Dulu Hanya Pengagum di Layar Kaca, Kini Tanjung Verde Siap Tantang Argentina di Panggung Piala Dunia - Republika
Bek Tanjung Verde Diney Borges mengidolakan Lionel Messi.
Rep: Fitriyanto
EPA/SAM WASSON Para pemain dan ofisial tim Tanjung Verde merayakan keberhasilan lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama puluhan tahun, warga Tanjung Verde hanya bisa menikmati kemegahan Piala Dunia dari depan layar televisi. Kini, negara kepulauan kecil di lepas pantai Afrika Barat itu bersiap menjalani salah satu momen terbesar dalam sejarah sepak bolanya, menghadapi juara bertahan Argentina pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Miami.
Bagi masyarakat Tanjung Verde, Piala Dunia bukan sekadar turnamen sepak bola. Pelatih Bubista mengisahkan, setiap edisi Piala Dunia selalu menjadi momen berkumpulnya keluarga untuk menyaksikan aksi para pemain terbaik dunia. Mereka tumbuh dengan mengidolakan para bintang Brasil maupun Argentina, tanpa pernah membayangkan suatu hari bisa berdiri di lapangan yang sama.
Salah satu kisah paling unik datang dari penjaga gawang Josimar Dias, atau yang akrab disapa Vozinha. Ia mengungkapkan ayahnya hampir menamainya Jorge Valdano, mengikuti nama penyerang Argentina yang menjadi juara dunia bersama Diego Maradona pada 1986. Keinginan itu urung terwujud karena saat itu pemerintah tidak mengizinkan penggunaan nama asing.
Kini, mimpi yang dahulu terasa mustahil berubah menjadi kenyataan. Tanjung Verde tampil untuk pertama kalinya di Piala Dunia dan langsung menciptakan sejarah dengan lolos ke babak gugur. Blue Sharks berhasil menahan imbang Spanyol dan menyingkirkan Uruguay untuk mengamankan tiket ke fase 32 besar.
Namun, tantangan berikutnya jauh lebih besar. Di hadapan mereka telah menunggu Argentina yang melaju sempurna dari fase grup. Tim asuhan Lionel Scaloni datang sebagai juara bertahan sekaligus salah satu favorit utama mempertahankan gelar, dipimpin Lionel Messi yang kembali tampil tajam sepanjang turnamen.
Meski demikian, Bubista menegaskan timnya tidak datang ke Miami hanya untuk menikmati suasana. Menurut dia, kesempatan menghadapi Argentina merupakan hadiah bagi seluruh rakyat Tanjung Verde. Namun, ketika peluit pertandingan dibunyikan, timnya akan bertanding dengan semangat yang sama seperti saat menghadapi lawan-lawan sebelumnya.
"Kami memiliki hubungan yang kuat dengan Argentina. Kesempatan bermain melawan mereka adalah hadiah bagi para pemain, tim, dan rakyat kami," ujar Bubista.
Halaman 2 / 2
Pelatih berusia 55 tahun itu menegaskan rasa hormat kepada Argentina tidak akan mengurangi ambisi timnya. Baginya, sepak bola selalu menyimpan kemungkinan menghadirkan kejutan selama sebuah tim mampu menjaga disiplin dan keyakinan sepanjang pertandingan.
"Kami sedang mewujudkan mimpi, tetapi ketika memasuki lapangan kami tidak bisa melihat siapa lawan kami. Kami akan menghadapi Argentina dengan cara yang sama seperti menghadapi Spanyol maupun lawan lainnya," kata Bubista.
Meski demikian, Bubista menyadari ancaman terbesar tentu datang dari Lionel Messi. Kapten Argentina itu sudah mengoleksi enam gol hanya dalam fase grup dan kembali menjadi pusat permainan Albiceleste. Bagi Bubista, menghadapi pemain yang dianggap banyak orang sebagai yang terbaik sepanjang masa merupakan kehormatan sekaligus ujian terbesar bagi timnya.
"Bagi kami, ini hak istimewa yang luar biasa menghadapi pemain yang dianggap sebagai yang terbaik sepanjang masa. Kami akan tetap bermain dengan karakter, disiplin, dan identitas kami sendiri," ujar dia.
Bek Diney Borges juga mengaku antusias menghadapi pertandingan tersebut. Seperti jutaan anak lainnya, ia tumbuh dengan menyaksikan aksi Messi di televisi. Kini, ia justru akan berusaha menghentikan pergerakan idolanya di lapangan.
"Tidak setiap hari Anda bisa bermain melawan Messi. Ini benar-benar mimpi masa kecil. Kami semua tumbuh dengan menyaksikan dia bermain," kata Diney.
Di atas kertas, Argentina memang jauh lebih diunggulkan. Namun Tanjung Verde datang tanpa beban setelah melampaui seluruh ekspektasi pada penampilan perdananya di Piala Dunia 2016. Blue Sharks berharap kisah indah mereka belum berakhir dan masih mampu menghadirkan kejutan lain di turnamen terbesar sepak bola dunia.
Berita Terkait
Mohamed Salah Pulih Tepat Waktu, Mesir Dapat Suntikan Tenaga Jelang Hadapi Australia
Sport - 2 jam yang lalu
Luis de la Fuente Puji Spanyol Hampir Sempurna
Sport - 4 jam yang lalu
Portugal Singkirkan Kroasia Lewat Drama VAR, Perjalanan Modric di Piala Dunia Berakhir
Sport - 4 jam yang lalu
Spanyol Gilas Austria 3-0, Amankan Tiket 16 Besar Piala Dunia 2026
Sport - 8 jam yang lalu
Rooney Puji Kane Sebagai Pahlawan Inggris, tapi Soroti Lubang Besar yang Ancam The Three Lions
Sport - 14 jam yang lalu