhir pertandingan yang nyaris membawa mereka menyamakan kedudukan.

    Rentetan keputusan ini sekaligus menjadi ajang pembuktian sekaligus ujian bagi teknologi semi-automated offside technology (SAOT) yang untuk pertama kalinya diterapkan secara penuh pada edisi Piala Dunia kali ini. Publik pun kembali mempertanyakan akurasi sistem tersebut, terutama soal bagaimana teknologi menentukan momen presisi saat bola benar-benar dilepaskan oleh seorang pemain.

    Kontroversi pertama muncul pada babak kedua, ketika Ronaldo mengira telah mencetak gol penting untuk membawa Portugal menyamakan kedudukan. Berawal dari umpan silang diagonal João Cancelo ke kotak penalti, sang kapten Portugal mengontrol bola dengan sempurna sebelum melepaskan sepakan yang tak mampu dibendung kiper Kroasia, Dominik Livaković.

    Stadion sempat bergemuruh, tetapi hakim garis segera mengangkat bendera karena menilai Ronaldo berada dalam posisi off-side saat menerima umpan. Tayangan ulang memperlihatkan selisih yang sangat tipis, hanya terpaut posisi bahu, tetapi VAR tetap menguatkan keputusan di lapangan setelah pemeriksaan singkat.

    Gol yang dianulir tersebut membuat Portugal kembali gagal memecah kebuntuan, kendati tim asuhan Roberto Martínez terus menekan pertahanan Kroasia. Tak lama berselang, Kroasia justru lebih dahulu memimpin lewat gol Ivan Perišić, sebelum Ronaldo membalas lewat eksekusi penalti untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

    Kini, giliran gol Petar Sučić dari kubu Kroasia yang juga dianulir dengan alasan serupa, off-side ketat yang hanya bisa dipastikan lewat garis bantu digital.

    Drama off-side mencapai puncaknya pada masa injury time. Setelah gol Gonçalo Ramos pada menit ke-90+4 membawa Portugal unggul 2-1, Kroasia sempat merayakan gol penyeimbang lewat sepakan Joško Gvardiol pada menit ke-90+12. Gol itu bermula dari skema serangan balik cepat, ketika umpan silang Perišić membentur salah satu pemain sebelum bola jatuh ke kotak penalti.

    Dalam situasi tersebut, Mario Pašalić yang berada lebih dari satu badan di depan garis pertahanan terakhir Portugal berhasil mengontrol bola dan mengirimkan umpan pendek kepada Gvardiol, yang kemudian menaklukkan kiper Portugal dari jarak dekat.

    Sukacita Kroasia hanya bertahan sesaat. Wasit langsung mengarahkan tim video assistant referee untuk meninjau ulang proses serangan tersebut. Sempat muncul keraguan mengenai apakah bola yang jatuh ke Pašalić telah lebih dahulu tersentuh pemain Kroasia lain sebelum diteruskan, sebuah detail yang krusial karena dapat mengubah momen penentuan posisi offside itu sendiri.

    Setelah proses peninjauan berulang kali menggunakan garis bantu digital, wasit memastikan Pašalić memang telah berada dalam posisi off-side pada saat bola terakhir disentuh rekan setimnya, sehingga gol Gvardiol resmi dianulir dan skor 2-1 untuk keunggulan Portugal bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

    Teknologi SAOT di Balik Setiap Keputusan

    Perdebatan soal kapan tepatnya bola dianggap "dilepaskan" sebenarnya telah dijawab oleh sistem teknologi yang digunakan FIFA pada edisi Piala Dunia 2026 ini. Bola resmi turnamen, Adidas Trionda, dilengkapi sensor inertial measurement unit yang mencatat pergerakan bola hingga 500 kali per detik.

    Sensor inilah yang menjadi rujukan utama untuk menentukan momen presisi saat bola benar-benar disentuh atau ditendang oleh pemain, yang dalam istilah teknis disebut sebagai "kick point".

    Data dari bola tersebut kemudian dipadukan dengan sistem SAOT, yang menggunakan belasan kamera pelacak optik di setiap stadion serta model avatar tiga dimensi dari setiap pemain. Setiap pemain di turnamen ini telah dipindai tubuhnya sebelum kompetisi dimulai agar sistem dapat merekonstruksi posisi anggota tubuh secara akurat saat momen off-side terjadi.

    Untuk edisi 2026, ambang toleransi kesalahan sistem ini juga telah dipersempit, dari sebelumnya sekitar 50 sentimeter menjadi sekitar 10 sentimeter, sehingga mampu menangkap pelanggaran dengan margin yang jauh lebih ketat dibanding edisi-edisi sebelumnya.

    Dengan kombinasi data bola dan avatar pemain ini, sistem akan secara otomatis mengirim notifikasi kepada video match official begitu mendeteksi kemungkinan pelanggaran off-side, sebelum keputusan akhir tetap divalidasi oleh wasit manusia.

    Artinya, meski disebut "semi-otomatis", keputusan akhir tetap berada di tangan wasit, bukan sepenuhnya diserahkan kepada mesin.

