Piala Dunia 2026 - Timnas Amerika Serikat Punya Metode Khusus untuk Siasati Ketegangan Adu Penalti - Semua Halaman - Superball
Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers
Kamis, 2 Juli 2026 | 12:00 WIB
Selebrasi para pemain Timnas Amerika Serikat setelah Folarin Balogun (nomor 20) mencetak gol ke gawang Paraguay di Piala Dunia 2026. (PATRICK T.FALLON/AFP)
SUPERBALL.ID - Timnas Amerika Serikat menggunakan teknologi gelombang otak untuk mensimulasikan tekanan adu penalti dalam sesi latihan mereka di Piala Dunia 2026.
Adu penalti kerap menjadi mimpi buruk bagi tim-tim besar dengan Timnas Jerman dan Timnas Belanda telah menjadi korbannya.
Dua tim raksasa Eropa itu harus rela tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 dengan cara yang sama, yakni kalah adu penalti.
Tidak ingin kasus serupa menimpa mereka, Timnas Amerika Serikat selaku tim tuan rumah telah menyiapkan metode khusus.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 - Portugal Vs Kroasia, Kans Cristiano Ronaldo Hapus Noda Hitam dalam Kariernya
Alih-alih hanya berlatih tendangan penalti dengan cara biasa, Amerika Serikat menggunakan teknologi pemantauan gelombang otak.
Teknologi tersebut digunakan untuk meningkatkan konsentrasi dan memilih opsi tendangan optimal bagi setiap pemain.
Menurut The Athletic, AS mulai menggunakan teknologi ini pada Januari 2025 di semua pemusatan latihan menjelang Piala Dunia.
Pelatih Mauricio Pochettino dan para asistennya telah bermitra dengan perusahaan teknologi asal Jerman, Neuro11.
Para pemain dilengkapi dengan perangkat berteknologi tinggi untuk memantau aktivitas otak selama tendangan penalti.
Selama sesi latihan, para pemain dipasangi sensor di kepala dan mengenakan alat di pinggang mereka sebelum mengambil tendangan penalti.
Sementara staf pelatih memutar sorakan, teriakan, dan menciptakan berbagai gangguan untuk mensimulasikan suasana pertandingan nyata.
Pochettino mengakui bahwa mustahil untuk sepenuhnya meniru tekanan psikologis, stres, dan ekspektasi adu penalti Piala Dunia.
Namun, ia berpendapat bahwa mensimulasikan kondisi serupa tetap membantu para pemain mempersiapkan diri dengan lebih baik.
Kapten Tim Ream mengatakan tujuan dari metode ini adalah untuk membantu pemain mencapai konsentrasi puncak sebelum mengambil tendangan penalti.
"Orang sering berbicara tentang konsentrasi puncak ketika semuanya tampak melambat," ujar bek berusia 38 tahun itu.
"Staf pelatih menjelaskan bahwa mereka dapat memantau gelombang otak dan membantu kami mencapai kondisi itu sebelum mengambil tendangan penalti," tambahnya.
Baca Juga: Hasil Piala Dunia 2026 - Folarin Balogun Ulangi Kisah Zinedine Zidane, Amerika Serikat Tekuk Bosnia
Sementara gelandang Diego Luna percaya bahwa hal terpenting adalah menjaga fokus penuh saat melakukan tembakan.
“Saat keadaan kacau, ada penonton, ada teriakan, ada kiper yang berada di bawah tekanan, penting untuk tetap fokus dan menemukan 'ruang aman' untuk diri sendiri di saat-saat tegang yang ekstrem."
"Saya telah berlatih dengan mesin itu tiga kali, dan setiap kali saya melakukan tendangan penalti dengan lebih baik," ujarnya.
Sebuah studi oleh para ilmuwan di Universitas Twente (Belanda), yang diterbitkan pada 2021, menjelaskan prinsip di balik teknologi ini.
Para ilmuwan menerapkan teknik serupa untuk memantau aktivitas otak pemain selama tendangan penalti.
Penelitian menunjukkan bahwa ketika seorang pemain melakukan tembakan dengan pola pikir yang rileks, area otak yang mengontrol gerakan menjadi lebih aktif.
Sebaliknya, ketika berada di bawah tekanan atau gangguan, korteks prefrontal atau area yang bertanggung jawab untuk perencanaan, analisis, dan pertimbangan konsekuensi menjadi lebih aktif.
Selain menilai tingkat konsentrasi, data yang dikumpulkan juga membantu staf pelatih menentukan arah tembakan optimal untuk setiap pemain.
"Data tersebut akan memberi tahu Anda sisi mana otak Anda bereaksi lebih baik saat menembak dan ke arah mana Anda merasa paling percaya diri," kata bek sayap Max Arfsten.
Jika seorang pemain merasa tidak nyaman di posisi tertentu, pelatih akan menyarankan alternatif yang lebih sesuai.
Jika seorang pemain tidak dapat tampil baik di posisi mana pun, kemungkinan besar mereka tidak akan dipilih untuk adu penalti.
Menurut bek sayap Sergino Dest, waktu dan upaya yang dicurahkan untuk menerapkan metode ini sepenuhnya sepadan karena mereka tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di Piala Dunia.