Resah Bojan Hodak soal Sepak Bola Asia, Renungan Bagi Timnas Indonesia - Semua Halaman - Superball
Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers
Minggu, 19 Juli 2026 | 22:03 WIB
SUPERBALL.ID - Bojan Hodak mengungkap keresahan soal masa depan sepak bola Asia di Piala Dunia, Timnas Indonesia dapat banyak pelajaran.
Keresahan Bojan Hodak melihat fenomena sepak bola Asia yang masih kalah dari benua lainnya di ajang Piala Dunia.
Satu jawaban yang mungkin bisa menjadi renungan bagi seluruh negara di Asia, termasuk untuk Timnas Indonesia ke depannya.
Eks pelatih Persib Bandung asal Kroasia itu menekankan keberanian bagi seorang pemain dalam bertarung di atas lapangan pertandingan.
Hodak merasa sepak bola Asia terlalu banyak 'pemain baik' ketimbang 'petarung jalanan', itulah poin pertama perbedaan dengan benua Eropa atau Amerika.
"Sepak bola Asia membutuhkan lebih sedikit 'anak baik' dan lebih banyak petarung jalanan," kata Bojan Hodak.
"Pemain bermasalah sulit dikelola, tetapi mereka bisa memenangkan pertandingan untuk Anda," imbuhnya.
Hodak pun mencotohkan sejumlah negara sepak bola dengan para pemain 'berandalnya' mampu berada di level tertinggi dunia.
"Lihatlah Brasil dan Argentina. Mereka memiliki pemain dengan karakter seperti ini," kata Hodak lagi.
Baca Juga: Kata Bojan Hodak soal Anaknya Pilih Bela Timnas Malaysia: Padahal Saya Larang Dia Main Bola!
"Mereka tumbuh bermain sepak bola di mana Anda harus berjuang untuk segalanya."
"Anda harus memperebutkan tempat Anda, Anda harus bertahan dalam situasi sulit," imbuhnya.
Lebih lanjut, sejumlah nama-nama top Eropa dan Amerika pun disebutkan, mulai dari Messi hingga Zidane, para pemain 'bermasalah'.
"Ini menciptakan pemain dengan kepribadian yang kuat. Lihatlah para pemain top di seluruh dunia," kata Hodak melanjutkan.
"Mungkin Messi adalah satu pengecualian, tetapi semua yang lain, termasuk Ronaldo, Zlatan Ibrahimovic, Wayne Rooney, dan Zinedine Zidane, bermasalah."
"Mereka memiliki karakter dan tidak takut. Mereka ingin menang. Zidane memiliki lebih banyak kartu merah daripada Patrick Vieira, pemain terkuat di generasinya."
"Para pemain ini sulit dihadapi, tetapi mereka memenangkan pertandingan," imbuh Hodak.
Lantas apa yang membedakan? Hodak menyebut karakter, bahwa di Asia para pemain muda diajarkan untuk menghormati lawan.
Baca Juga: Koar-koar Perayaan Juara Persib Bandung Bikin Bojan Hodak Marah Besar, Dianggap Mengganggu Pemain
Pun demikian di akademi, jika ada pemain bermasalah langsung dikeluarkan, padahal menurut Hodak merekalah yang dapat menjadi pembeda di lapangan.
"Di banyak negara Asia, pemain muda diminta untuk tidak menimbulkan masalah. Mereka harus menghormati lawan, bersikap baik, dan mengikuti semua aturan."
"Akan tetapi dalam sepak bola, hal ini tidak selalu berhasil. Karakterlah yang memenangkan pertandingan."
"Di banyak akademi di Asia, pemain yang bermasalah akan dikeluarkan. Tetapi merekalah pemain yang dapat mengubah jalannya pertandingan karena mereka tidak peduli, mereka tidak takut tekanan dan mereka akan tampil maksimal ketika dibutuhkan," kata Hodak lagi.
Lalu, Hodak menarik kesimpulan terakhir bahwa hanya beberapa negara di Asia yang memiliki kualitas pemain liga-liga top dunia.
Usaha untuk mengejar level itu tetap ada tapi sulit dan jika dilakukan sekarang juga itu masih tetap dikatakan sangat terlambat.
"Masalahnya adalah kualitas. Hanya Jepang, Korea Selatan, dan Australia yang memiliki pemain di liga-liga top Eropa," kata Hodak lagi.
"Tim-tim lain, Iran, Uzbekistan, dan lainnya, tidak memiliki cukup pemain di Eropa. Jika Anda bermain di liga-liga kuat, Anda akan berkembang sebagai pemain."
"Sebagian besar pemain dari Asia tidak bermain di Eropa atau mereka datang ke Eropa terlalu terlambat Para pemain mulai bermain terlalu larut."
"Tidak ada liga, tidak ada pertandingan kompetitif di usia muda. Itulah sebabnya mereka jauh tertinggal dari pemain Eropa dan Amerika Selatan, terutama secara teknis dan taktis," pungkas Hodak.