Pangeran yang Tak Pernah Jadi Raja, Neymar Resmi Berpamitan di Piala Dunia 2026 - Semua Halaman - Bolasport
Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers
Senin, 6 Juli 2026 | 08:44 WIB
BOLASPORT.COM - Neymar da Silva Santos Junior mengumumkan akhir perjalanannya bersama Timnas Brasil setelah tersingkir di Piala Dunia 2026.
Sang penyerang veteran tak kuasa menghindarkan Selecao dari pencapaian terburuknya dalam 36 tahun.
Timnas Brasil gugur pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 seusai dikalahkan Norwegia di Stadion MetLife, New Jersey, Minggu (5/7/2026).
Jala gawang Alisson Becker dikoyak dua kali oleh Erling Haaland.
Neymar sebatas memperkecil defisit melalui tendangan penalti di pengujung laga.
Brasil terpaksa menyudahi langkahnya di babak 16 besar, titik terendah mereka sejak Piala Dunia 1990.
Terpaksa pula Neymar mengakhiri aksi-aksinya lebih cepat dengan gol penutup ini.
Eks bintang Barcelona hanya mencicipi 37 menit tampil sepanjang penampilannya di Amerika Utara 2026.
Pelatih Carlo Ancelotti lebih sering menyimpan tenaganya di tengah kondisi fisik yang diragukan fit menjelang turnamen.
Neymar hanya turun dalam dua partai, yakni melawan Skotlandia dan Norwegia.
Beberapa bulan lalu, dia menyambut pemanggilannya kembali ke Timnas Brasil setelah tiga tahun absen dengan tangisan haru.
Tragisnya, kini dia berpamitan dengan uraian air mata pula setelah Brasil terdepak. Kali ini tangisannya menumpahkan rasa sedih yang teramat.
"Saya sudah berusaha, dan terus berusaha."
"Sekarang sudah berakhir. Dimulai di sini dan berakhir di sini," ucapnya singkat dalam percakapan dengan jurnalis Globo Esporte.
Baca Juga: Brasil Gugur di Piala Dunia 2026, Kenapa Bukan Vinicius Saja yang Ambil Penalti?
Dengan begitu, Neymar bisa disimpulkan menyudahi pengabdian 16 tahun bersama Timnas Brasil di Piala Dunia 2026.
Total, dia memberikan 80 gol dalam 130 penampilan untuk negaranya. Rekor sebagai raja gol sepanjang masa Selecao terus dipertajam.
Namun, Neymar tak pernah menjadi 'raja' sejati dengan memberi gelar juara Piala Dunia walaupun tampil dalam empat turnamen.
Bak seorang pangeran, dia tak pernah bisa naik pangkat guna meneruskan takhta generasi Ronaldo dkk yang mempersembahkan trofi terakhir pada 2002.
Lebih ironis, Neymar mencetak gol pertama dan terakhirnya bagi Timnas Brasil di arena yang sama, Stadion MetLife, New Jersey.
Enam belas tahun silam, dia menjalani debut sekaligus mengukir torehan pembuka dari rekor 80 golnya dalam laga persahabatan melawan Amerika Serikat.
Eks pelatih Timnas Brasil, Wanderley Luxemburgo, tidak menyalahkan kegagalan sang pemain bersinar di turnamen terakhirnya.
Pria yang menukangi Tim Samba pada 1998-2000 mengkritik keputusan Ancelotti lebih banyak menyimpan pemain terbaik dalam skuadnya.
Don Carlo juga dianggap terlalu takut meladeni permainan Timnas Norwegia dan mengkhianati filosofi bermain agresif ala Selecao.
"Ancelotti melakukan banyak kesalahan. Hanya memainkan Neymar di pertandingan ini ?"
"Kami tidak punya pemain yang lebih baik dari Neymar. Tim nasional mana pun di dunia pasti akan melindunginya."
"Seorang pelatih wajib merancang sistem untuk memaksimalkan potensi bintang utamanya, seperti yang dilakukan Norwegia terhadap Haaland dengan membiarkannya menunggu satu atau dua peluang."
"Namun di Brasil, dia justru diabaikan," keluh Luxemburgo.