    Baik kasus Ronaldo maupun kasus Pašalić-Gvardiol sama-sama melalui proses ini, di mana sistem memberi rekomendasi awal sebelum akhirnya dikonfirmasi ulang secara manual oleh tim VAR di ruang kontrol video.

    Portugal memastikan kemenangan dramatis 2-1 atas Kroasia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Sempat tertinggal lewat gol Ivan Perisic, Portugal menyamakan skor melalui penalti Cristiano Ronaldo sebelum Gonçalo Ramos mencetak gol kemenangan pada masa injury time. Laga berlangsung sengit, diwarnai badai petir, intervensi VAR, dua gol yang dianulir, serta peluang beruntun dari kedua tim. - (Beritasatu.com/Chatgpt)
    Portugal memastikan kemenangan dramatis 2-1 atas Kroasia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Sempat tertinggal lewat gol Ivan Perisic, Portugal menyamakan skor melalui penalti Cristiano Ronaldo sebelum Gonçalo Ramos mencetak gol kemenangan pada masa injury time. Laga berlangsung sengit, diwarnai badai petir, intervensi VAR, dua gol yang dianulir, serta peluang beruntun dari kedua tim. - (Beritasatu.com/Chatgpt)

    Pasal yang Mengatur Momen Bola Dilepaskan

    Kedua insiden off-side ini sebenarnya merujuk pada pasal yang sama, yakni Law 11 (Hukum 11) tentang Off-side dalam Laws of the Game yang diterbitkan IFAB, badan pembuat aturan resmi sepak bola dunia.

    Pada bagian kedua Law 11 yang mengatur "Offside Offence" (Pelanggaran Off-side), disebutkan bahwa posisi seorang pemain untuk keperluan penentuan offside dinilai pada saat bola dimainkan atau disentuh oleh rekan setimnya, bukan pada saat bola tersebut tiba di kaki penerima.

    Untuk kasus Ronaldo, IFAB memberikan penjelasan tambahan yang relevan, yakni titik kontak pertama saat bola "dimainkan" atau "disentuh" itulah yang harus dijadikan acuan wasit dan asisten wasit, bukan titik kontak terakhir.

    Dengan kata lain, argumen bahwa Ronaldo sebenarnya masih on-side jika diambil beberapa frame lebih awal justru bertentangan dengan semangat aturan tersebut, karena sistem SAOT memang dirancang untuk menangkap secara presisi titik kontak pertama saat bola disentuh oleh pengumpan, bukan titik beberapa saat sebelumnya.

    Sementara itu, pada kasus Pašalić, pasal yang sama juga menjadi dasar keputusan wasit. Seorang pemain yang berada dalam posisi off-side baru dapat dihukum apabila kemudian terlibat aktif dalam permainan, salah satunya dengan memainkan atau menyentuh bola yang dioper rekan setimnya.

    Pašalić jelas memenuhi kriteria "interfering with play" karena ia secara langsung mengontrol bola dan meneruskannya kepada Gvardiol saat berada dalam posisi off-side. Berdasarkan aturan ini, status on-side atau off-side penerima bola berikutnya menjadi tidak relevan lagi, sebab pelanggaran sudah terjadi lebih dahulu pada momen Pašalić menyentuh bola.

    Keraguan soal apakah bola sempat tersentuh pemain Kroasia lain sebelum sampai ke Pašalić juga telah diatur secara spesifik. Sesuai klarifikasi yang berlaku sejak musim 2025-2026, setiap kali bola disentuh oleh seorang rekan setim, momen itulah yang menjadi acuan baru untuk menilai posisi off-side pemain penerima berikutnya, bukan momen umpan pertama yang dilepaskan sebelumnya.

    Pengecualian dari aturan titik kontak pertama ini hanya berlaku pada situasi lemparan penjaga gawang, di mana titik kontak terakhir saat bola dilepaskan dari tangan kiper yang menjadi acuan, karena momen itu dianggap sebagai referensi yang lebih jelas dan konsisten.

    Kedua kasus ini pada akhirnya menjadi contoh nyata bagaimana teknologi presisi tinggi seperti SAOT, meski dirancang untuk mengurangi kontroversi, justru kerap memunculkan perdebatan baru di kalangan penonton. Margin toleransi yang kini hanya sekitar 10 sentimeter membuat keputusan-keputusan yang dahulu mungkin dianggap "wajar secara kasat mata" kini bisa dianulir hanya karena selisih posisi bahu atau sepersekian detik keterlambatan sentuhan bola.

    Bagi Kroasia, rentetan anulir gol ini berujung pahit karena mereka harus mengakui keunggulan Portugal dan mengakhiri perjalanan generasi terakhir Luka Modrić pada ajang Piala Dunia, sementara Portugal melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi Spanyol. Realitas baru ini pun harus mulai dipahami publik seiring makin masifnya penggunaan teknologi dalam pengambilan keputusan wasit di Piala Dunia 2026.

    Komentar
    Additional JS